Berdiskusi Ilmiah Dalam Bentuk Mudzakaroh, Munadhoroh dan dan Mutharahah

Benangmerahdasi   –Berdiskusi Ilmiah Dalam Bentuk Mudzakaroh, Munadhoroh dan dan Mutharahah. Kajian Ta’liimul Muta’alim Bagian 035 membahas tentang Keharusan berdiskusi ilmuah bagi para santri atau penuntut ilmu. agar saling melengkapi pengetahuannya.

Assalaamu’Alaikum
Kajian Ta’liimul Muta’allim,
No : 035,
Setiap hari : Selasa.
Oleh: Umy Nana Syarif.
Berdiskusi Ilmiah Dalam Bentuk Mudzakaroh, Munadhoroh dan dan Mutharahah

BismillaahirRohmaanirRohim
Pelajar harus juga melakukan diskusi dalam bentuk mudzakaroh, munadhoroh dab dan mutharahah, (Disini disebut tiga kompetensi dalam praktek diskusi, mudzakaroh adalah tukar pendapat untuk saling melengkapi pengetahuan masing-masing, munadhoroh adalah saling mengkritisi pendapat masing-masing, dan muthorohah adalah adu pendapat untuk diuji dan dicari mana yang benar.)

Dianjurkan agar hal tersebut dilakukan atas dasar keinsafan, kalem dengan penuh penghayatan, serta menjauhi sikap emosional ;

Karena sesungguhnya munadhoroh dan mudzakaroh adalah ujud dari musyawaroh, dan musyawaroh itu dilakukan untuk menemukan kebenaran, sedang kebenaran hanya dapat ditemukan dengan cara menghayati, kalem dan insaf, tidak dengan cara marah dan emosional.

jika diskusi mubahtasah (kata mubahtasah secara harfiah bermakna saling membahas, dan sering diterjemahkan dengan diskusi.) itu diniatkan untuk sekedar menunduk-kan lawan dan menaklukkannya maka tidak diperbolehkan ;hal yang boleh dilakukan adalah dalam rangka menemukan kebenaran.

Bicara berbelit-belit dan ber-hilah (memutar-balikkan fakta) tidak boleh dilakukan, kecuali jika lawan bicara ber-ta’annut (sekedar mencari kelemahan) dan bukan untuk mencari kebenaran .

Adalah Muhammad Yahya (Muhammad bin Yahya disini adalah yang bergelar Abu Abdullah Al Jurjani, seorang Ulama’ Ahli fiqih, wafat sekitar tahun 397-398H. Al Jawahirul mudliah III/143) jika menghadapi kesulitan dan belum mengetahui jawabnya maka ia berkata :”pertanyaan anda bagus dan saya akan mempelajarinya, diatas orang berilmu ada yang banyak ilmunya “,

Baca Juga: Kajian Kitab Ta’liimul Muta’allim Agar Selalu Berdo’a dan Mengabdi Kepada Ilmu

Manfaat muthorohah dan munadhoroh itu lebih besar dibanding sekedar mengulang-ulang pelajaran, karena disini berarti juga mengulang-ulang pelajaran ditambah edded value (nilai lebih).

Diucapkan kata mutiara :” Sesaat muthorohah dilakukan lebih bagus dibanding mengulang-ulang pelajaran satu bulan”, tentu saja jika dilakukan dengan orang yang insaf dan jujur tabiatnya.

Jauhilah mudzakaroh dengan orang yang ber-ta’annut serta tidak jujur tabiatnya, karena tabiat itu suka mencuri, akhlak mudah menular dan perkumpulan itu membawa pengaruh.

Dalam rangkaian Sair yang dikeluarkan oleh Al Khalil bin Ahmad diatas terdapat banyak petunjuk (Terdiri dari delapan bait Sair, sebagaimana tercantum dalam paragraf F , Berdoa, sebelum paragraf ini.)

Sebait Sair (Sair ini gubahan imam Syafi’i, Diwan Asy Syafi’i, hal 162)dikatakan :
Diantara syarat ilmu untuk pengabdiannya,
menjadikan seluruh manusia mengabdi kepadanya.

bersambung……

Alhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin,
Semoga bermanfaat untuk kita semua, Aamiin Yaa Mujiibas Saailiin.
Jangan Lewatkan kajian Ta’liimul Muta’allim berikutnya.

Hasi Kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan kegiatan grup DASI bisa anda kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.