Adat Haidh Tetap dan Adat Haidh yang Berubah-ubah Kitab Risalatul Mahidh

Benangmerahdasi  – Adat Haidh Tetap dan Adat Haidh yang Berubah-ubah Kitab Risalatul Mahidh.

KAJIAN FIQIH WANITA
Kitab: RISALATUL MAHIDH
Bagian: 16
Oleh: Dede Amalia

Adat Haidh Tetap dan Adat Haidh yang Berubah-ubah Kitab Risalatul Mahidh

بسم الله الرحمن الرحيم

!V. MUSTAHADHOH MU’TADAH GHOIRU MUMAYYIZAH DZAKIROH LI’ADATIHA QODRON WA WAQTAN

Mustahadhoh yang ke empat yaitu Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakiroh Li’adatiha Qodron wa Waqtan yaitu wanita yang sudah pernah haidh dan suci sebelumnya, dan di waktu yang memungkinkan haidh dirinya mengeluarkan darah sampai melewati 15 hari, namun si wanita ini tidak bisa membedakan mana darah kuat dan mana darah lemah, atau bisa membedakan jenis darah namun darahnya tidak memenuhi syarat tamyiz seperti darah yang keluar hanya berupa satu warna. Maka cara menghukuminya yaitu dengan menggunakan adat atau kebiasaan haidh beserta sucinya baik secara kadar maupun waktunya.

> Jadi tidak hanya dengan menggunakan adat haidnya namun juga harus menyertakan adat sucinya, meskipun adat sucinya lama sampai lebih dari 30 hari atau bahkan sampai berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun.
Maka misal seorang wanita adat haidhnya 10 hari dan adat sucinya sampai 2 bulan maka adat tersebutlah yang digunakan untuk menghukumi ketika terjadi istihadhoh.

√ Dan adat/kebiasaan ini bisa ditetapkan (bisa dijadikan patokan) cukup dengan satu kali haidh dan suci.
Dengan demikian semisal ada seorang wanita yang sudah biasa haidh 5 hari kemudian suatu saat haidh 6 hari, lalu di bulan depannya mengalami istihadhoh maka haidh terakhirnya yang berjumlah 6 hari tersebut sudah bisa untuk menghukumi/dijadikan patokan. Karena adat haidh bisa ditetapkan cukup dengan satu kali haidh.

Maka dari itulah sangat penting sekali untuk para wanita mencatat waktu (jam + tanggal) haidh serta sucinya agar ketika mengalami istihadhoh dan kebetulan tidak mumayyizah agar tidak kebingungan mana adat haidh dan sucinya.

√ Dan adat haidh juga bisa di tetapkan dengan tamyiz, maksudnya misal seorang wanita mengalami istihadhoh sampai 30 hari, 10 hari berupa darah kuat sisanya 20 hari darah lemah maka yang dihukumi haidh adalah 10 hari darah kuat. Dan ternyata di bulan berikutnya mengalami istihadhoh lagi namun darah yang keluar mubham alias tidak jelas mana yang kuat dan mana yang lemah.

Maka dalam kasus ini dihukumi dengan menggunakan adat, adatnya yaitu dengan hukum tamyiz di bulan sebelumnya. Dengan demikian dalam kasus istihadhoh yang darahnya mubham/tidak jelas tadi yang dihukumi haidh adalah 10 hari dan sucinya 20 hari.

Baca Juga: Batasan masa suci yang memisahkan antara satu haidh dengan hadih berikutnya

Adat Haidh Tetap dan Adat Haidh yang Berubah-ubah Kitab Risalatul Mahidh

ADAT HAIDH TETAP (TIDAK IKHTILAF) & ADAT HAIDH YANG BERUBAH-UBAH (IKHTILAF)

Di atas sudah dijelaskan bahwa adat haidh bisa ditetapkan cukup dengan satu kali haidh dan suci, dalam artian haidh dan suci terakhir/siklus terakhirlah yang digunakan untuk menghukumi ketika terjadi istihadhoh.

Hukum ini berlaku pada wanita yang adat haidhnya tetap, pada wanita yang baru sekali mengalami haidh, dan pada wanita yang adat haidhnya berubah-ubah dengan serta si wanita tadi ingat siklus (haidh dan suci) terakhirnya.

Adapun pada adat haidh yang tidak tetap/berubah-ubah yang mana adat tersebut membentuk pola yang teratur baik dari kecil ke besar ataupun sebaliknya atau disebut dengan Intidzom, maka adat haidh yang berubah-ubah tersebut bisa ditetapkan untuk menghukumi ketika adat yang berubah-ubah tersebut terulang minimal dua kali atau disebut dengan Tikror

Contoh:
Seorang wanita di bulan januari haidh 3 hr, februari 5 hr, maret 7 hr, april 3 hr, mei 5 hr, juni 7 hr.
Maka adat haidh wanita tadi disebut intidzom/membentuk pola yaitu 3-5-7 sekaligus dikatakan tikror karena terulang lagi di bulan april, mei dan juninya. Maka ketika wanita ini di bulan juli dan seterusnya mengalami istihadhoh maka adat haidh 3-5-7 bisa ditetapkan untuk menghukumi. Dengan demikian istihadhoh di bulan juli yang dihukumi haidh 3 hr, di bulan agustus 5 hr, di bulan september 7 hr, di bulan oktober 3 hr dan seterusnya.

√ Walhasil Mustahadhoh Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakroh Li’adatiha Qodron wa Waqtan itu:

=> Ketika adatnya tetap : maka adatnya bisa ditetapkan dengan satu kali haidh dan suci (haidh dan suci terakhir sebelum mengalami istihadhoh).
Contoh: Seorang wanita biasa haidh 5 hr dan suci 25 hr, suatu saat mengalami haidh 6 hr dan suci 24 hr, ternyata di bulan depannya mengalami istihadhoh/keluar darah lebih dari 15 hari maka yang dihukumi haidh adalah 6 hr dan sisanya 24 hr dihukumi sebagai istihadhoh.

=> Ketika adatnya berubah-ubah : maka adat yang berubah-berubah tersebut bisa ditetapkan untuk menghukumi ketika membentuk pola yang teratur/intidzom dan juga terulang/tikror serta tidak lupa polanya.

Contoh:
Seorang wanita di bulan 1,2,3 haidh 6-8-10 hr dan suci 24-22-20 hr maka adat wanita ini sudah bisa dikatakan intidzom karena membentuk pola dari kecil ke besar. Dan ternyata dibulan selanjutnya yaitu bulan 4,5,6 pola haidh 6-8-10 hr dan suci 24-22-20 hr terulang kembali maka pola tersebut selain dikatakan intidzom juga sudah bisa dikatakan tikror.

Kemudian di bulan 7-12 mengalami istihadhoh dengan keluar darah terus menerus, maka adat haidh yang berubah-ubah yang membentuk pola 6-8-10 dan adat suci 24-22-20 tadi sudah bisa untuk menghukumi, dengan demikian pada bulan 7 yang dihukumi haidh adalah 6 hr suci 24 hr, bulan 8 : haidh 8 hr suci 22 hr, bulan 9 : haidh 10 hr suci 20 hr, bulan 10 : haidh 6 hr suci 24, bulan 11 : haidh 8 hr suci 22 hr, bulan 12 : haidh 10 hr suci 20 hr.

Melihat ketentuan di atas bahwa adat yang berubah-ubah bisa diterapkan untuk adat haidh ketika membentuk pola yang teratur/intidzom, terulang/tikror serta tidak lupa polanya, maka mengecualikan pada adat haidh yang berubah-ubah ketika:

1 => Adat haidh yang berubah-ubah tersebut membentuk pola/intidzom namun tidak terulang/tikror. Maka cara menghukuminya yaitu dengan menggunakan adat haidh terakhirnya (kembali ke hukum awal dimana adat haidh bisa ditetapkan dengan satu kali haidh alias dengan haidh terakhirnya dikarenakan adat haidh yang berubah-ubah ini tidak memenuhi syarat karena meski intidzom namun tidak terulang/tikror).

Contoh:
Seorang wanita di bulan ke 1,2,3 mengalami haidh 6-8-10 hr. Di bulan ke empatnya mengalami istihadhoh, maka cara menghukuminya yaitu dengan menggunakan adat haidh terakhirnya yaitu 10 hr. Dan hukum ini berlaku ketika pola yang terbentuk dari ke kecil ke besar. Sedangkan jika pola yang terbentuk dari besar ke kecil maka cara menghukuminya yaitu tetap dengan menggunakan adat haidh terakhirnya, hanya saja perlu ihtiyath.

Contoh:
Seorang wanita di bulan 1,2,3 mengalami haidh sebanyak 10-8-6 hr. Kemudian di bulan 4 nya mengalami istihadhoh, maka haidhnya dihukumi dengan adat haidh terakhirnya yaitu 6 hr. Namun harus ihtiyath di hari setelah hari ke 6. Maksud ihtiyath yaitu di hari setelah hari ke 6 terhukumi sebagian seperti orang yang haidh dan sebagian seperti orang yang suci.

Adat Haidh Tetap dan Adat Haidh yang Berubah-ubah Kitab Risalatul Mahidh

Jelasnya ihtiyath yaitu:
~ Tetap berkewajiban selayaknya orang yang suci seperti sholat puasa sampai selesainya hari ke 10, namun wajib mandi besar di setiap akhir hari ke 8 dan akhir hari ke 10 seperti halnya mandi pada akhir hari ke 6.
~ Haram melakukan jimak sampai selesainya hari ke 10.

√ Namun pendapat lain mengatakan pada kasus adat haidh yang membentuk pola/intidzom namun tidak terulang/tikror cara menghukumi ketika terjadi istihadhoh yaitu dengan menggunakan adat haidh terakhirnya secara mutlak tanpa perlu ihtiyaht baik pola tersebut terbentuk dari kecil ke besar ataupun besar ke kecil. Demikian juga pendapat ini pun berlaku pada kasus-kasus yang mana penghukumannya dengan cara dikembalikan pada adat haidh terakhirnya namun adat haidh terakhir tersebut merupakan jumlah yang lebih kecil dan terkecil sehingga menuntut adanya ihtiyath. (Dan saya sendiri lebih condong kepada pendapat ini).

2 => Selanjutnya ketika adat haidh yang berubah-ubah tersebut tidak membentuk pola/intidzom namun terulang/tikror. Maka cara menghukuminya dikembalikan pada adat haidh terakhirnya.

Contoh:
Seorang wanita di bulan 1,2,3 mengalami haidh sebanyak 8-6-10 hr, dan di bulan 4,5,6 haidh sebanyak 10-6-8 hr, dan di bulan 7-12 mengalami istihadhoh dengan keluar darah secara terus menerus, maka hukum haidhnya dari bulan 7-12 dikembalikan pada adat haidh terakhirnya yaitu 8 hr.

3 => Selanjutnya ketika adat yang berubah-ubah tersebut tidak diketahui/lupa baik lupa dari segi polanya ataupun lupa adat haidh terakhir sebelum terjadinya istihadhoh. Maka:

~ Jika yang tidak diketahui/lupa itu polanya, cara menghukuminya dikembalikan pada adat haidh terakhir sebelum mengalami istihadhoh jika memang ingat.

Contoh:
Seorang wanita di bulan 1,2,3 mengalami haidh sejumlah 10-8-6 hr dan di bulan 4,5,6 pola tersebut terulang lagi dengan demikian haidh sejumlah 10-8-6 hr (intidzom sekaligus tikror), di bulan ke 7 dan seterusnya mengalami istihadhoh namun wanita tersebut lupa urutan pola sebenarnya hanya ingat haidh terakhir sebelum mengalami istihadhoh yaitu 6 hr. Maka hukum haidhnya dari bulan 7 dan seterusnya dikembalikan ke adat haidh terakhir sebelum mengalami istihadhoh tersebut yaitu 6 hr.

~ Jika yang tidak diketahui/lupa itu adat terakhir sebelum mengalami istihadhoh baik adat tersebut membentuk pola dan terulang seperti bentuk contoh di atas (intidzom+tikror) ataupun hanya berpola namun tidak terulang (intidzom namun tidak tikror) ataupun terulang tapi tidak berpola (tikror namun tidak intidzom), maka hukum haidhnya dikembalikan pada adat haidh terkecil wanita musthadhoh tadi dan harus ihtiyath di hari setelahnya.

Contoh:
Seorang wanita bernama Hindun di bulan 1,2,3,4,5,6 haidh sejumlah 6-8-10-6-8-10, dan di bulan 7 dan seterusnya mengalami istihadhoh dengan keluar darah secara terus menerus, namun wanita tadi lupa urutan pola sekaligus haidh terakhir sebelum mengalami istihadhoh.

Atau seorang wanita bernama Zainab di bulan 1,2,3 haidh sejumlah 6-8-10 dan di bulan 4 mengalami istihadhoh, namun wanita tadi lupa adat haidh terakhir sebelum mengalami istihadhoh.

Atau seorang wanita bernama Ruqoyah di bulan 1,2,3,4,5,6 haidh sejumlah 6-10-8-10-6-8, dan di bulan 7 mengalami istihadhoh, namun wanita tadi lupa adat haidh terakhir sebelum mengalami istihadhoh.

Maka cara menghukumi pada kasus istihadhoh yang dialami Hindun, Zainab, dan Ruqoyah adalah dikembalikan ke adat haidh terkecil yaitu 6 hr, dan perlu ihtiyath (terhukumi sebagian seperti orang yang suci dan sebagian seperti orang yang haidh) di hari setelah 6 berarti hari ke 7-10.

Adat Haidh Tetap dan Adat Haidh yang Berubah-ubah Kitab Risalatul Mahidh

Baca Juga: Definisi Nifas dan Perhitungan masa nifas

Referensi:
حاشية الباجورى ج ١ ص ١١١:
الصورة الرابعة هي المعتادة بأن سبق لها حيض وطهر كما مر غير المميزة بأن تراه بصفة كما مر أيضا الذكرة لعادتها قدرا ووقتا فترد اليها قدرا ووقتا فلو حاضت في شهر خمسة أيام من أوله مثلا ثم استحيضت فحيضها هو الخمسة في أول الشهر وطهرها بقية الشهر عملا بعدتها وإن لم تتكرر لأن العادة تثبت بمرة إن لم تختلف فإن اختلفت فلا تثبت بمرة

المجموع شرح المهذب ج ٢ ص ٤١٦:
ﻗﺎﻝ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻭﺳﻮاء ﻛﺎﻧﺖ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﺃﻗﻞ اﻟﺤﻴﺾ ﻭاﻟﻄﻬﺮ ﺃﻭ ﻏﺎﻟﺒﻬﻤﺎ ﺃﻭ اﻗﻞ اﻟﻄﻬﺮ ﻭﺃﻛﺜﺮ اﻟﺤﻴﺾ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻭﺳﻮاء ﻗﺼﺮﺕ ﻣﺪﺓ اﻟﻄﻬﺮ ﺃﻭ ﻃﺎﻟﺖ ﻃﻮﻻ ﻣﺘﺒﺎﻋﺪا ﻓﺘﺮﺩ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ اﻋﺘﺎﺩﺗﻪ ﻣﻦ اﻟﺤﻴﺾ ﻭاﻟﻄﻬﺮ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﺩﻭﺭﻫﺎ ﺃﻱ ﻗﺪﺭ ﻛﺎﻥ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﺃﻥ ﺗﺤﻴﺾ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻟﻴﻠﺔ ﻭﺗﻄﻬﺮ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﺛﻢ ﻳﻌﻮﺩ اﻟﺤﻴﺾ ﻓﻲ اﻟﺴﺎﺑﻊ ﻋﺸﺮ ﻭاﻟﻄﻬﺮ ﻓﻲ اﻟﺜﺎﻣﻦ ﻋﺸﺮ ﻭﻫﻜﺬا ﻓﺪﻭﺭﻫﺎ ﺳﺘﺔ ﻋﺸﺮ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﺤﻴﺾ ﺧﻤﺴﺔ ﻭﺗﻄﻬﺮ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻓﺪﻭﺭﻫﺎ ﻋﺸﺮﻭﻥ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﺤﻴﺾ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻭﺗﻄﻬﺮ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻓﺪﻭﺭﻫﺎ ﺛﻼﺛﻮﻥ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﺤﻴﺾ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﺗﻄﻬﺮ ﺗﺴﻌﺔ ﻭﺛﻤﺎﻧﻴﻦ ﻓﺪﻭﺭﻫﺎ ﺗﺴﻌﻮﻥ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﺤﻴﺾ ﻳﻮﻣﺎ ﺃﻭ ﺧﻤﺴﺔ ﺃﻭ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻭﺗﻄﻬﺮ ﺗﻤﺎﻡ ﺳﻨﺔ ﻓﺪﻭﺭﻫﺎ ﺳﻨﺔ ﻭﻛﺬ ﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﻄﻬﺮ ﺗﻤﺎﻡ ﺳﻨﺘﻴﻦ ﻓﺪﻭﺭﻫﺎ ﺳﻨﺘﺎﻥ ﻭﻛﺬا ﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﻄﻬﺮ ﺗﻤﺎﻡ ﺧﻤﺲ ﺳﻨﻴﻦ ﻓﺪﻭﺭﻫﺎ
ﺧﻤﺲ ﺳﻨﻴﻦ ﻭﻛﺬا ﺇﻥ ﺯاﺩ ﻭﻫﺬا اﻟﺬﻱ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ ﻣﻦ ﺃﻥ اﻟﺪﻭﺭ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﺃﻭ ﺳﻨﺘﻴﻦ ﺃﻭ ﺧﻤﺲ ﺳﻨﻴﻦ ﺃﻭ ﺃﻛﺜﺮ ﻭﺗﺮﺩ ﺇﻟﻴﻪ ﻫﻮ اﻟﺼﺤﻴﺢ اﻟﻤﺸﻬﻮﺭ ﻭﺑﻪ ﻗﻄﻊ اﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﻭﻣﻤﻦ ﺻﺮﺡ ﺑﻪ اﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﺣﺎﻣﺪ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻴﻘﻪ ﻭاﻟﻤﺤﺎﻣﻠﻲ ﻓﻲ اﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﻭﺻﺎﺣﺐ اﻟﺘﺘﻤﺔ ﻭﺁﺧﺮﻭﻥ

المجموع شرح المهذب ج ٢ ص ٤١٩-٤٢٠:
ﻭﺗﺜﺒﺖ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﺑﺎﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﻛﻤﺎ ﺗﺜﺒﺖ ﺑﺎﻧﻘﻄﺎﻉ اﻟﺪﻡ ﻓﺈﺫا ﺭﺃﺕ اﻟﻤﺒﺘﺪﺃﺓ ﺧﻤﺴﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺩﻣﺎ ﺃﺳﻮﺩ ﺛﻢ ﺃﺻﻔﺮ ﻭاﺗﺼﻞ ﺛﻢ ﺭﺃﺕ ﻓﻲ اﻟﺸﻬﺮ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﺩﻣﺎ ﻣﺒﻬﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﺃﻳﺎﻡ اﻟﺴﻮاﺩ]
[ اﻟﺸﺮﺡ]
ﻫﺬا اﻟﺬﻱ ﺫﻛﺮﻩ ﻣﻦ ﺛﺒﻮﺕ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﺑﺎﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﻫﻮ اﻟﺼﺤﻴﺢ اﻟﻤﺸﻬﻮﺭ ﻭﺑﻪ ﻗﻄﻊ اﻷﺻﺤﺎﺏ ﻓﻲ اﻟﻄﺮﻳﻘﺘﻴﻦ ﻭﺣﻜﻰ ﺇﻣﺎﻡ اﻟﺤﺮﻣﻴﻦ ﻭﺟﻬﺎ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺗﺜﺒﺖ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﺑﺎﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺑﻞ ﻣﺘﻰ اﻧﺨﺮﻡ اﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﻭﺃﻃﺒﻖ اﻟﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﻟﻮﻥ ﻭاﺣﺪ ﻛﺎﻧﺖ ﻛﻤﺒﺘﺪﺃﺓ ﻟﻢ ﺗﻤﻴﺰ ﻗﻂ ﻭﻓﻴﻬﺎ اﻟﻘﻮﻻﻥ ﻭاﻟﺼﻮاﺏ اﻷﻭﻝ: ﺛﻢ اﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﻓﻲ اﻟﻄﺮﻕ ﻛﻠﻬﺎ ﺃﻃﻠﻘﻮا اﻟﻘﻮﻝ ﺑﺎﻟﺮﺟﻮﻉ ﺇﻟﻰ اﻟﻌﺎﺩﺓ اﻟﺘﻤﻴﻴﺰﻳﺔ: ﻭﻗﺎﻝ اﻟﻤﺘﻮﻟﻲ ﻭاﻟﺴﺮﺧﺴﻲ ﻻ ﺗﺮﺟﻊ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺇﻻ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ اﻟﺤﻴﺾ ﻭاﻟﻄﻬﺮ ﻓﻴﻬﺎ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻓﻤﺎ ﺩﻭﻧﻬﺎ ﻓﺈﻥ ﺯاﺩ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻠﺘﻤﻴﻴﺰ ﺣﻜﻢ ﺑﻨﺎء ﻋﻠﻰ اﻟﻮﺟﻪ اﻟﻀﻌﻴﻒ ﻓﻲ اﺷﺘﺮاﻁ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ اﻟﻌﻤﻞ ﺑﺎﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﻭﻫﺬا ﺷﺎﺫ ﻣﺘﺮﻭﻙ ﻭاﻟﺼﻮاﺏ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻓﺮﻕ ﻗﺎﻝ اﻟﻘﺎﺿﻲ ﺃﺑﻮ اﻟﻄﻴﺐ ﻭاﻷﺻﺤﺎﺏ ﻭﺇﺫا ﺭﺃﺕ ﺑﻌﺪ ﺷﻬﺮ اﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺩﻣﺎ ﻣﺒﻬﻤﺎ اﻏﺘﺴﻠﺖ ﺑﻌﺪ ﻣﻀﻲ ﻗﺪﺭ ﺃﻳﺎﻡ اﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﻭﺻﻠﺖ
ﻭﺻﺎﻣﺖ ﻭﻓﻌﻠﺖ ﻣﺎ ﺗﻔﻌﻠﻪ اﻟﻄﺎﻫﺮﺓ اﻟﻤﺴﺘﺤﺎﺿﺔ ﻭﻻ ﺗﻤﺴﻚ ﺇﻟﻰ اﻟﺨﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﺑﺨﻼﻑ اﻟﺸﻬﺮ اﻷﻭﻝﻷﻧﺎ ﻗﺪ ﻋﻠﻤﻨﺎ اﺳﺘﺤﺎﺿﺘﻬﺎ ﻭﻫﻜﺬا ﻓﻲ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ ﺗﻐﺘﺴﻞ ﺑﻌﺪ ﻣﻀﻲ ﻗﺪﺭ اﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﻓﺈﻥ اﻧﻘﻄﻊ اﻟﺪﻡ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ اﻟﺸﻬﻮﺭ ﻗﺒﻞ ﻣﺠﺎﻭﺯﺓ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻓﺠﻤﻴﻊ ﻣﺎ ﺭﺃﺗﻪ ﻓﻲ ﻫﺬا اﻟﺸﻬﺮ ﺣﻴﺾ

Adat Haidh Tetap dan Adat Haidh yang Berubah-ubah Kitab Risalatul Mahidh

حاشية الجمل على شرح المنهج ج ١ ٢٥٠-٢٥٢:
ﻗﻮﻟﻪ ﻓﺘﺮﺩ ﺇﻟﻴﻬﻤﺎ) ﻭاﻋﻠﻢ ﺃﻥ اﻟﻤﻌﺘﺎﺩﺓ ﺇﺫا ﺟﺎﻭﺯ ﺩﻣﻬﺎ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﺃﻣﺴﻜﺖ ﻋﻤﺎ ﺗﻤﺴﻚ ﻋﻨﻪ اﻟﺤﺎﺋﺾ ﻗﻄﻌﺎ ﻻﺣﺘﻤﺎﻝ اﻧﻘﻄﺎﻋﻪ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺱ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻓﺄﻗﻞ ﻓﺎﻟﻜﻞ ﺣﻴﺾ، ﻭﺇﻥ ﻋﺒﺮﻫﺎ ﻗﻀﺖ ﻣﺎ ﻭﺭاء ﻗﺪﺭ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﻓﻲ اﻟﺪﻭﺭ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻭﻣﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﺇﺫا ﻋﺒﺮ ﺃﻳﺎﻡ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ اﻏﺘﺴﻠﺖ ﻭﺻﺎﻣﺖ ﻭﺻﻠﺖ ﻟﻈﻬﻮﺭ اﻻﺳﺘﺤﺎﺿﺔ؛ ﻷﻧﻬﺎ ﺗﺜﺒﺖ ﺑﻤﺮﺓ ﺟﺰﻣﺎ ﻭﻻ ﻓﺮﻕ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﺃﻥ ﺗﺤﻴﺾ ﺃﻳﺎﻣﺎ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ ﺃﻭ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺳﻨﺔ ﺃﻭ ﺃﻛﺜﺮ ﻭﺷﻤﻞ ﻛﻼﻣﻬﻢ ﻫﻨﺎ ﺇﻻ ﺁﻳﺴﺔ ﺇﺫا ﺣﺎﺿﺖ ﻭﺟﺎﻭﺯ ﺩﻣﻬﺎ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻓﺘﺮﺩ ﻟﻌﺎﺩﺗﻬﺎ ﻗﺒﻞ اﻟﻴﺄﺱ ﻟﻤﺎ ﺳﻴﺄﺗﻲ ﻓﻲ اﻟﻌﺪﺩ ﺃﻧﻬﺎ ﺗﺤﻴﺾ ﺑﺮﺅﻳﺔ اﻟﺪﻡ ﻭﻳﺘﺒﻴﻦ ﺃﻧﻬﺎ ﻏﻴﺮ ﺁﻳﺴﺔ ﻓﻠﺰﻡ ﻛﻮﻧﻬﺎ ﻣﺴﺘﺤﺎﺿﺔ ﺑﻤﺠﺎﻭﺯﺓ ﺩﻣﻬﺎ اﻷﻛﺜﺮ اﻩـ ﺷﺮﺡ ﻣ ﺭ (ﻗﻮﻟﻪ: ﻗﺪﺭا ﻭﻭﻗﺘﺎ) ﺃﻱ، ﻭﺇﻥ ﺑﻠﻐﺖ ﺳﻦ اﻟﻴﺄﺱ ﺃﻭ ﺯاﺩ ﺩﻭﺭﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﺗﺴﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻛﺄﻥ ﻟﻢ ﺗﺤﺾ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺳﻨﺔ ﺇﻻ ﺧﻤﺴﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻓﻬﻲ اﻟﺤﻴﺾ ﻭﺑﺎﻗﻲ اﻟﺴﻨﺔ ﻃﻬﺮ اﻩـ ﺑﺮﻣﺎﻭﻱ.

(ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺗﺜﺒﺖ اﻟﻌﺎﺩﺓ) ﻫﻲ ﺗﻜﺮﺭ اﻟﺸﻲء ﻋﻠﻰ ﻧﻬﺞ ﻭاﺣﺪ اﻩـ ﺑﺮﻣﺎﻭﻱ ﻟﻜﻦ ﻫﺬا اﻟﺘﻌﺮﻳﻒ ﻻ ﻳﻨﻄﺒﻖ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻝ اﻟﻤﺘﻦ ﻭﺗﺜﺒﺖ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﺑﻤﺮﺓ ﺧﺼﻮﺻﺎ ﻣﻊ ﺗﻤﺜﻴﻞ اﻟﺸﺎﺭﺡ ﻟﻪ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﻓﻤﻦ ﺣﺎﺿﺖ ﻓﻲ ﺷﻬﺮ ﺧﻤﺴﺔ ﺇﻟﺦ ﻓﺎﻟﺨﻤﺴﺔ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻟﺼﻮﺭﺓ ﻟﻢ ﺗﺘﻜﺮﺭ ﻓﻠﻌﻞ ﺗﺴﻤﻴﺔ اﻟﻔﻘﻬﺎء ﻟﻤﺜﻞ ﻫﺬا ﻋﺎﺩﺓ ﻣﺠﺮﺩ اﺻﻄﻼﺡ ﻭﺇﻻ ﻓﻔﻲ اﻟﻠﻐﺔ ﻣﺎ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻗﺎﻟﻪ اﻟﺒﺮﻣﺎﻭﻱ ﻓﻔﻲ اﻟﻤﺼﺒﺎﺡ ﻭاﻟﻌﺎﺩﺓ ﻣﻌﺮﻭﻓﺔ ﻭاﻟﺠﻤﻊ ﻋﺎﺩ ﻭﻋﺎﺩاﺕ ﻭﻋﻮاﺋﺪ ﺳﻤﻴﺖ ﺑﺬﻟﻚ؛ ﻷﻥ ﺻﺎﺣﺒﻬﺎ ﻳﻌﺎﻭﺩﻫﺎ ﺃﻱ ﻳﺮﺟﻊ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻣﺮﺓ ﺑﻌﺪ ﻣﺮﺓ ﻭﻋﻮﺩﺗﻪ ﻛﺬا ﻓﺎﻋﺘﺎﺩﻩ ﻭﺗﻌﻮﺩﻩ ﺃﻱ ﺻﻴﺮﺗﻪ ﻟﻪ ﻋﺎﺩﺓ اﻩـ.

(ﻗﻮﻟﻪ: ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺨﺘﻠﻒ) ﻫﻼ ﻗﺎﻝ ﺑﺸﺮﻁ ﺯﺩﺗﻪ ﺑﻘﻮﻟﻲ ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺨﺘﻠﻒ ﻛﺴﺎﺑﻘﻪ ﻣﻊ ﺃﻥ ﻫﺬا ﻣﻦ ﺯﻳﺎﺩﺗﻪ ﻛﻤﺎ ﻧﺒﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﻌﺪ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﻭﺧﺮﺝ ﺑﺰﻳﺎﺩﺗﻲ ﺇﻟﺦ اﻩـ ﻟﻜﺎﺗﺒﻪ (ﻗﻮﻟﻪ: ﻷﻧﻬﺎ ﻓﻲ ﻣﻘﺎﺑﻠﺔ اﻻﺑﺘﺪاء) ﺃﻱ ﻭاﻟﻤﻘﺎﺑﻠﺔ ﺗﺤﺼﻞ ﺑﻤﺮﺓ ﺃﻱ ﻷﻧﻬﺎ ﻣﺄﺧﻮﺫﺓ ﻓﻲ ﻣﻘﺎﺑﻠﺔ اﻻﺑﺘﺪاء ﺃﻱ ﻣﻨﺎﻓﻴﺔ ﻟﻪ اﻩـ ﺷﻴﺨﻨﺎ (ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺧﺮﺝ ﺑﺰﻳﺎﺩﺗﻲ ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺨﺘﻠﻒ ﻣﺎ ﻟﻮ اﺧﺘﻠﻔﺖ) ﺃﻱ ﻓﻼ ﺗﺜﺒﺖ ﺇﻻ ﺑﻤﺮﺗﻴﻦ ﻫﺬا ﺣﻜﻢ اﻟﻤﻔﻬﻮﻡ ﻭﺫﻛﺮ ﻟﻪ ﺳﺒﻊ ﺻﻮﺭ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻣﻨﻬﺎ ﻗﺪ ﺗﻜﺮﺭﺕ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﺣﺘﻰ ﻓﻲ ﺻﻮﺭﺓ ﻋﺪﻡ ﺗﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ ﺑﺄﻥ ﺣﺎﺿﺖ ﺛﻼﺛﺔ ﺛﻢ ﺧﻤﺴﺔ ﺛﻢ ﺳﺒﻌﺔ ﻓﺎﻟﻌﺎﺩﺓ ﻣﺘﻜﺮﺭﺓ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﺨﺘﻠﻔﺔ، ﻭﻗﺪ ﺑﻴﻦ اﻟﺴﺒﻌﺔ ﺑﻘﻮﻟﻪ، ﻓﺈﻥ ﺗﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ ﺇﻟﺦ ﻫﺬﻩ ﺻﻮﺭﺓ ﻭﺑﻘﻮﻟﻪ ﺃﻭ ﻟﻢ ﺗﻨﺘﻈﻢ ﺃﻭ ﻟﻢ ﻳﺘﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ ﻫﺎﺗﺎﻥ ﺻﻮﺭﺗﺎﻥ ﻭﺑﻘﻮﻟﻪ ﺃﻭ ﻟﻢ ﺗﻨﺴﻬﺎ ﺇﻟﺦ ﻓﻴﻪ ﺛﻼﺙ ﺻﻮﺭ؛ ﻷﻧﻪ ﻣﺤﺘﺮﺯ ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻧﺴﻴﺖ اﻟﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ اﻟﺮاﺟﻊ ﻟﻠﺜﻼﺛﺔ ﻭﺑﻘﻮﻟﻪ ﺃﻭ ﻟﻢ ﺗﻨﺲ اﻧﺘﻈﺎﻡ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﻓﻴﻪ ﺻﻮﺭﺓ ﻭاﺣﺪﺓ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻟﻢ ﺗﺜﺒﺖ ﺇﻻ ﺑﻤﺮﺗﻴﻦ ﺭاﺟﻊ ﻟﻠﺼﻮﺭﺓ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﻭﻫﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺃﻭ ﻟﻢ ﺗﻨﺲ اﻧﺘﻈﺎﻡ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﻛﻤﺎ ﻳﻘﺘﻀﻴﻪ ﺳﻴﺎﻗﻪ ﻓﻜﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﺬﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﺃﻭﻝ ﺻﻮﺭ اﻟﻤﻔﺎﻫﻴﻢ ﻛﻠﻬﺎ؛ ﻷﻥ ﺻﻨﻴﻌﻪ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﺃﻧﻪ ﺧﺎﺹ ﺑﺎﻷﺧﻴﺮﺓ ﺣﺘﻰ ﻓﻬﻢ ﻣﻨﻪ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺃﻥ ﻓﻲ اﻟﻤﻔﻬﻮﻡ ﺗﻔﺼﻴﻼ ﺃﻱ، ﻓﺈﻥ اﺧﺘﻠﻔﺖ ﻟﻢ ﺗﺜﺒﺖ ﺇﻻ ﺑﻤﺮﺗﻴﻦ ﻓﺄﻛﺜﺮ ﻭﺫﻟﻚ ﻓﻲ اﻟﺼﻮﺭﺓ اﻟﺴﺎﺑﻌﺔ ﺩﻭﻥ اﻟﺴﺘﺔ ﻗﺒﻠﻬﺎ ﻓﺤﻖ اﻟﺘﻌﺒﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻭﺧﺮﺝ ﺑﺰﻳﺎﺩﺗﻲ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﻣﺎ ﻟﻮ اﺧﺘﻠﻔﺖ، ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻻ ﺗﺜﺒﺖ ﺇﻻ ﺑﻤﺮﺗﻴﻦ ﻓﺄﻛﺜﺮ ﺛﻢ ﻳﺘﻜﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻛﻮﻧﻬﺎ ﺗﺤﻴﺾ ﺃﻗﻞ اﻟﻨﻮﺏ ﺃﻭ اﻟﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﺗﺄﻣﻞ اﻩـ ﻟﻜﺎﺗﺒﻪ (ﻗﻮﻟﻪ: ﻓﺈﻥ ﺗﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ ﺇﻟﺦ) اﻟﻤﺮاﺩ ﺑﺎﻟﺪﻭﺭ ﻓﻴﻤﻦ ﻟﻢ ﺗﺨﺘﻠﻒ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﻫﻮ اﻟﻤﺪﺓ اﻟﺘﻲ ﺗﺸﺘﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺣﻴﺾ ﻭﻃﻬﺮ ﻭﻓﻴﻤﻦ اﺧﺘﻠﻔﺖ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﻫﻮ ﺟﻤﻠﺔ اﻷﺷﻬﺮ اﻟﻤﺸﺘﻤﻠﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﻌﺎﺩاﺕ اﻟﻤﺨﺘﻠﻔﺔ ﻛﺜﺮﺕ اﻷﺷﻬﺮ ﺃﻭ ﻗﻠﺖ اﻩـ ﻋ ﺷ ﻋﻠﻰ ﻣ ﺭ (ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻧﺴﻴﺖ اﻧﺘﻈﺎﻣﻬﺎ) ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﺗﺪﺭ ﻫﻞ ﺗﺮﺗﺐ اﻟﺪﻭﺭ ﻓﻲ ﻧﺤﻮ اﻟﻤﺜﺎﻝ اﻵﺗﻲ ﻫﻜﺬا اﻟﺜﻼﺛﺔ ﺛﻢ اﻟﺨﻤﺴﺔ ﺛﻢ اﻟﺴﺒﻌﺔ ﺃﻭ ﺑﺎﻟﻌﻜﺲ ﺃﻭ اﻟﺨﻤﺴﺔ ﺛﻢ اﻟﺜﻼﺛﺔ ﺛﻢ اﻟﺴﺒﻌﺔ ﺃﻭ ﺑﺎﻟﻌﻜﺲ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ اﻟﻮﺟﻮﻩ اﻟﻤﻤﻜﻨﺔ ﺗﺄﻣﻞ اﻩـ ﻋ ﺷ.
(ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻧﺴﻴﺖ اﻟﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﻓﻴﻬﻤﺎ) ﺃﻱ ﻓﻲ اﻟﺘﻜﺮﺭ ﻭﻋﺪﻣﻪ ﻭاﻟﺘﻜﺮﺭ ﻓﻴﻪ ﺻﻮﺭﺗﺎﻥ ﻓﺎﻟﻤﺴﺎﺋﻞ ﺛﻼﺛﺔ ﻭﺣﻴﻨﺌﺬ ﺗﺴﺎﻭﻱ ﻫﺬﻩ اﻟﻨﺴﺨﺔ ﻧﺴﺨﺔ ﻓﻴﻬﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﻣﻴﻢ ﻛﻤﺎ ﻗﺮﺭﻩ اﻟﺰﻳﺎﺩﻱ ﻭﻓﻴﻪ ﻧﻈﺮ؛ ﻷﻥ ﻓﻲ ﺻﻮﺭﺓ اﻟﺘﻜﺮﺭ ﻭاﻻﻧﺘﻈﺎﻡ ﻭﻧﺴﻴﺎﻥ اﻻﻧﺘﻈﺎﻡ ﺑﺤﻴﻀﻬﺎ ﺃﻗﻞ اﻟﻨﻮﺏ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺫاﻛﺮﺓ ﻟﻠﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﻭﻛﺘﺐ ﺃﻳﻀﺎ ﻗﻮﻟﻪ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﺇﺫا ﺗﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ ﻭﻟﻢ ﺗﻨﺘﻈﻢ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﺃﻭ ﻟﻢ ﻳﺘﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ ﺑﺎﻟﻜﻠﻴﺔ، ﻭﺃﻣﺎ ﺇﺫا ﺗﻜﺮﺭ ﻭاﻧﺘﻈﻤﺖ ﻭﻧﺴﻴﺖ اﻧﺘﻈﺎﻣﻪ ﻓﺘﺤﻴﻀﻬﺎ ﺃﻗﻞ اﻟﻨﻮﺏ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺫاﻛﺮﺓ ﻟﻠﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ اﻩـ ﺣ ﻟ ﻭاﻋﺘﻤﺪﻩ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﺣ ﻓ (ﻗﻮﻟﻪ: ﻭاﺣﺘﺎﻃﺖ ﻓﻲ اﻟﺰاﺋﺪ) ﺃﻱ ﻓﻲ اﻟﻨﻮﺏ ﻓﺘﺤﺘﺎﻁ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮ ﺃﻛﺜﺮ اﻟﻌﺎﺩاﺕ ﻓﺘﻐﺘﺴﻞ ﺁﺧﺮ ﻛﻞ ﻧﻮﺑﺔ ﻻﺣﺘﻤﺎﻝ اﻧﻘﻄﺎﻉ ﺩﻣﻬﺎ ﻋﻨﺪﻩ اﻩـ ﺣ ﻟ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻛﻤﺎ ﻳﻌﻠﻢ ﻣﻤﺎ ﺳﻴﺄﺗﻲ ﺃﻱ ﻓﻲ اﻟﻤﺘﺤﻴﺮﺓ ﺣﻴﺚ ﻗﺎﻝ ﻓﻜﺤﺎﺋﺾ ﻻ ﻓﻲ ﻃﻼﻕ ﺇﻟﺦ ﻓﺎﻟﻤﺮاﺩ ﺑﻬﺬا اﻻﺣﺘﻴﺎﻁ ﺃﻧﻬﺎ ﺗﻐﺘﺴﻞ ﻋﻨﺪ ﻛﻞ ﻧﻮﺑﺔ ﻣﻦ اﻟﺰاﺋﺪ ﻭﺗﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻟﻤﺪﺓ ﻛﺤﺎﺋﺾ ﻓﻲ ﺃﺣﻜﺎﻡ ﻭﻃﺎﻫﺮ ﻓﻲ ﺃﺣﻜﺎﻡ ﻛﻤﺎ ﺳﻴﺄﺗﻲ ﻓﻲ اﻟﻤﺘﺤﻴﺮﺓ ﻣﺜﻼ ﺇﺫا ﺣﻴﻀﺖ اﻟﺜﻼﺛﺔ ﺗﻜﻮﻥ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻴﻨﻬﺎ ﻭﺑﻴﻦ اﻟﺨﻤﺴﺔ ﻛﺎﻟﻤﺘﺤﻴﺮﺓ ﻓﻲ ﺃﺣﻜﺎﻣﻬﺎ اﻵﺗﻴﺔ ﺇﻻ ﻓﻲ اﻟﻐﺴﻞ ﻓﻼ ﺗﻐﺘﺴﻞ ﺇﻻ ﻋﻠﻰ ﺭﺃﺱ اﻟﺨﻤﺲ ﺗﺄﻣﻞ (ﻗﻮﻟﻪ: ﺃﻭ ﻟﻢ ﺗﻨﺴﻬﺎ ﺇﻟﺦ) ﻣﻘﺎﺑﻞ ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻧﺴﻴﺖ اﻟﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻓﻘﻀﻴﺘﻪ ﺭﺟﻮﻉ ﺫﻟﻚ ﻟﻠﻤﺴﺄﻟﺘﻴﻦ ﻭﻣﻘﺘﻀﻰ ﺫﻟﻚ ﺃﻧﻪ ﺇﺫا ﻟﻢ ﻳﺘﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ ﻭﻟﻢ ﺗﻨﺲ اﻟﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﺭﺩﺕ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻭاﺣﺘﺎﻃﺖ ﻓﻲ اﻟﺰاﺋﺪ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻠﻴﺮاﺟﻊ ﺫﻟﻚ ﻭﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ اﻟﺮﻭﺽ ﻭﻻ ﻓﻲ اﻟﻌﺒﺎﺏ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻣﻦ اﻟﻜﺘﺐ اﻟﺘﻲ ﺭﺃﻳﺘﻬﺎ ﻓﻼ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﺬا ﻣﺮاﺩا، ﻭﺃﻣﺎ ﺭﺟﻮﻋﻪ ﻟﻤﺎ ﺇﺫا ﺗﻜﺮﺭ ﻭﻟﻢ ﺗﻨﺘﻈﻢ ﻓﻼ ﺇﺷﻜﺎﻝ ﻓﻴﻪ، ﻓﺈﻧﻪ ﻣﺼﺮﺡ ﺑﻪ ﻓﻲ اﻟﻜﺘﺐ اﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ اﻩـ ﺳﻢ اﻩـ ﻋ ﺷ.

(ﻗﻮﻟﻪ ﺭﺩﺕ ﺇﻟﻴﻬﺎ) ﺿﻌﻴﻒ ﻓﻲ اﻷﻭﻟﻰ ﻣﻦ اﻟﺜﻼﺙ ﺇﺫ اﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﻧﻬﺎ ﺗﺤﻴﺾ ﺃﻗﻞ اﻟﻨﻮﺏ ﻭﺗﺤﺘﺎﻁ ﻓﻲ اﻟﺰاﺋﺪ ﺑﺤﺎﻟﺔ اﻟﻨﺴﻴﺎﻥ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻭاﺣﺘﺎﻃﺖ ﺇﻟﺦ ﺿﻌﻴﻒ ﻓﻲ اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ؛ ﻷﻥ اﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﻧﻬﺎ ﻻ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﺣﺘﻴﺎﻁ ﻓﻲ اﻟﺰاﺋﺪ ﺑﻞ ﺗﻘﺘﺼﺮ ﺩاﺋﻤﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻗﻞ اﻟﻨﻮﺏ اﻩـ ﺷﻴﺨﻨﺎ (ﻗﻮﻟﻪ: ﻭاﺣﺘﺎﻃﺖ ﻓﻲ اﻟﺰاﺋﺪ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ) ﺿﻌﻴﻒ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻌﺪﻡ اﻟﺘﻜﺮﺭ؛ ﻷﻥ اﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺃﻧﻬﺎ ﻻ ﺗﺤﺘﺎﻁ ﻓﻲ اﻟﺰاﺋﺪ؛ ﻷﻧﻬﺎ ﺗﺮﺩ ﻟﻠﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﻭﺗﻜﻮﻥ ﻧﺎﺳﺨﺔ ﻟﻤﺎ ﻗﺒﻠﻬﺎ، ﻭﺃﻣﺎ ﺭﺟﻮﻋﻪ ﻟﻤﺎ ﺇﺫا ﻟﻢ ﺗﻜﺮﺭ ﻭﻟﻢ ﺗﻨﺘﻈﻢ ﻓﻼ ﺇﺷﻜﺎﻝ ﻓﻴﻪ اﻩـ ﺳﻢ.

ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﻋ ﺷ ﻗﻮﻟﻪ ﻭاﺣﺘﺎﻃﺖ ﻓﻲ اﻟﺰاﺋﺪ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺃﻱ ﻓﻴﻤﺎ ﺇﺫا ﺗﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ ﻭﻟﻢ ﺗﻨﺘﻈﻢ ﻭﺗﺬﻛﺮﺕ اﻟﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﺑﺄﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻫﻲ اﻟﺜﻼﺛﺔ ﻛﻤﺎ ﺻﺮﺡ ﺑﻪ اﻟﺸﺎﺭﺡ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ اﻟﺮﻭﺽ ﻭﺻﺮﺡ ﺑﻪ ﺻﺎﺣﺐ اﻟﻌﺒﺎﺏ اﻧﺘﻬﺖ.
ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ اﻟﺸﻴﺦ ﺳﻠﻄﺎﻥ ﻓﻲ ﺣﺎﺷﻴﺘﻪ ﻭاﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﺃﻧﻬﺎ ﺇﺫا ﻟﻢ ﺗﻨﺲ اﻟﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﻻ ﺗﺤﺘﺎﻁ؛ ﻷﻥ اﻟﻌﺎﺩﺓ اﻟﻤﺘﺄﺧﺮﺓ ﺗﻨﺴﺦ ﻣﺎ ﻗﺒﻠﻬﺎ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻗﻞ ﻭﻫﺬا ﻓﻴﻤﺎ ﺇﺫا ﻟﻢ ﻳﺘﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ، ﻓﺈﻥ ﺗﻜﺮﺭ ﺣﻴﻀﺖ اﻟﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﻭاﺣﺘﺎﻃﺖ، اﻧﺘﻬﺖ ﻭﻗﻮﻟﻪ، ﻓﺈﻥ ﺗﻜﺮﺭ ﺗﺤﻴﻀﺖ ﺇﻟﺦ ﺃﻱ ﺇﺫا ﻟﻢ ﺗﻨﺘﻈﻢ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﺃﻣﺎ ﺇﺫا ﺗﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ ﻭاﻧﺘﻈﻤﺖ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﻭﺫﻛﺮﺕ اﻻﻧﺘﻈﺎﻡ ﺟﺮﺕ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺃﺷﻬﺮ اﻻﺳﺘﺤﺎﺿﺔ، ﻭﺃﻣﺎ ﺇﺫا ﺗﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ ﻭاﻧﺘﻈﻤﺖ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﻭﻧﺴﻴﺖ اﻻﻧﺘﻈﺎﻡ، ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺗﺤﻴﺾ ﺃﻗﻞ اﻟﻨﻮﺏ ﺳﻮاء ﺃﺫﻛﺮﺕ اﻟﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﺃﻭ ﻧﺴﻴﺘﻬﺎ ﻭﺳﻮاء ﺃﻛﺎﻧﺖ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﺃﻛﺜﺮ اﻟﻨﻮﺏ ﺃﻭ ﺃﻗﻠﻬﺎ ﻭﺣﻴﻨﺌﺬ ﺗﺤﺘﺎﻁ ﻟﻠﺰاﺋﺪ.
ﻭاﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ اﻟﺼﻮﺭ اﻷﺭﺑﻊ اﻷﻭﻟﻰ ﺃﻥ ﻳﺘﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ ﻭﺗﻨﺘﻈﻢ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﻭﺗﺬﻛﺮ اﻻﻧﺘﻈﺎﻡ ﻓﺘﺠﺮﻱ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺃﺷﻬﺮ اﻻﺳﺘﺤﺎﺿﺔ ﻛﺄﻥ ﺣﺎﺿﺖ ﻓﻲ ﺷﻬﺮ ﺛﻼﺛﺔ ﻭﻓﻲ ﺛﺎﻥ ﺧﻤﺴﺔ ﻭﻓﻲ ﺛﺎﻟﺚ ﺳﺒﻌﺔ ﺛﻢ ﻋﺎﺩ اﻟﺪﻭﺭ ﻛﺬﻟﻚ ﺛﻢ اﺳﺘﺤﻴﻀﺖ ﻓﻲ اﻟﺴﺎﺑﻊ ﻓﺘﺮﺩ ﻓﻴﻪ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻣﻦ ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺴﺔ ﻭﻓﻲ اﻟﺘﺎﺳﻊ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﻭﻫﻜﺬا اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﺃﻥ ﻳﺘﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ ﻭﺗﻨﺘﻈﻢ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﻭﺗﻨﺴﻰ اﻻﻧﺘﻈﺎﻡ ﻓﺘﺤﻴﺾ ﺃﻗﻞ اﻟﻨﻮﺏ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﻓﺎﻗﺎ ﻟﻠﺤﻠﺒﻲ ﻭﺧﻼﻓﺎ ﻟﺸﻴﺨﻪ اﻟﺰﻳﺎﺩﻱ ﻭﺗﺤﺘﺎﻁ ﻓﻲ اﻟﺰاﺋﺪ اﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺃﻥ ﻳﺘﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ ﻭﻟﻢ ﺗﻨﺘﻈﻢ اﻟﻌﺎﺩﺓ، ﻓﺈﻥ ﻧﺴﻴﺖ اﻟﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﺣﻴﻀﺖ ﺃﻗﻞ اﻟﻨﻮﺏ ﻭاﺣﺘﺎﻃﺖ ﻓﻲ اﻟﺰاﺋﺪ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﻨﺴﻬﺎ ﺭﺩﺕ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻭاﺣﺘﺎﻃﺖ ﻓﻲ اﻟﺰاﺋﺪ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﺄﻥ ﻛﺎﻧﺖ اﻟﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﻓﻲ ﻣﺜﺎﻟﻬﺎ ﺛﻼﺛﺔ. اﻟﺮاﺑﻌﺔ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺘﻜﺮﺭ اﻟﺪﻭﺭ، ﻓﺈﻥ ﻧﺴﻴﺖ اﻟﻨﻮﺑﺔ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﺣﻴﻀﺖ ﺃﻗﻞ اﻟﻨﻮﺏ ﻭاﺣﺘﺎﻃﺖ ﻓﻲ اﻟﺰاﺋﺪ، ﻭﺇﻥ ﺫﻛﺮﺗﻬﺎ ﺣﻴﻀﺖ ﺳﻮاء ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻛﺜﺮ ﺃﻭ ﺃﻗﻞ ﻭﻻ اﺣﺘﻴﺎﻁ ﺧﻼﻓﺎ ﻟﻠﺸﺎﺭﺡ؛ ﻷﻥ اﻟﻌﺎﺩﺓ اﻷﺧﻴﺮﺓ ﺗﻨﺴﺦ ﻣﺎ ﻗﺒﻠﻬﺎ ﻛﻤﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﺳﻢ ﻭاﻟﺸﻴﺦ ﺳﻠﻄﺎﻥ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻓﺘﺄﻣﻞ اﻩـ ﺷﻴﺨﻨﺎ اﻷﺷﺒﻮﻟﻲ ﻋﻦ ﺷﻴﺨﻨﺎ اﻟﺤﻔﻨﻲ.

والله أعلم بالصواب……………………

Adat Haidh Tetap dan Adat Haidh yang Berubah-ubah Kitab Risalatul Mahidh

Bersambung..

Hasil Kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan edukasi santri bisa anda kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.