Hukum Membakar Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid

Hukum Membakar Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid

Benangmerahdasi.com – Melanjutkan pertanyaan keluarga DASI yang bertanya tentang Hukum Membakar Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid.
___________________

Pertanyaan: Hukum Membakar Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid seperti bendera organisasi yang di larang oleh pemerintah yakni HTI dan ISIS, yang jelas2 obsesinya menghapus Pancasila dari NKRI?
____________________
Mujawib : TBM dan Member DASI

Jawaban :

Penjelasan Hukum Membakar Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid atau atribut lainnya adalah boleh dan bahkan bisa wajib jika bertujuan menjaga kehormatan dan kemuliaan kalimat tauhid tersebut.

Selain itu, tindakan ini adalah upaya preventatif agar akar HTI / ISIS yang masih berkeliaran tidak bisa tumbuh besar meski secara ormas sudah dibubarkan.

Baca juga: Tentang perbedaan benderan HTI dan bendera Rosulullah

Referensi Hukum Membakar Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid

1. I’anatu Ath-Tholibin juz 1 halaman 84 :

(قوله: وتمزيقه) معطوف على تمكين أيضا.أي ويحرم تمزيق المصحف لانه ازدراء به. وقوله: عبثا أي لا لقصد صيانته. وعبارة فتاوي ابن حجر تفيد أن المعتمد حرمة التمزيق مطلقا، ونصها: سئل رضي الله عنه عمن وجد ورقة ملقاة في طريق فيها اسم الله تعالى، ما الذي يفعل بها ؟ فأجاب رحمه الله بقوله: قال ابن عبد السلام: الاولى غسلها، لان وضعها في الجدار تعرض لسقوطها والاستهانة بها. وقيل: تجعل في حائط. وقيل: يفرق حروفها ويلقيها. ذكره الزركشي. فأما كلام ابن عبد السلام فهو متجه، لكن مقتضى كلامه حرمة جعلها في حائط والذي يتجه خلافه، وأن الغسل أفضل فقط. وأما التمزيق، فقد ذكر الحليمي في منهاجه أنه لا يجوز تمزيق ورقة فيها اسم الله أو اسم رسوله، لما فيه من تفريق الحروف وتفريق الكلمة، وفي ذلك ازدراء بالمكتوب. فالوجه الثالث شاذ إذ لا ينبغي أن يعول عليه.

2. Hawasyi Asy-Syarwani juz 1 halaman 155 :

قوله: (وتمزيقه) أي تمزيق الورق المكتوب فيه شئ من القرآن ونحوه شيخنا قوله: (وترك رفعه الخ) المراد منه أنه إذا رأى ورقة مطروحة على الارض حرم عليه تركها بقرينة قوله بعد وينبغي الخ وليس المراد كما هو ظاهر أنه يحرم عليه وضع المصحف على الارض والقراءة فيه ع ش وقوله: (ورقة الخ) أي فيها شئ من نحو القرآن قوله: (وينبغي أن لا يجعله الخ) وطريقه أن يغسله بالماء أو يحرقه بالنار صيانة لاسم الله تعالى عن تعرضه للامتهان شرح الروض وانظر هل المراد بالانبغاء هنا الندب أو الوجوب والاقرب الاول.

ﻕﻭﻟﻪ : ‏( ﻣﺎ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﺦ ‏) ﺃﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﺸﺐ ﻧﻬﺎﻳﺔ ﻭﻣﻐﻨﻲ ﺃﻱ ﻣﺜﻼ ﻓﺎﻟﻮﺭﻕ ﻛﺬﻟﻚ ﻗﻠﻴﻮﺑﻲ ﻗﻮﻟﻪ : ‏( ﺇﻻ ﻟﻐﺮﺽ ﻧﺤﻮ ﺻﻴﺎﻧﺔ ‏) ﺃﻱ ﻓﻼ ﻳﻜﺮﻩ ﺑﻞ ﻗﺪ ﻳﺠﺐ ﺇﺫﺍ ﺗﻌﻴﻦ ﻃﺮﻳﻘﺎ ﻟﺼﻮﻧﻪ ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺄﺗﻲ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺟﻠﺪ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﺃﻳﻀﺎ ﻉ ﺵ ﻗﻮﻟﻪ : ‏( ﻭﺍﻟﻐﺴﻞ ﺃﻭﻟﻰ ﻣﻨﻪ ‏) ﺃﻱ ﺇﺫﺍ ﺗﻴﺴﺮ ﻭﻟﻢ ﻳﺨﺶ ﻭﻗﻮﻉ ﺍﻟﻐﺴﺎﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺭﺽ ﻭﺇﻻ ﻓﺎﻟﺘﺤﺮﻳﻖ ﺃﻭﻟﻰ ﺑﺠﻴﺮﻣﻲ ﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺰ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﻃﺮﻳﻘﻪ ﺃﻥ ﻳﻐﺴﻠﻪ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﺃﻭ ﻳﺤﺮﻗﻪ ﺑﺎﻟﻨﺎﺭ ﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺇﻥ ﺍﻻﺣﺮﺍﻕ ﺃﻭﻟﻰ ﻻﻥ ﺍﻟﻐﺴﺎﻟﺔ ﻗﺪ ﺗﻘﻊ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺭﺽ ﺍﻧﺘﻬﻰ ﺍﺑﻦ ﺷﻬﺒﺔ ﺍﻩ

Penjelasan :
Lafal Alquran, asma Allah dan Nabi Muhammad saw. hukumnya wajib dimuliakan.

Benda apapun yang bertuliskan Alquran, asma Allah dan Nabi saw. tidak boleh dibawa ke tempat kotor, seperti WC dan lainnya.

Bahkan jika kedapatan berada di tempat yang tidak layak, seperti jatuh di tanah,

maka wajib mengangkatnya dan meletakkan di tempat yang tinggi sekiranya tidak sejajar dengan posisi kaki.

Karena itu, ulama Syafiiyah menghukumi makruh menulis kalimat Alquran, kalimat tauhid dan lainnya pada benda yang sekiranya sulit menjaga kemulian kalimat-kalimat tersebut.

Misalnya, menulis nama Allah pada bendera, undangan, baju, topi, dan lainnya.

Bahkan ulama Malikiyah berpendapat haram karena akan menyebabkan kalimat-kalimat tersebut diremehkan.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Kuwaitiyah berikut.

ذهب الشافعية وبعض الحنفية إلى كراهة نقش الحيطان بالقرآن مخافة السقوط تحت أقدام الناس ، ويرى المالكية حرمة نقش القرآن واسم الله تعالى على الحيطان لتأديته إلى الامتهان

“Ulama Syafiiyah dan sebagian ulama Hanafiyah berpendapat terhadap kemakruhan mengukir (menulis) dinding dengan Alquran karena dikhawatirkan jatuh di bawah kaki manusia.

Sementara itu, ulama Malikiyah berpandangan bahwa haram menulis Alquran dan nama Allah di atas dinding karena akan menyebabkan nantinya disepelekan.”

Apabila terlanjur ditulis pada benda tersebut, maka para ulama menyarankan dua tindakan untuk menjaga dan memuliakan kalimat-kalimat tersebut.

Pertama, kalimat-kalimat tersebut dihapus dengan air atau lainnya. Kedua, benda tersebut dibakar dengan api.

Syaikh Zainuddin Al-Malibari mengatakan dalam kitabnya Fathul Mu’in, bahwa menghapus dengan air lebih utama dibanding membakarnya.

Hal ini jika proses menghapus dengan air tersebut mudah dilakukan dan airnya tidak jatuh ke tanah.

Namun jika sulit menghapusnya atau airnya jatuh ke tanah, maka membakarnya lebih utama.

Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj disebutkan;

والغسل أولى منه أي إذا تيسر ولم يخش وقوع الغسالة على الارض وإلا فالتحريق أولى بجيرمي عبارة البصري قال الشيخ عز الدين وطريقه أن يغسله بالماء أو يحرقه بالنار قال بعضهم إن الاحراق أولى لان الغسالة قد تقع على الارض

“Membasuh lebih utama dibanding membakarnya. Ini jika mudah dan tidak dikhawatirkan airnya jatuh ke tanah.

Jika sebaliknya, maka membakarnya lebih utama, (Bujairimi dengan ibarat Al-Bashri).

Syaikh Izzuddin mengatakan, caranya ialah membasuhnya dengan air atau membakarnya dengan api.

Sebagian ulama mengatakan, membakarnya lebih utama karena membasuh dengan air akan jatuh ke tanah.”

Ada keterangan menarik dari Sayyidina ‘Ali Karramahullahu Wajhah:

إذا رأيتم الرايات السود فالزموا الأرض، فلا تحركوا أيديكم ولا أرجلكم ثم يظهر قوم ضعفاء لا يؤبه لهم قلوبهم كزبر الحديد، هم أصحاب الدولة لا يفون بعهد ولا ميثاق يدعون إلى الحق وليسوا من أهله أسماؤهم الكنى ونسبتهم القرى وشعورهم مرخاة كشعور النساء حتى يختلفوا فيما بينهم ثم يؤتي الله الحق من يشاء

“Jika kalian melihat bendera hitam, maka berdiamlah jangan ikut. Kemudian akan muncul kaum yang semua manusia akan membencinya.

Hati mereka kaku, keras & kejam. Mereka (mengaku) pemegang daulah (Islamiyyah). Mereka tidak menepati janji dan kesepakatan.

Mereka mengajak kepada kebenaran sedangkan mereka bukan orang yg benar.

Nama mereka menggunakan Kun’yah dan nisbat mereka menggunakan nama daerah.

Rambut mereka terurai seperti wanita, hingga mereka berselisih diantara mereka.

Kemudian Allah mendatangkan kebenaran kepada yang Allah kehendaki”.
(Kanzul ‘Ummal juz 11 halaman 283)

Peringatan sayyidina Ali ini, telah semakin mengungkap fenomena kebrutalan kelompok Daulah Islamiyyah Irak dan Syam (ISIS) saat ini.

Semua ciri dan sifat di atas terdapat pada ISIS, HTI dan yang sejenisnya.

Wallahu A’lam Bis Showab.

Hukum Membakar Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid

_______________________
Hallo Benang merah
WA: 085816500772
: 08139380366
: 081211573590

Demikian pembahasan tentang Hukum Membakar Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Info seputar pondok pesantren dan edukasi sanri bisa pembaca kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.