Kajian Fiqih Wanita Kitab “RISALATUL MAHIDH” Tentang Darah Haid

benangmerahdasi
Read Time1 Minute, 26 Seconds

Benangmerahdasi Kajian Fiqih wanita “RISALATUL MAHIDH” melanjutkan kajian yang sudah sampai ke bagian 12,

Kajian Fiqih wanita kitab Risalatul Mahid yang ke 13 ini masih  membahas tentang mustahadhoh mubtadi’ah mumayyizah.

KAJIAN FIQIH WANITA “RISALATUL MAHIDH”
Bagian: 13
Oleh: Maziyyah

بسم الله الرحمن الرحيم

=> Masih lanjutan mustahadhoh mubtadi’ah mumayyizah:

Pada kajian sebelumnya sudah dijelaskan bahwa cara menghukumi pada mustahadhoh mubtadi’ah mumayyizah adalah darah yang kuat dihukumi haidh dan darah yang lemah dihukumi istihadhoh dengan 4 syarat yang juga sudah dipaparkan pada kajian sebelumnya.

Namun pada beberapa kasus mustahadhoh mubatdia’ah mumayyizah darah dhoif juga bisa dihukumi haidh seperti halnya darah kuat ketika darah dhoif tersebut berkumpul pula dengan darah adh’af/lebih lemah dalam satu kasus yang sama, sehingga darah adh’af inilah yang dihukumi istihadhoh dan darah qowiy + dho’if yang dihukumi sebagai haidh.

Namun hukum ini bisa berlaku ketika terpenuhi 3 syarat dibawah ini:
~ keluarnya darah qowiy harus mendahului dari darah dho’if dan adh’af.
~ darah qowiy harus langsung menyambung dengan darah dho’if, artinya darah keluar harus berurutan dari qowiy kemudian dho’if kemudian adh’af, tidak boleh dari qowiy kemudian adh’af kemudian dho’if.
~ antara darah qowi dan dhoif ketika digabung itu tidak melebihi 15 hari.

Contoh: seorang perempuan di usianya yang memungkinkan haidh mengeluarkan darah untuk pertama kalinya selama 20 hr dengan deskripsi sebagai berikut:

7 hr: keluar darah hitam
7 hr: keluar darah merah
6 hr: keluar darah coklat

Baca Juga: Kajian Kitab Risalatul Mahid Bagian 12

Maka yang dihukumi haidh adalah 14 hr pertama yaitu 7 hr darah hitam + 7 hr darah merah, adapaun 6 hr darah coklat dihukumi istihadhoh dikarenakan dalam kasus ini ketiga syarat di atas sudah terpenuhi sehingga darah dho’if juga disertakan sebagai darah seperti halnya darah qowiy, dan adh’af nya dihukumi sebagai istihadhoh.

Referensi:

حاشية الجمل على شرح المنهج ج ١ ص ٢٤٨-٢٤٩:
(ﻗﻮﻟﻪ: ﻓﺎﻟﻀﻌﻴﻒ) ، ﻭﺇﻥ ﻃﺎﻝ اﺳﺘﺤﺎﺿﺔ ﻛﺄﻥ ﺭﺃﺕ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻟﻴﻠﺔ ﺳﻮاﺩا ﺛﻢ اﺗﺼﻞ ﺑﻪ اﻟﻀﻌﻴﻒ ﻭﺗﻤﺎﺩﻯ ﺳﻨﻴﻦ؛ ﻷﻥ ﺃﻛﺜﺮ اﻟﻄﻬﺮ ﻻ ﺣﺪ ﻟﻪ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻭاﻟﻘﻮﻱ ﺣﻴﺾ ﺃﻱ ﻣﻊ ﺑﻘﺎء ﺗﺨﻠﻠﻪ ﻛﺄﻥ ﺭﺃﺕ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻟﻴﻠﺔ ﺳﻮاﺩا ﺛﻢ ﻛﺬﻟﻚ ﻧﻘﺎء ﺛﻢ ﻛﺬﻟﻚ ﺳﻮاﺩا ﻭﻫﻜﺬا ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﺛﻢ ﺃﻃﺒﻘﺖ اﻟﺤﻤﺮﺓ ﻭﻟﻮ اﺟﺘﻤﻊ ﻗﻮﻱ ﻭﺿﻌﻴﻒ ﻭﺃﺿﻌﻒ ﻓﺎﻟﻘﻮﻱ ﻣﻊ ﻣﺎ ﻳﻨﺎﺳﺒﻪ ﻓﻲ اﻟﻘﻮﺓ ﻣﻦ اﻟﻀﻌﻴﻒ ﺣﻴﺾ ﺑﺜﻼﺛﺔ ﺷﺮﻭﻁ ﺃﻥ ﻳﺘﻘﺪﻡ اﻟﻘﻮﻱ ﻭﺃﻥ ﻳﺘﺼﻞ ﺑﻪ اﻟﻤﻨﺎﺳﺐ اﻟﻀﻌﻴﻒ ﻭﺃﻥ ﻳﺼﻠﺤﺎ ﻣﻌﺎ ﻟﻠﺤﻴﺾ ﺑﺄﻥ ﻻ ﻳﺰﻳﺪ ﻣﺠﻤﻮﻋﻬﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﻛﺜﺮﻩ ﻛﺨﻤﺴﺔ ﺳﻮاﺩا ﺛﻢ ﺧﻤﺴﺔ ﺣﻤﺮﺓ ﺛﻢ ﺃﻃﺒﻘﺖ اﻟﺼﻔﺮﺓ ﻓﺎﻷﻭﻻﻥ ﺣﻴﺾ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺼﻠﺤﺎ ﻣﻌﺎ ﻟﻠﺤﻴﺾ ﻛﻌﺸﺮﺓ ﺳﻮاﺩا ﻭﺳﺘﺔ ﺣﻤﺮﺓ ﺛﻢ ﺃﻃﺒﻘﺖ اﻟﺼﻔﺮﺓ ﺃﻭ ﺻﻠﺤﺎ ﻟﻜﻦ ﺗﻘﺪﻡ اﻟﻀﻌﻴﻒ ﻛﺨﻤﺴﺔ ﺣﻤﺮﺓ ﺛﻢ ﺧﻤﺴﺔ ﺳﻮاﺩا ﺛﻢ ﺃﻃﺒﻘﺖ اﻟﺼﻔﺮﺓ ﺃﻭ ﺗﺄﺧﺮ ﻟﻜﻦ ﻟﻢ ﻳﺘﺼﻞ اﻟﻀﻌﻴﻒ ﺑﺎﻟﻘﻮﻱ ﻛﺨﻤﺴﺔ ﺳﻮاﺩا ﺛﻢ ﺧﻤﺴﺔ ﺻﻔﺮﺓ ﺛﻢ ﺃﻃﺒﻘﺖ اﻟﺤﻤﺮﺓ ﻓﺎﻟﺤﻴﺾ اﻷﺳﻮﺩ ﻓﻘﻂ اﻩـ

والله أعلم بالصواب………………

DASI Dagelan Santri Indonesia

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Kajian Kitab Ta'liimul Muta'allim Agar Selalu Berdo'a dan Mengabdi Kepada Ilmu

  Benangmerahdasi  –Kajian Kitab Ta’liimul Muta’allim Agar Selalu Berdo’a dan Mengabdi Kepada Ilmu. Dianjurkan hendaklah murid selalu berdoa kepada Alloh dan ber-tadlarru’ (Tadlarru’ dalam bahasa jawa biasanya diterjemahkan dengan “dhepe-dhepe”, yaitu sikap merendah diri semacam meronta dan meratap kepada Alloh SWT.) Kajian Ta’liimul Muta’allim, No : 034 Setiap hari : Selasa, […]

Berlangganan Sekarang