Hukum Menggendong Bayi Saat Shalat

Benangmerahdasi  -Fiqih bab Shalat Tentang Hukum Menggendong Bayi Saat Shalat. Menjawab Pertanyaan dari keluarga dasi, beliau menanyakan bagaimana Hukum Menggendong Bayi Saat Shalat. berikut ini penjelasan lengkapnya..

BENANG MERAH
NO:00396
FIQIH BAB SHOLAT
[Tentang hukum menggendong bayi saat shalat]

Hallo Benang merah
WA: 081384451265
WA: 08998605999
WA: 081393803665

Pertanyaan
Hukum Menggendong Bayi Saat Shalat?

Jawaban
Mujawib: Fathur El-Rozy

Hukumnya Boleh dan Sah.

Ulama’ madzhab syafi’i memberikan perincian mengenai masalah dlm deskripsi diatas sebagai berikut :

Jika memang ia yakin atau mempunyai persangkaan yang kuat (dhon gholib) bahwasanya anak kecil tersebut membawa najis yg terdapat pada salah satu qubul (alat kelamin) atau duburnya semisal, maka sholat orang yg membawa anak kecing tersebut batal.

Baca Juga: Hukum Melakukan Shalat Ghoib Sebelum Mayit di Makamkan

Jika ia tidak yakin atau tidak mempunyai dhon gholib bahwa anak tersebut membawa najis, maka terdapat pertentangan antara hukum asal dan hukum pada umumnya (Ta’arudhul Ashli Wal Gholib), berdasar hukum asal, badan anak kecil sekaligus bajunya dihukumi suci, sedangkan pada umumnya (Gholib) anak kecil tidak menghindarkan diri dari sesuatu yg najis.

Namun dalam hal ini hukum asallah yg dimenangkan, dan sholat menggedong anak tersebut dihukumi sah.

Hukum Menggendong Bayi Saat Shalat

Referensi:

➖Syarah An-Nawawi Ala Muslim, Juz : 5 Hal : 31-32

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻗﺘﺎﺩﺓ : ‏« ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻭﻫﻮ ﺣﺎﻣﻞ ﺃﻣﺎﻣﺔ ﺑﻨﺖ ﺯﻳﻨﺐ ﺑﻨﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻷﺑﻲ ﺍﻟﻌﺎﺹ ﺑﻦ ﺍﻟﺮﺑﻴﻊ، ﻓﺈﺫﺍ ﻗﺎﻡ ﺣﻤﻠﻬﺎ ﻭﺇﺫﺍ ﺳﺠﺪ ﻭﺿﻌﻬﺎ
……………………………………
ﻓﻔﻴﻪ ﺩﻟﻴﻞ ﻟﺼﺤﺔ ﺻﻼﺓ ﻣﻦ ﺣﻤﻞ ﺁﺩﻣﻴﺎ ﺃﻭ ﺣﻴﻮﺍﻧﺎ ﻃﺎﻫﺮﺍ ﻣﻦ ﻃﻴﺮ ﻭﺷﺎﺓ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻭﺃﻥ ﺛﻴﺎﺏ ﺍﻟﺼﺒﻴﺎﻥ ﻭﺃﺟﺴﺎﺩﻫﻢ ﻃﺎﻫﺮﺓ ﺣﺘﻰ ﺗﺘﺤﻘﻖ ﻧﺠﺎﺳﺘﻬﺎ – ﺍﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ – ﻫﺬﺍ ﻳﺪﻝ ﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻣﻦ ﻭﺍﻓﻘﻪ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﺣﻤﻞ ﺍﻟﺼﺒﻲ ﻭﺍﻟﺼﺒﻴﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻴﻮﺍﻥ ﺍﻟﻄﺎﻫﺮ ﻓﻲ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻭﺻﻼﺓ ﺍﻟﻨﻔﻞ ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺫﻟﻚ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﻭﺍﻟﻤﻨﻔﺮﺩ

➖Hasyiyah Al-Bujairomi Alal Khotib, Juz : 1 Hal : 443

ﻓﺮﻉ : ﻟﻮ ﺗﻌﻠﻖ ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﻲ ﺻﺒﻲ ﺃﻭ ﻫﺮﺓ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻻ ﺗﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻪ؛ ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻤﺎ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﻓﻴﻪ ﺍﻷﺻﻞ، ﻭﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺇﺫ ﺍﻷﺻﻞ ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻭﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ، ﻭﺧﺮﺝ ﺑﻘﻮﻟﻨﺎ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻋﻠﻤﻪ، ﺛﻢ ﻏﺎﺑﺖ ﺍﻟﻬﺮﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﻄﻔﻞ ﺯﻣﻨﺎ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﻓﻴﻪ ﻏﺴﻞ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻓﻬﻮ ﺑﺎﻕ ﻋﻠﻰ ﻧﺠﺎﺳﺘﻪ ﻓﺘﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻪ ﻟﺘﻌﻠﻘﻬﻤﺎ ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﻲ.

➖Hasyiyah Asy-Syibromilsi, Juz : 2 Hal : 18

ﻗﻮﻟﻪ : ﻷﻧﺎ ﻻ ﻧﺘﻴﻘﻦ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﻮﺿﻊ ﺍﻹﺻﺎﺑﺔ ‏) ﻣﻨﻪ ﻳﺆﺧﺬ ﺃﻧﻪ ﻟﻮ ﺗﻌﻠﻖ ﺑﻪ ﺻﺒﻲ ﺃﻭ ﻫﺮﺓ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻻ ﺗﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻪ؛ ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻤﺎ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﻓﻴﻪ ﺍﻷﺻﻞ ﻭﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺇﺫ ﺍﻷﺻﻞ ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻭﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ، ﻭﺧﺮﺝ ﺑﻘﻮﻟﻨﺎ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻋﻠﻤﻪ ﺛﻢ ﻏﺎﺑﺖ ﺍﻟﻬﺮﺓ ﻭﺍﻟﻄﻔﻞ ﺯﻣﻨﺎ ﻳﻤﻜﻦ ﻓﻴﻪ ﻏﺴﻞ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻓﻬﻮ ﺑﺎﻕ ﻋﻠﻰ ﻧﺠﺎﺳﺘﻪ ﻓﺘﺒﻄﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﺘﻌﻠﻘﻬﻤﺎ ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﻲ

Hal serupa juga pernah dilakukn oleh Rasulullah SAW ketika membawa Umamah, cucu perempuan beliau ketika shalat brsama kaum Muslimin. Seandainya shalat orang yg membawa anak tersebut otomatis dihukumi batal karna mmbawa najis, mka tentulah Nabi Muhammad SAW tidak akn menggendongnya ketika itu…

Hal ini dijelaskan olh Syekh Said ibn Muhammad Al-Hadhromi As-Syafi’i dalm kitabnya Syarhul Muqaddimah Al-Hadhramiyyah atau trkenal dg nama
Busyrol Karim bi Syarhi Masa’ilit Ta’lim sbg berikut..

ﺃﻣﺎ ﺣﻤﻞ ﺍﻟﺤﻲ ﻓﻼ ﻳﻀﺮ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﺑﻈﺎﻫﺮﻩ، ﻭﻻ ﻧﻈﺮ ﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺑﺎﻃﻨﻪ ﻟﺤﻤﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻣﺎﻣﻪ ﺑﻨﺖ ﺑﻨﺘﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ، ﺇﺫ ﻻ ﻳﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻰ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﺒﺎﻃﻦ ﺣﻜﻢ ﺣﺘﻰ ﺗﺘﺼﻞ ﺑﺎﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻭ ﻳﺘﺼﻞ ﺑﻬﺎ ﻣﺎ ﺑﻌﻀﻪ ﺑﺎﻟﻈﺎﻫﺮ .

Artinya, “Adapun mmbawa orang yg hidup (anak2 dalm sholat) maka tidak masalh jika tidak diketahui adanya najis secara nyata (terlihat). Begitu juga, tidak perlu diteliti keberada’an najis yg tidak trlihat karna mengikuti perbuatan Rasul yg mmbawa Umamah, cucu perempuan beliau sewaktu melaksanakn sholat.. Karna, najis yg tidak terlihat tersebut tidak mempunyai hukum apa2 hingga ia menempel pada bagian tubuh yg tampak / menempel pada bagian yg tampak dzohir lainnya (seperti pakaian dan lain2 ).”

Hasi Kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan kegiatan grup DASI bisa anda kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.