Kajian Fiqih Wanita Tentang Mustahadhoh Mubtadi’ah Ghoiru Mumayyizah

benangmerahdasi
Read Time4 Minutes, 33 Seconds

Benangmerahdasi  -Kajian Fiqih Wanita Tentang Mustahadhoh Mubtadi’ah Ghoiru Mumayyizah. Melanjutkan kajian bagian 13 yang membahas tentang  mustahadhoh mubtadi’ah mumayyizah

Mustahdhoh kedua adalah mubtadi’ah ghoiru mumayizah yaitu wanita yang baru pernah mengeluarkan darah di usia haidhnya namun darah yang keluar tersebut langsung tembus/melewati 15 hari. Dan akan tetapi juga wanita tersebut tidak dapat membedakan mana darah yang kuat dan mana darah yang lemah.

KAJIAN FIQIH WANITA
Kitab: RISALATUL MAHIDH
Bagian: 14
Oleh: Maziyyah

بسم الله الرحمن الرحيم

!!. MUSTAHADHOH MUBTADI’AH GHOIRU MUMAYYIZAH

Mustahdhoh kedua adalah mubtadi’ah ghoiru mumayizah yaitu wanita yang baru pernah mengeluarkan darah di usia haidhnya namun darah yang keluar tersebut langsung tembus/melewati 15 hr. Dan akan tetapi juga wanita tersebut tidak dapat membedakan mana darah yang kuat dan mana darah yang lemah.

Baca Juga: kajian fiqih wanita Kitab: RISALATUL MAHIDH bagian: 13

Atau bisa membedakan mana darah kuat mana darah lemah namun hanya saja syaratnya tidak terpenuhi sehingga wanita ini nanti disebut juga Mubtadi’ah Mumayyizah Faqidatussyarthi atau wanita yang baru mengeluarkan darah di usia yang memungkinkan haidh dan darahnya keluar melebihi 15 hr, juga dirinya bisa membedakan darah mana yang kuat dan mana lemah akan tetapi darahnya tidak memenuhi ke 4 syarat tamyiz yang sudah di sebutkan pada bab mustahadhoh Mubtadi’ah Mumayyizah.

=> Mengenai hukumnya wanita mustahadhoh seperti ini menurut jumhur ‘ulama yang dihukumi haidh adalah sehari semalam saja dan 29 hari sisanya dihukumi istihadhoh.
Sedang menurut qoul Ashoh dikembalikan ke gholib/umumnya haidh yaitu antara 6 atau 7 hari dan sisanya 24 atau 23 harinya dihukumi istihadhoh.

=> Walhasil daur atau siklus pada kasus mustahadhoh mubtadi’ah harus berjumlah 30 hari. Tidak boleh kurang juga tidak boleh lebih. Sehingga jika dalam menghukumi yang digunakan adalah pendapat yang mengatakan haidhnya sehari semalam maka yang dihukumi istihadhoh harus 29 hari. Dan jika yang digunakan pendapat 6 atau 7 hari maka yang dihukumi istihadhoh harus 24/23 hari.

Namun hukum ini berlaku ketika wanita mustahdhoh tadi ingat permulaan keluarnya darah. Jika tidak maka hukumnya disamakan seperti mutahayyiroh. Yang akan dijelaskan pada kajian selanjutnya insya Allahu Ta’ala.

Baca Juga: Kajian Fiqih wanita Kitab Risalatul Mahidh bagian 12 pembagian mustahadhoh

√ Di atas sudah disebutkan bahwa seorang wanita dihukumi mustahadhoh mubtadi’ah ghoiru mumayyizah adakalanya karena sebab darah yang keluar tidak bisa dibedakan antara mana yang kuat dan mana yang lemah oleh si wanita mustahadhoh.

Seperti contoh:
~ Seorang wanita di usia yang memungkinkan haidh keluar darah untuk pertama kalinya. Namun darah tersebut tembus sampai melewati batas 15 hr. Yaitu keluar sebanyak 20 hr. Dan ternyata si wanita ini tidak mampu membeda-bedakan darah antara mana yang kuat dan mana yang lemah. Maka yang dihukumi haidh adalah sehari semalam saja sedang 19 hr nya di hukumi istihadhoh.

√ Dan ada kalanya darah yang keluar tidak memenuhi ke 4 syarat tamyiz. Padahal si wanita ini bisa membedakan darah mana yang kuat mana yang lemah. Dan wanita seperti ini di sebut juga mubtadi’ah mumayyizah faqidatussyarti. Namun dari segi hukumnya tetap seperti mustahadhoh mubtadi’ah ghoiru mumayyizah yaitu yang dihukumi haidh hanya sehari semalam saja dan yang dihukumi istihadhoh 29 hr.

Contoh2:
~ Seorang wanita belum pernah haidh dan di usia yang memungkinkan haid ia keluar darah sampai melewati 15 hr. Jelasnya yaitu ia mengeluarkan darah selama 17 hr dengan seluruh sifat yang sama yaitu warna merah. Maka yang dihukumi haidh adalah sehari semalam saja dan sisanya 16 hr dihukumi istihadhoh.

(Dalam kasus ini darah yang keluar tidak memenuhi kriteria darah bisa dihukumi tamyiz dikarenakan darah keluar dalam satu sifat yang sama)

~ Seorang wanita belum pernah haidh dan di usia yang memungkinkan haid ia keluar darah sampai melewati 15 hr jelasnya:
12 jam (setengah hari): keluardarah hitam
16 hr: keluar darah merah

Maka yang dihukumi haidh adalah sehari semalam saja dan 15 hr lebih 12 jam dihukumi istihadhoh.
(Dalam kasus ini darah yang keluar tidak memenuhi syarat tamyiz dikarenakan darah kuat keluar kurang dari 24 jam)

~ Seorang wanita belum pernah haidh dan di usia yang memungkinkan haid ia keluar darah sampai melewati 15 hr jelasnya:
16 hr: keluar darah hitam
4 hr: keluar darah merah

Maka yang dihukumi haidh adalah sehari semalam saja dan 19 hr sisanya dihukumi istihadhoh.
(Dalam kasus ini darah yang keluar tidak memenuhi syarat tamyiz dikarenakan darah kuat keluar lebih dari 15 hr)

~ Seorang wanita belum pernah haidh dan di usia yang memungkinkan haid ia keluar darah sampai melewati 15 hr jelasnya:
7 hr: keluar darah hitam
14 hr: keluar darah merah
5 hr: keluar darah hitam

Maka yang dihukumi haidh adalah sehari semalam saja dan 25 hr sisanya dihukumi istihadhoh.
(Dalam kasus ini darah yang keluar tidak memenuhi syarat tamyiz dikarenakan darah lemah kurang dari 15 hr, dan sudah disusuli lagi darah kuat. Padahal kasus diatas termasuk darah yang keluar secara istimror/terus menerus)

~ Seorang wanita belum pernah haidh dan di usia yang memungkinkan haid ia keluar darah sampai melewati 15 hr jelasnya:
10 hr: keluar darah hitam
6 hr: keluar darah merah
1 hr: keluar darah hitam
1 hr: keluar darah merah

Maka yang dihukumi haidh adalah sehari semalam saja dan 17 hr sisanya dihukumi istihadhoh.
(Dalam kasus ini darah yang keluar tidak memenuhi syarat tamyiz dikarenakan darah lemah setelah 15 hr terjadi selang seling dengan darah kuat).

√ Adapun pada bulan kedua mustahdhoh mubtadi’ah mumayyizah ini langsung mandi besar setelah melewati sehari semalam, tidak perlu menunggu sampai lewat 15 hari. Dan ternyata jika nanti darah berhenti sebelum masa 15 hari maka darah yang keluar dari permulaan bulan kedua sampai berhentinya darah tadi semuanya dihukumi haidh.

Dan sholat/ataupun puasa yang dilakukan di waktu-waktu setelah sehari semalam hukumnya tidak sah, begitupun pada mandi besarnya, jadi wajib mengulang mandi besar setelah berhentinya darah sebelum masa 15 hr tadi.

Referensi:

مغنى المحتاج : ١ ص ٢٨٦:
ﺛﻢ ﺷﺮﻉ ﻓﻲ اﻟﻤﺴﺘﺤﺎﺿﺔ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻭﻫﻲ ﻭاﻟﻤﺒﺘﺪﺃﺓ ﻏﻴﺮ اﻟﻤﻤﻴﺰﺓ، ﻓﻘﺎﻝ (ﺃﻭ) ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻦ ﺟﺎﻭﺯ ﺩﻣﻬﺎ ﺃﻛﺜﺮ اﻟﺤﻴﺾ (ﻣﺒﺘﺪﺃﺓ ﻻ ﻣﻤﻴﺰﺓ ﺑﺄﻥ ﺭﺃﺗﻪ ﺑﺼﻔﺔ) ﻭاﺣﺪﺓ (ﺃﻭ) ﺭﺃﺗﻪ ﺑﺼﻔﺎﺕ ﻣﺨﺘﻠﻔﺔ، ﻟﻜﻦ (ﻓﻘﺪﺕ ﺷﺮﻁ ﺗﻤﻴﻴﺰ) ﻣﻦ ﺷﺮﻭﻃﻪ اﻟﺴﺎﺑﻘﺔ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﻌﺮﻑ ﻭﻗﺖ اﺑﺘﺪاء ﺩﻣﻬﺎ ﻓﻜﻤﺘﺤﻴﺮﺓ، ﻭﺳﻴﺄﺗﻲ ﺣﻜﻤﻬﺎ ﻭﺇﻥ ﻋﺮﻓﺘﻪ (ﻓﺎﻷﻇﻬﺮ ﺃﻥ ﺣﻴﻀﻬﺎ ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ) ﻣﻦ ﺃﻭﻝ اﻟﺪﻡ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺿﻌﻴﻔﺎ؛ ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻫﻮ اﻟﻤﺘﻴﻘﻦ، ﻭﻣﺎ ﺯاﺩ ﻣﺸﻜﻮﻙ ﻓﻴﻪ ﻓﻼ ﻳﺤﻜﻢ ﺑﺄﻧﻪ ﺣﻴﺾ (ﻭﻃﻬﺮﻫﺎ ﺗﺴﻊ ﻭﻋﺸﺮﻭﻥ) ﺗﺘﻤﺔ اﻟﺸﻬﺮ ﻟﻴﺘﻢ اﻟﺪﻭﺭ ﺛﻼﺛﻴﻦ ﻣﺮاﻋﺎﺓ ﻟﻐﺎﻟﺒﻪ، ﻭﻟﺬا ﻟﻢ ﻧﺤﻴﻀﻬﺎ اﻟﻐﺎﻟﺐ اﺣﺘﻴﺎﻃﺎ ﻟﻠﻌﺒﺎﺩﺓ

المجموع ج ٢ ص ٣٩٦:
ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﺒﺘﺪﺃﺓ ﻏﻴﺮ ﻣﻤﻴﺰﺓ ﻭﻫﻲ اﻟﺘﻲ ﺑﺪﺃ ﺑﻬﺎ اﻟﺪﻡ ﻭﻋﺒﺮ اﻟﺨﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻭاﻟﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺻﻔﺔ ﻭاﺣﺪﺓ ﻓﻔﻴﻬﺎ ﻗﻮﻻﻥ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺗﺤﻴﺾ ﺃﻗﻞ اﻟﺤﻴﺾ ﻷﻧﻪ ﻳﻘﻴﻦ ﻭﻣﺎ ﺯاﺩ ﻣﺸﻜﻮﻙ ﻓﻴﻪ ﻓﻼ ﻳﺤﻜﻢ ﺑﻜﻮﻧﻪ ﺣﻴﻀﺎ ﻭاﻟﺜﺎﻧﻲ ﺗﺮﺩ ﺇﻟﻰ ﻏﺎﻟﺐ ﻋﺎﺩﺓ اﻟﻨﺴﺎء ﻭﻫﻮ ﺳﺖ ﺃﻭ ﺳﺒﻊ ﻭﻫﻮ اﻷﺻﺢ

حاشية الجمل على شرح المنهج ج ١ ص ٢٤٩:
(ﻗﻮﻟﻪ: ﺃﻭ ﻻ ﻣﻤﻴﺰﺓ) ﻻ اﺳﻢ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﻏﻴﺮ ﻇﻬﺮ ﺇﻋﺮاﺑﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺑﻌﺪﻫﺎ ﻟﻜﻮﻧﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺻﻮﺭﺓ اﻟﺤﺮﻑ اﻩـ ﺷﻴﺨﻨﺎ (ﻗﻮﻟﻪ: ﻟﻜﻦ ﻓﻘﺪﺕ ﺷﺮﻃﺎ) ﻣﻤﺎ ﺫﻛﺮ ﻗﺎﻝ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ اﻹﺭﺷﺎﺩ ﻛﺄﻥ ﺭﺃﺕ اﻟﻘﻮﻱ ﺩﻭﻥ ﺃﻗﻠﻪ ﻛﻨﺼﻒ ﻳﻮﻡ ﺃﺳﻮﺩ ﺃﻭ ﻓﻮﻕ ﺃﻛﺜﺮﻩ ﻛﺴﺘﺔ ﻋﺸﺮ ﺃﺳﻮﺩ ﺛﻢ ﺃﻃﺒﻘﺖ اﻟﺤﻤﺮﺓ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﺃﻭ اﻟﻀﻌﻴﻒ ﺩﻭﻥ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻛﺄﻥ ﺭﺃﺕ اﻷﺳﻮﺩ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻟﻴﻠﺔ ﺛﻢ اﻷﺣﻤﺮ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﻋﺸﺮ ﺛﻢ ﻋﺎﺩ اﻷﺳﻮﺩ اﻩـ اﻧﺘﻬﻰ ﺳﻢ (ﻗﻮﻟﻪ: ﻓﺤﻴﻀﻬﺎ ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ) ﺃﻱ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ ﻛﻤﺎ ﻳﺆﺧﺬ ﻣﻤﺎ ﺑﻌﺪﻩ اﻩـ ﺑﺮﻣﺎﻭﻱ (ﻗﻮﻟﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﺤﻴﻀﻬﺎ ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ) ﺃﻱ ﻷﻥ ﺳﻘﻮﻁ اﻟﺼﻼﺓ ﻋﻨﻬﺎ ﻓﻲ ﻫﺬا اﻟﻘﺪﺭ ﻣﺘﻴﻘﻦ ﻓﻴﻤﺎ ﺳﻮاﻩ ﻣﺸﻜﻮﻙ ﻓﻴﻪ ﻓﻼ ﻳﺘﺮﻙ اﻟﻴﻘﻴﻦ ﺇﻻ ﺑﻤﺜﻠﻪ ﺃﻭ ﺃﻣﺎﺭﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻣﻦ ﺗﻤﻴﻴﺰ ﺃﻭ ﻋﺎﺩﺓ ﻟﻜﻨﻬﺎ ﻓﻲ اﻟﺪﻭﺭ اﻷﻭﻝ ﺗﻤﻬﻞ ﺣﺘﻰ ﻳﻌﺒﺮ اﻟﺪﻡ ﺃﻛﺜﺮﻩ ﻓﺘﻐﺘﺴﻞ ﻭﺗﻘﻀﻲ ﻣﺎ ﺯاﺩ ﻋﻠﻰ اﻟﻴﻮﻡ ﻭاﻟﻠﻴﻠﺔ ﻭﻓﻲ اﻟﺪﻭﺭ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﺗﻐﺘﺴﻞ ﺑﻤﺠﺮﺩ ﻣﻀﻲ ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ ﻋﻠﻰ اﻷﻇﻬﺮ ﺇﻥ اﺳﺘﻤﺮ ﻓﻘﺪ اﻟﺘﻤﻴﻴﺰ

المجموع ج ٢ ص ٤٠١:
(ﻓﺮﻉ)
ﻗﺎﻝ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﺭﺣﻤﻬﻢ اﻟﻠﻪ ﺇﺫا ﺭﺃﺕ اﻟﻤﺒﺘﺪﺃﺓ اﻟﺪﻡ ﻓﻲ ﺃﻭﻝ ﺃﻣﺮﻫﺎ ﺃﻣﺴﻜﺖ ﻋﻦ اﻟﺼﻮﻡ ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻣﻤﺎ ﺗﻤﺴﻚ ﻋﻨﻪ اﻟﺤﺎﺋﺾ ﺭﺟﺎء ﺃﻥ ﻳﻨﻘﻄﻊ ﻋﻠﻰ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻳﻮﻣﺎ ﻓﻤﺎ ﺩﻭﻧﻬﺎ ﻓﻴﻜﻮﻥ ﻛﻠﻪ ﺣﻴﻀﺎ ﻓﺈﺫا اﺳﺘﻤﺮ ﻭﺟﺎﻭﺯ اﻟﺨﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻋﻠﻤﻨﺎ ﺃﻧﻬﺎ ﻣﺴﺘﺤﺎﺿﺔ ﻭﻓﻲ ﻣﺮﺩﻫﺎ اﻟﻘﻮﻻﻥ ﻓﺈﺫا اﺳﺘﻤﺮ ﺑﻬﺎ اﻟﺪﻡ ﻓﻲ
اﻟﺸﻬﺮ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﻟﻐﺴﻞ ﻋﻨﺪ اﻧﻘﻀﺎء اﻟﻤﺮﺩ ﻭﻫﻮ ﻳﻮﻡ ﻭﻟﻴﻠﺔ ﺃﻭ ﺳﺖ ﺃﻭ ﺳﺒﻊ ﻭﻻ ﺗﻤﺴﻚ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮ اﻟﺨﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻷﻧﺎ ﻋﻠﻤﻨﺎ ﺑﺎﻟﺸﻬﺮ اﻷﻭﻝ ﺃﻧﻬﺎ ﻣﺴﺘﺤﺎﺿﺔ ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻥ ﺣﺎﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﻫﺬا اﻟﺸﻬﺮ ﻛﺤﺎﻟﻬﺎ ﻓﻲ اﻷﻭﻝ ﻭﻫﻜﺬا ﺣﻜﻢ اﻟﺸﻬﺮ اﻟﺜﺎﻟﺚ ﻭﻣﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﻣﺘﻰ اﻧﻘﻄﻊ اﻟﺪﻡ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ اﻟﺸﻬﻮﺭ ﻟﺨﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻓﻤﺎ ﺩﻭﻧﻬﺎ ﺗﺒﻴﻨﺎ ﺃﻥ ﺟﻤﻴﻊ اﻟﺪﻡ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ اﻟﺸﻬﺮ ﺣﻴﺾ ﻓﻴﺘﺪاﺭﻙ ﻣﺎ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺗﺪاﺭﻛﻪ ﻣﻦ ﺻﻮﻡ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻣﻤﺎ ﻓﻌﻠﺘﻪ ﺑﻌﺪ اﻟﻤﺮﺩ ﻭﺗﺒﻴﻨﺎ ﺃﻥ ﻏﺴﻠﻬﺎ ﺑﻌﺪ اﻟﻤﺮﺩ ﻟﻢ ﻳﺼﺢ ﻟﻮﻗﻮﻋﻪ ﻓﻲ اﻟﺤﻴﺾ ﻭﻻ ﺇﺛﻢ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻓﻴﻤﺎ ﻓﻌﻠﺘﻪ ﺑﻌﺪ اﻟﻤﺮﺩ ﻣﻦ ﺻﻮﻡ ﻭﺻﻼﺓ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻷﻧﻬﺎ ﻣﻌﺬﻭﺭﺓ

والله أعلم بالصواب……………..

Bersambung..

Bagi anda yang mempunyai pertanyaan silahkan tinggalkan komentar di bawah, akan di bahas sesuai dengan urutan..
Hasil kajian grup DASI bisa di kunjungi di benangmerahdasi.com

1 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Batas Usia Anak yang Menyebabkan Batalnya Wudhu Ketika Bersentuhan Kulit

Benangmerahdasi  –Batas Usia Anak yang Menyebabkan Batalnya Wudhu Ketika Bersentuhan Kulit. Kali ini akan mengulas tentang  berapakah batas usia anak (laki-laki dan perempuan) yang menyebabkan batalnya wudhu ketika bersentuhan kulit (bagi selain mahram). BENANG MERAH NO : 00389 FIQIH BAB KELUARGA Batas Usia Anak yang Menyebabkan Batalnya Wudhu Ketika Bersentuhan […]

Berlangganan Sekarang