Fiqih bab Sholat (hukum memejamkan mata ketika shalat)

Banangmerahdasi  -Fiqih bab Sholat (hukum memejamkan mata ketika shalat). Membahas pertanyaan dari saudara Nashihul Umam, yang mempertanyaan bagaimana hukum memejamkan mata ketika shalat. berikut ini akan di jawab dengan referensi dari I’anatut Tholibin juz 1 halaman 214.

BENANG MERAH
NO : 00365
FIQIH BAB SHOLAT
[ Hukum Memejamkan Mata ketika Sholat ]

Hallo Benang merah
WA : 0813 8445 1265
WA : 0899 8605 999

Sail : Nashihul Umam

Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya memejamkan mata ketika sholat?

Mujawib :
Sholeh ID

Jawaban :

Sunnah di dalam sholat, untuk membuka mata dan terus menerus melihat tempat sujud agar memudahkan hati untuk khusyu. Kesunahan ini juga berlaku bagi orang yang buta, ia tetap dianjurkan melihat ke tempat sujudnya.

Sekalipun ia menutup mata dalam sholat, hukumnya tidak makruh akan tetapi adalah khilaful aula (lebih baik untuk ditinggalkan).

Baca Juga: Penjelasan tentang bacaan I’tidal “sami’Allohu liman hamidah” bukan “Allohu Akbar” seperti pada gerakan yang lain “

Memejamkan mata dalam shalat bisa menjadi wajib hukumnya jika misalnya di hadapannya ada seseorang yang membuka aurat. Bisa juga dihukumi sunnah apabila di hadapan kita ada sesuatu yang dapat mengganggu kekhusyuan shalat seperti gambar-gambar atau lainnya.

Referensi :

I’anatut Tholibin juz 1 halaman 214

‏( ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﺳﻦ ﺇﺩﺍﻣﺔ ﻧﻈﺮ ﻣﺤﻞ ﺳﺠﻮﺩﻩ ‏) ﺃﻱ ﺑﺄﻥ ﻳﺒﺘﺪﺉ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﻣﻮﺿﻊ ﺳﺠﻮﺩﻩ ﻣﻦ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﺍﻟﺘﺤﺮﻡ، ﻭﻳﺪﻳﻤﻪ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮ ﺻﻼﺗﻪ، ﺇﻻ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﺴﺘﺜﻨﻰ . ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻘﺪﻡ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﺍﻟﺘﺤﺮﻡ ﻟﻴﺘﺄﺗﻰ ﻟﻪ ﺗﺤﻘﻖ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻣﻦ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﺍﻟﺘﺤﺮﻡ . ﻭﺧﺺ ﻣﻮﺿﻊ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻻﻧﻪ ﺃﺷﺮﻑ ﻭﺃﺳﻬﻞ . ‏( ﻗﻮﻟﻪ : ﻻﻥ ﺫﻟﻚ ‏) ﺃﻱ ﺇﺩﺍﻣﺔ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﻣﺤﻞ ﺳﺠﻮﺩﻩ . ﻭﻗﻮﻟﻪ : ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺨﺸﻮﻉ ﺃﻱ ﺇﻟﻰ ﺗﺤﺼﻴﻠﻪ، ﻛﻤﺎ ﻣﺮ . ‏( ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﻟﻮ ﺃﻋﻤﻰ ‏) ﺃﻱ ﻭﺳﻦ ﺇﺩﺍﻣﺔ ﻧﻈﺮﻩ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺃﻋﻤﻰ . ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻨﻈﺮﻩ ﻣﻮﺿﻌﻪ، ﺇﺫ ﻻ ﻧﻈﺮ ﻟﻼﻋﻤﻰ . ‏( ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻜﻌﺒﺔ ﺇﻟﺦ ‏) ﺍﻟﻐﺎﻳﺔ ﻟﻠﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﺜﻨﻰ ﺍﻟﻜﻌﺒﺔ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﻧﻪ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻴﻬﺎ . ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻤﻐﻨﻲ، ﻭﻋﻦ ﺟﻤﺎﻋﺔ : ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻜﻌﺒﺔ ﻟﻜﻦ ﺻﻮﺏ ﺍﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ ﺃﻧﻪ ﻛﻐﻴﺮﻩ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻻﺳﻨﻮﻱ : ﺇﻥ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺏ ﻧﻈﺮﻩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻜﻌﺒﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺟﻪ ﺿﻌﻴﻒ . ‏( ﻗﻮﻟﻪ : ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﻈﻠﻤﺔ ‏) ﺃﻱ ﻭﺳﻦ ﺇﺩﺍﻣﺔ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻈﻠﻤﺔ . ‏( ﻗﻮﻟﻪ : ﺃﻭ ﻓﻲ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ‏) ﺃﻱ ﻭﺳﻦ ﺫﻟﻚ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ . ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻟﻐﺎﻳﺔ ﻟﻠﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﺜﻨﻰ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﻓﻘﺎﻝ : ﺃﻧﻪ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻴﺖ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺠﻤﺎﻝ ﺍﻟﺮﻣﻠﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ : ﻭﺍﺳﺘﺜﻨﻰ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺃﻳﻀﺎ ﻣﺎ ﻟﻮ ﺻﻠﻰ ﺧﻠﻒ ﻇﻬﺮ ﻧﺒﻲ ﻓﻨﻈﺮﻩ ﺇﻟﻰ ﻇﻬﺮﻩ ﺃﻭﻟﻰ ﻣﻦ ﻧﻈﺮﻩ ﻟﻤﻮﺿﻊ ﺳﺠﻮﺩﻩ، ﻭﻣﺎ ﻟﻮ ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻰ ﺟﻨﺎﺯﺓ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻴﺖ . ﻭﻟﻌﻠﻪ ﻣﺄﺧﻮﺫ ﻣﻦ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﻤﺎﻭﺭﺩﻱ ﺍﻟﻘﺎﺋﻞ ﺑﺄﻧﻪ ﻟﻮ ﺻﻠﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﻌﺒﺔ ﻧﻈﺮ ﺇﻟﻴﻬﺎ . ﺍﻩ . ﻭﻛﺘﺐ ﻉ ﺵ : ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﻟﻌﻠﻪ، ﺃﻱ ﺍﻻﺳﺘﺜﻨﺎﺀ . ﻭﻗﻮﻟﻪ : ﻣﺄﺧﻮﺫ ﺃﻱ ﻭﻫﻮ ﻣﺮﺟﻮﺡ . ﺍﻩ . ‏( ﻗﻮﻟﻪ : ﻧﻌﻢ، ﺇﻟﺦ ‏) ﺍﺳﺘﺪﺭﺍﻙ ﻋﻠﻰ ﺳﻨﻴﺔ ﺇﺩﺍﻣﺔ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻣﺤﻞ ﺳﺠﻮﺩﻩ، ﻭﻫﺬﺍ ﻗﺪ ﻣﺮ ﺫﻛﺮﻩ ﻗﺮﻳﺒﺎ . ‏( ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﻻﻳﻜﺮﻩ ﺗﻐﻤﻴﺾ ﻋﻴﻨﻴﻪ ‏) ﺃﻱ ﻻﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻓﻴﻪ ﻧﻬﻲ : ﻗﺎﻝ ﻉ ﺵ : ﻟﻜﻨﻪ ﺧﻼﻑ ﺍﻻﻭﻟﻰ، ﻭﻗﺪ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺘﻐﻤﻴﺾ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻌﺮﺍﻳﺎ ﺻﻔﻮﻓﺎ، ﻭﻗﺪ ﻳﺴﻦ ﻛﺄﻥ ﺻﻠﻰ ﻟﺤﺎﺋﻂ ﻣﺰﻭﻕ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻣﻤﺎ ﻳﺸﻮﺵ ﻓﻜﺮﻩ . ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﻌﺰ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ . ﺍﻩ ﻡ ﺭ . ‏( ﻗﻮﻟﻪ : ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺨﻒ ‏) ﺃﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻐﻤﻴﺾ ﺿﺮﺭﺍ، ﻓﺈﻥ ﺧﺎﻓﻪ ﻛﺮﻩ

DASI Dagelan Santri Indonesia
SantriDASI
Santri

Leave a Reply

Your email address will not be published.