Penjelasan Fiqih Mengunakan Gaji Pensiun Dari Orang Tua yang Sudah Meninggal

benangmerahdasi
Read Time3 Minutes, 17 Seconds

Benangmerahdasi  – Penjelasan Fiqih Mengunakan Gaji Pensiun Dari Orang Tua yang Sudah Meninggal. Menjawab Pertanyaan keluarga DASI, yang menanyakan Bagaimana hukumnya anak yang mendapat/memakan gaji pensiunan orang tuanya yang sudah lama meninggal dunia?

BENANG MERAH
NO : 00416
FIQIH BAB MUAMALAT
[Tentang Uang Pensiunan]

Hallo Benang merah
WA: 081515131493
WA: 081393803665


Sail : Sahabat DASI via whatsapp

Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya anak yang mendapat/memakan gaji pensiunan orang tuanya yang sudah lama meninggal dunia?


Mujawib : Mas Joe, Fathur El-Rozy

Jawaban :

Boleh, karena uang pensiun merupakan pemberian/santunan (arzaq) dari pemerintah (bukan ujrah) yang diberikan langsung kepada istri dan anak dari PNS yang meninggal tersebut dan tidak diberikan kepada suami.

Baca Juga: Hukum Fiqih Tentang uang Bonus Kepada Reseller/Member


Penjelasan:
Beberapa hal yang harus dipahami :

1. Pensiun dianggap tirkah

Pensiun diambil dari tabungan sisihan gaji PNS sewaktu masih aktif. Dan jumlah dana pensiun yang diterima disesuaikan dengan pangkat dan jabatan terakhir. Ketika PNS penerima pensiun meninggal dunia, maka jumlah yang diterima oleh pihak yang tercatat dalam dokumen awal besarannya dibawah nilai gaji yaitu setelah dikurangi penerima pertama (si PNS).

Dari sini, maka pensiunan dapat dianggap sebagai harta warisan. Akan tetapi, dalam dokumen awal PNS, tercatat hanya beberapa angggota ahli waris (isteri/suami dan 2 anak) yang bakal menjadi pemegang hak estafeta bila yang bersangkutan meninggal dan tidak semua ahli waris menurut fara’id.

Berarti dengan kenyataan ini (uang pensiun dialokasikan bagi sebagian anggota keluarga), maka pensiun tidak bisa dianggap sebagai tirkah

2. Pensiun dianggap wasiyat

Hal ini juga tidak memenuhi ketentuan, karena wasiyat ke dzawil furudl harus mendapat persetujuan ahli yang lain juga harus memenuhi syarat-syarat lainnya.

3. Pensiun dianggap milik ahli waris

Ketika si PNS memasuki pensiun dan masih hidup, hak pensiun tidak otomatis pindah tangan tetapi tetap dimiliki oleh yang bersangkutan. Dan kepemilikan bisa pindah bila pemegang pensiun (si PNS) meninggal. Jadi pensiun bukan milik ahli waris.

4. Mungkin juga pensiun digolongkan ke akad hibah dari mayit (diakadkan sebelum meninggal sebagaimana tercatat dalam dokumen)

Akad ini juga mengandung masalah yaitu pemberian dikaitkan dengan kematian, dan ini kembali lagi ke permasalahan wasiat, dan itupun tidak memenuhi syarat.

Dari semua kemungkinan di atas, maka satupun tidak menghasilkan kesimpulan yang bisa mengakomodir status pensiun. Jadi setatus Uang Pensiun merupakan santunan yang aturannya sudah ditetapkan oleh Pemerintah sendiri.

Pensiun itu pemberian dari pemerintah sebagai hadiah (semacam pesangon) atau bagian gaji yang diambil per bulan sebagai celengan/tabungan. Artinya pemberian yang dimaksud adalah pemberian biasa hibah/shodaqoh/hadiah untuk orang yang masih hidup (ahli waris) dan bukan sebagai tirkah

5. Hakikat “gaji”

Gaji identik dengan pensiun untuk pegawai pemerintah. Sementara upah identik dengan pesangon untuk pegawai swasta.

Uang pensiun bukan termasuk tirkah tetapi masuk ke bab IRSHOD DAN IRZAAQ

Baca Juga: Penjelasan Fiqih Status Hukum Nominal Uang di Belakang koma, Sperti Rp 999 75


Referensi :

1. Tuhfatul Muhtaj juz 7 halaman 139

( وَكَذَا ) يُعْطَى ممون الْمُرْتَزِقِ مَا يَلِيقُ بِذَلِكَ الْممون ، وَهُوَ ( زَوْجَتُهُ ) ، وَإِنْ تَعَدَّدَتْ وَمُسْتَوْلَدَاتُهُ ( وَأَوْلَادُهُ ) ، وَإِنْ سَفَلُوا وَأُصُولُهُ الَّذِينَ تَلْزَمُهُ مُؤْنَتُهُمْ فِي حَيَاتِهِ بِشَرْطِ إسْلَامِهِمْ كَمَا بَحَثَهُ الْأَذْرَعِيُّ وَاعْتُرِضَ بِأَنَّ ظَاهِرَ إطْلَاقِهِمْ أَنَّهُ لَا فَرْقَ وَيُوَجَّهُ بِأَنَّهُ يُغْتَفَرُ فِي التَّابِعِ الْمَحْضِ مَا لَا يُغْتَفَرُ فِي الْمَتْبُوعِ ( إذَا مَاتَ ) …….. ( فَتُعْطَى ) الْمُسْتَوْلَدَةُ (وَالزَّوْجَةُ حَتَّى تَنْكِحَ ) أَوْ تَسْتَغْنِيَ بِكَسْبٍ ، أَوْ غَيْرِهِ فَإِنْ لَمْ تَنْكِحْ فَإِلَى الْمَوْتِ ، وَإِنْ رُغِبَ فِيهَا عَلَى مَا اقْتَضَاهُ إطْلَاقُهُمْ ( وَالْأَوْلَادُ ) الذُّكُورُ وَالْإِنَاثُ ( حَتَّى يَسْتَقِلُّوا ) أَيْ يَسْتَغْنُوا وَلَوْ قَبْلَ الْبُلُوغِ بِكَسْبٍ ، أَوْ نَحْوِ وَصِيَّةٍ ، أَوْ وَقْفٍ ، أَوْ نِكَاحٍ لِلْأُنْثَى ، أَوْ جِهَادٍ لِلذَّكَرِ وَكَذَا بِقُدْرَتِهِ عَلَى الْكَسْبِ إذَا بَلَغَ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ ؛ لِأَنَّهُ بِالْبُلُوغِ صَلُحَ لِلْجِهَادِ فَإِذَا تَرَكَهُ وَلَهُ قُدْرَةٌ عَلَى الْكَسْبِ لَمْ يُعْطَى ثُمَّ الْخِيَرَةُ فِي وَقْتِ الْعَطَاءِ إلَى الْإِمَامِ كَجِنْسِ الْمُعْطَى.

2. Nihayatul Muhtaj juz 20 halaman 134

وَمَنْ أعطي لِوَصْفٍ يظن بِهِ كَفَقْرٍ أَوْ صَلَاحٍ أَوْ نَسَبٍ أَوْ عَلِمَ وَهُوَ فِي الْبَاطِنِ بِخِلَافِهِ أَوْ كَانَ بِهِ وَصْفٌ بَاطِنًا بِحَيْثُ لَوْ عَلِمَ لَمْ يُعْطِهِ حُرِّمَ عَلَيْهِ الْأَخْذُ مُطْلَقًا ، وَيَجْرِي ذَلِكَ فِي الْهَدِيَّةِ أَيْضًا فِيمَا يَظْهَرُ ، بَلْ الْأَوْجَهُ إلْحَاقُ سَائِرِ عُقُودِ التَّبَرُّعِ بِهَا كَوَصِيَّةٍ وَهِبَةٍ وَنَذْرٍ وَوَقْفٍ

3. Al Majmu’ juz 3 halaman 127

قال صاحب الذخائر الفرق بين الرزق والاجرة ان الرزق أن يعطيه كفايته هو وعياله والاجرة ما يقع به التراضي

Dalam cetakan yang lain

قَالَ صَاحِبُ الذََّخَائِرِ الْفَرْقُ بَيْنَ الرِّزْقِ وَاْلأُجْرَةِ اَنَّ الرِّزْقَ اَنْ يُطْعِمَهُ كِفَايَتَهُ هُوَ وَعِيَالِهِ وَاْلأُجْرَةُ مَا يَقَعُ بِهِ التَّرَاضِى

Artinya : “Berkata pengarang kitab Adz-Dzakhoir, “Perbedaan antara gaji dan upah sewa, bahwa gaji adalah memberi makan untuk dirinya dan keluarganya sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan upah sewa adalah sesuatu yang terjadi dengan adanya persetujuan dari dua belah pihak”.

Ada redaksi yang berbeda tetapi tidak begitu mengganggu. Yaitu kalimah أن يعطيه…….. اَنْ يُطْعِمَهُ

Bila berasal dari bagian gaji yang ditabung, itu berarti asalnya milik si mayit dan bisa menjadi tirkah. Hanya saja , dalam dokumentasi PNS, tercatat bahwa ada sebagian anggota keluarga (terbatas pada isteri/suami beserta dua orang anak) yang menjadi objek penerima gaji di saat pemilik gaji meninggal, yang setelah itu anggota keluarga itulah yang menerima hak lanjutan.

Itupun dengan beberapa syarat yang berimplikasi pada beberapa kemungkinan. Belum lagi bila ada ahli waris lain di luar yang tertulis pada dokumen kePNSannya, jelas hal ini semakin menamba rancu status ke-tirkah-annya.

Sehingga dengan asumsi ini, selain sebagai tirkah (bisa juga akad wasiyat, tetapi ibroh akad ini dipertanyakan, karena wasiyat ke ahli waris bisa jadi bermasalah dan menjadikan akad fasid).

بان العقد الفاسد لا عبرة به

4. Asnal Matholib juz 2 halaman 410

(قَوْلُهُ: وَلَوْ اسْتَأْجَرَ لِلْإِمَامَةِ إلَخْ) ظَنَّ بَعْضُهُمْ أَنَّ الْجَامِكِيَّةَ عَلَى الْإِمَامَةِ وَالطَّلَبِ وَنَحْوِهِمَا مِنْ بَابِ الْإِجَارَةِ حَتَّى لَا يَسْتَحِقَّ شَيْئًا إذَا أَخَلَّ بِبَعْضِ الْأَيَّامِ، أَوْ الصَّلَاةِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ بَلْ هُوَ مِنْ بَابِ الْأَرْصَادِ وَالْأَرْزَاقِ الْمَبْنِيِّ عَلَى الْإِحْسَانِ وَالْمُسَامَحَةِ بِخِلَافِ الْإِجَارَةِ فَإِنَّهَا مِنْ بَابِ الْمُعَاوَضَةِ وَلِهَذَا يَمْتَنِعُ أَخْذُ الْأُجْرَةِ عَلَى الْقَضَاءِ وَيَجُوزُ إرْزَاقُهُ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ بِالْإِجْمَاعِ.

Hasil kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan kegiatan grup DASI bisa anda kungungi di Santridasi.com

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Hukum Menjama' Sholat karena Hajat (Walimah 'Ursy)

Benangmerahdasi  –Hukum Menjama’ Sholat karena Hajat (Walimah ‘Ursy).  Menjawab pertanyaan Member Pecinta Dasi BENANG MERAH NO : 00417 FIQIH BAB WALIMAH [Tentang Hukum Menjama’ Sholat karena Hajat (Walimah ‘Ursy)] Hallo Benang merah WA: 081515131493 WA: 081393803665 Sail : Member Pecinta Dasi Deskripsi Masalah : Sering kali ketika ada tetangga punya […]

Berlangganan Sekarang