Hukum Fiqih Menaikan Barang Dengan Cara Bayar di Cicil Perbulan

Benangmerah DASI
Read Time1 Minute, 34 Seconds

Benangmerahdasi.com – Hukum Fiqih Menaikan Barang Dengan Cara Bayar di Cicil Perbulan. Menjawab pertanyaan keluaga DASI yang bertanya tentang fiqih bab riba.

FIQIH BAB RIBA
[tentang kridit barang]
No : 0013

Hukum Fiqih Menaikan Barang Dengan Cara Bayar di Cicil Perbulan

PERTANYAAN
MENAIKAN HARGA BARANG DENGAN CARA BAYAR DI CICIL PER BULAN APAKAH TERMASUK RIBA..?

misal: baju satu bila dibayar cash/tunai 100,000 .
Namun bila di bayar cicil berjumlah 120.000 [selama 4 bulan]
JAWABAN
Coba kita telaah dulu pengertian jua’alah,salah satunya sy kutif dr kitab Hasyiyah Al Bujairomi Alal Khotib, Juz : 3, Hal : 220.

(فصل)
فى الجعالة وجيمها مثلثة كما قاله ابن مالك وهو لغة اسم لما يجعل للإنسان على فعل شىء وشرعا التزام عوض معلوم على عمل معين معلوم أو مجهول عسر علمه

“(Fasal) tentang ju’alah. Huruf jim dari lafadz ju’alah tersebut boleh dibaca tiga harakat, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Malik ini, secara etimologi adalah nama dari sebuah ongkos yang diberikan kepada seseorang atas pekerjaannya.

Adapun dalam terminologi fikih, ju’alah adalah sebuah ketetapan (ongkos) pengganti yang sudah diketahui atas sebuah pekerjaan yang telah ditentukan atau belum ditentukan dan sulit untuk mengetahuinya”

Baca juga: Hukum fiqih mengunakan gaji pensiun dari orang tua yang sudah meninggal

Tambahan
Menjual barang dengan sistem kredit dalam fikih dikenal dengan bai’ bi tsaman ajil (menjual barang dengan harga tempo).

Penjualan model seperti ini hukumnya sah-sah saja.
Namun yang perlu diperhatikan adalah adanya pilihan harga yang jelas dari kedua belah pihak, sehingga tidak terjadi penjualan satu barang dengan dua harga (bai’atun fi bai’ataini) yang dilarang dalam Hadits riwayat at-Tirmidzi.

Semisal penjual bilang pada pembeli,
“Aku jual barang ini kepada kamu dengan harga 1.000 kontan atau dengan harga 2.000 dengan tempo (kredit).
Terserah kamu pilih harga yang mana.”
Keterangan:

Umpama di antara dua belah pihak (penjual-pembeli) saling rela dengan transaksi (barang masing-masing) yang mereka lakukan itu tidak berpengaruh, artinya transaksinya tetap dianggap batal dan berkosekwensi wajibnya mengembalikan barang yang telah mereka terima.

Lihat:Al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuh, V/147;
Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil-Minhaj, 17/54
[Hasil bats masa’il pp sidogiri]

Semoga bermanfaat untuk kita semua…
Info seputar pondok pesantren dan edukasi santri bisa pembaca kunjungi di Santridasi.com

0 0

Tentang Penulis Posting

Benangmerah DASI

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Penjelasan Fiqih Tentang Memanjangkan Kain Melebihi Mata Kaki

Benangmerahdasi.com  –  Penjelasan Fiqih Tentang Memanjangkan Kain Melebihi Mata Kaki. Menjawab pertanyaan keluarga DASI yang menanyakan tentang bab Fiqih Khilaf. Fiqih Khilaf [tentang khilafnya isbal] No: 0056 Hallo Benangmerah WA:081384451265 Fiqih Tentang Memanjangkan Kain Melebihi Mata Kaki PERTANYAAN BAGAIMANA HUKUM ISBAL….? [memanjangkan kain melebihi mata kaki] JAWABAN masalah isbal ini […]

Berlangganan Sekarang