Kajian Fiqih Wanita Tentang Mustahadoh Mu’tadah Mumayyizah dan Pembagiannya

Benangmerahdasi  Kajian Fiqih Wanita Tentang Mustahadoh Mu’tadah Mumayyizah dan Pembagiannya. melanjutkan kajian fiqih wanita Kitab Risalatul Mahidh bagian 15.

بسم الله الرحمن الرحيم
MUSTAHADHOH MU’TADAH MUMAYYIZAH

Mustahadhoh yang ketiga yaitu Mu’tadah Mumayyizah. Yaitu wanita yang sudah pernah haidh dan suci sebelumnya dan di waktu yang memungkinkan haidh dirinya mengeluarkan darah sampai melewati 15 hari, dengan serta si wanita ini bisa membedakan mana darah kuat dan mana darah lemah juga darah yang keluar memenuhi syarat tamyiz.

Maka cara menghukuminya yaitu dengan tamyiz seperti halnya pada Mustahadhoh Mubtadi’ah Mumayyizah. Dalam artian darah yang kuat dihukumi haidh dan yang lemah dihukumi istihadhoh. Bukan dengan adat, tapi dengan catatan adat yang mukholif/tidak sesuai dengan tamyiznya. Sehingga jika antara tamyiz dan adatnya sesuai maka dihukumi dengan keduanya.

√ Walhasil Mustahdhoh Mu’tadah Mumayyizah itu dibagi menjadi 3 keadaan, dan cara menghukuminya pun disesuaikan dengan 3 keadaan tadi:

1~ Keadaan dimana antara tamyiz dan adat sesuai.
Maksudnya yaitu antara kadar dan waktu keluarnya darah kuat sama dengan kadar dan waktu kebiasaan haidh sebelumnya. Jika keadaannya demikian maka haidhnya dihukumi berdasarkan keduanya yaitu tamyiz dan adat.

Jelasnya:
Seorang wanita mempunyai adat haidh sejumlah 5 hari yang keluar di awal bulan (tanggal 1-5). Di bulan berikutnya ia mengalami istihadhoh dengan keluar darah sebanyak 17 hari yang dimulai dari awal bulan juga berarti tanggal 1-17, dengan deskripsi darah 5 hari awal berupa darah hitam dan sisanya sampai tanggal 17 berupa darah merah.

Maka dalam kasus ini yang dihukumi haidh adalah 5 hari awal (tanggal 1-5) dikarenakan darah tersebut berupa kuat (menggunakan hukum tamyiz) dan juga karena adatnya berjumlah 5 hari awal (menggunakan hukum adat).

2~ Keadaan dimana antara tamyiz dan adat tidak sesuai, dan antara tamyiz dan adat tadi tidak dipisah dengan masa 15 hari.
Maksudnya yaitu antara darah kuat dan kebiasaan haidh sebelumnya kadar dan waktunya tidak sama, juga tidak di pisah masa 15 hari. Maka jika keadaannya demikian cara menghukuminya yaitu dengan menggunakan tamyiz artinya darah kuat nanti yang dihukumi haidh. Dan tidak dihukumi menggunakan adat/kebiasaan haidhnya.

Jelasnya:
Seorang wanita mempunyai adat haidh sejumlah 5 hari di awal bulan (tanggal 1-5), di bulan berikutnya dirinya mengalami istihadhoh dengan keluar darah selama 17 hari di mulai dari awal bulan juga berarti tanggal 1-17, dengan deskripsi darah 10 hari awal berupa darah hitam dan sisanya berupa darah merah. Maka dalam kasus ini yang dihukumi haidh adalah 10 hari awal dikarenakan berupa darah kuat, dan sisanya dihukumi istihadhoh karena berupa darah lemah (dihukumi dengan menggunakan hukum tamyiz bukan adat).

3~ Keadaan dimana antara tamyiz dan adat tidak sesuai, namun antara tamyiz dan adat tadi sudah dipisah oleh masa 15 hari. Maksudnya yaitu antara darah kuat dan kebiasaan haidhnya kadar dan waktunya tidak sama namun dipisah oleh masa 15 hari. Maka jika keadaannya demikian cara menghukuminya yaitu darah yang menyesuai adat dihukumi sebagai haidh dengan alasan mengikuti adatnya, dan darah yang berupa darah kuat juga dihukumi sebagai haidh dengan alasan mengikuti hukum tamyiznya.

Jelasnya:
Seorang wanita mempunyai adat haidh sejumlah 5 hari di awal bulan (tanggal 1-5), di bulan berikutnya dirinya mengalami istihadhoh dengan keluar darah selama 25 hari di mulai dari awal bulan juga berarti tanggal 1-25, dengan deskripsi darah 20 hari awal berupa darah merah dan 5 hari berikutnya berupa darah hitam.

Baca Juga: Kajian Fiqih Wanita Kitab Risalatul Mahidh Bab Sebelumnya 

Maka dalam kasus ini yang dihukumi haidh adalah 5 hari awal dengan alasan mengikuti adatnya, dan 5 hari akhir yang berupa darah kuat (dihukumi menggunakan hukum tamyiz), dan masa 15 hari darah merah pemisah antara keduanya tamyiz dan adat dihukumi sebagai istihadhoh.

√ Adapun di bulan selanjutnya Mustahadhoh Mu’tadah Mumayyizah dalam mandinya itu seperti Mubtadi’ah Mumayyizah yaitu setelah terjadi perubahan darah dari kuat ke lemah, jadi tidak perlu menunggu sampai darah mencapai 15 hari.

=> Catatan:
Ketika berkumpul dalam seorang mustahadhoh antara tamyiz juga adat maka yang harus didahulukan adalah hukum tamyiznya. Dikarenakan tamyiz itu sifatnya lebih kuat dari adat. Baik mustahadhoh tersebut seorang mubtadi’ah atau mu’tadah yang ingat adatnya ataupun mutahayyiroh (tidak ingat adatnya). Dan baik tamyiz tersebut menyesuai adat ataupun tidak. Juga baik darah kuat yang keluar mendahului darah lemah ataupun tidak.

Referensi:

:حاشية الباجوري على ابن القاسم الغزي ج ١ ص ١١١
ﺍﻟﺼﻮﺭﺓ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻫﻰ ﺍﻟﻤﻌﺘﺎﺩﺓ ﻭﻫﻰ ﺍﻟﺘﻰ ﺳﺒﻖ ﻟﻬﺎ ﺣﻴﺾ ﻭﻃﻬﺮ ﺍﻟﻤﻤﻴﺰﺓ ﻭﻫﻰ ﺍﻟﺘﻰ ﺗﺮﻯ ﻗﻮﻳﺎ ﻭﺿﻌﻴﻔﺎ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻓﻴﺤﻜﻢ ﻟﻬﺎ ﺑﺘﻤﻴﻴﺰ ﻻﻋﺎﺩﺓ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﻟﻪ ﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﺘﺨﻠﻞ ﺑﺒﻨﻬﻤﺎ ﺍﻗﻞ ﺍﻟﻄﻬﺮ ﻓﻠﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﺧﻤﺴﺔ ﻓﻰ ﺍﻭﻝ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻭﺑﻘﻴﺘﻪ ﻃﻬﺮ ﻓﻠﻤﺎ ﻧﺰﻝ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺍﻟﺪﻡ ﻭﺍﺳﺘﻤﺮ ﺭﺃﺕ ﻋﺸﺮﺓ ﺍﺳﻮﺩ ﻣﻦ ﺍﻭﻝ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻭﺑﻘﻴﺘﻪ ﺍﺣﻤﺮ ﻛﺎﻥ ﺣﻴﻀﻬﺎ ﺍﻟﻌﺸﺮﺓ ﻻ ﺍﻟﺨﻤﺴﺔ ﻓﻘﻂ . ﻷﻥ ﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺃﻗﻮﻯ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﻻﻧﻪ ﻋﻼﻣﺔ ﻓﻰ ﺍﻟﺪﻡ ﻭﻫﻰ ﻋﻼﻣﺔ ﻓﻰ ﺻﺎﺣﺒﺘﻪ ﻓﻠﻮﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﻏﻴﺮ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﻟﻠﺘﻤﻴﻴﺰ ﻛﻤﺎ ﻟﻮﻛﺎﻧﺖ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﺧﻤﺴﺔ ﺍﻳﺎﻡ ﻓﻰ ﺍﻭﻝ ﺍﻟﺴﻬﺮ ﻓﺠﺎﺀ ﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﻛﺬﻟﻚ ﺣﻜﻢ ﻟﻬﺎ ﺑﻬﻤﺎ ﻣﻌﺎ ﻭﻟﻮ ﺗﺨﻠﻞ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﺍﻗﻞ ﺍﻟﻄﻬﺮ ﻛﺄﻥ ﺭﺃﺕ ﺑﻌﺪ ﺧﻤﺴﺘﻬﺎ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﺿﻌﻴﻔﺎ ﺛﻢ ﺧﻤﺴﺔ ﻗﻮﻳﺎ ﻗﻢ ﺿﻌﻴﻔﺎ ﻓﻘﺪﺭﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﺣﻴﺾ ﻟﻠﻌﺎﺩﺓ ﻭﻗﺪﺭﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺣﻴﺾ ﺍﺧﺮ ﻟﻠﺘﻤﻴﻴﺰ .

حاشية الجمل على شرح المنهج ج ١ ص ٢٥٢:
ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻳﺤﻜﻢ ﻟﻤﻌﺘﺎﺩﺓ ﻣﻤﻴﺰﺓ ﺇﻟﺦ) ﻫﺬا ﻗﺴﻢ ﺛﺎﻥ ﻣﻦ ﺃﻗﺴﺎﻡ اﻟﻤﻌﺘﺎﺩﺓ ﻭﻛﺎﻥ اﻷﻧﺴﺐ ﺗﻘﺪﻳﻤﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻗﺒﻠﻪ ﻟﺘﻜﻮﻥ ﺃﻗﺴﺎﻡ ﻏﻴﺮ اﻟﻤﻤﻴﺰﺓ ﻣﺘﺼﻠﺔ اﻩـ ﺷﻴﺨﻨﺎ (ﻗﻮﻟﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﻭﻳﺤﻜﻢ ﻟﻤﻌﺘﺎﺩﺓ ﻣﻤﻴﺰﺓ) ﻗﺪ ﺳﻠﻒ ﻟﻚ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﻓﺎﻋﺘﺒﺮﻫﺎ ﻫﻨﺎ ﻓﻠﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﻋﺎﺩﺗﻬﺎ ﺧﻤﺴﺔ ﻣﻦ ﺃﻭﻝ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ ﻓﺮﺃﺕ ﻓﻲ ﺃﻭﻝ ﺷﻬﺮ ﺧﻤﺴﺔ ﺣﻤﺮﺓ ﺛﻢ ﺃﻃﺒﻖ اﻟﺴﻮاﺩ ﻓﺤﻴﻀﻬﺎ اﻟﺨﻤﺴﺔ اﻷﻭﻟﻰ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ؛ ﻷﻧﻬﺎ ﻣﻌﺘﺎﺩﺓ ﻏﻴﺮ ﻣﻤﻴﺰﺓ ﻭاﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ اﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺣﻴﺜﻤﺎ ﻭﺟﺪ ﺑﺸﺮﻭﻃﻪ اﻟﺴﺎﺑﻘﺔ ﻋﻤﻠﺖ اﻟﻤﺮﺃﺓ ﺑﻪ ﺳﻮاء ﻛﺎﻧﺖ ﻣﺒﺘﺪﺃﺓ ﺃﻭ ﻣﻌﺘﺎﺩﺓ ﺫاﻛﺮﺓ ﺃﻭ ﻣﺘﺤﻴﺮﺓ ﻭاﻓﻖ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﺃﻭ ﺧﺎﻟﻔﻬﺎ ﺗﻘﺪﻡ اﻟﻘﻮﻱ ﻋﻠﻰ اﻟﻀﻌﻴﻒ ﺃﻭ ﺗﺄﺧﺮ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ اﻩـ ﻋﻤﻴﺮﺓ اﻩـ ﺳﻢ، ﻭﺃﻣﺎ ﺇﺫا ﻓﻘﺪﺕ اﻟﻤﻌﺘﺎﺩﺓ ﺷﺮﻃﺎ ﻣﻦ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﺘﻤﻴﻴﺰ اﻟﺴﺎﺑﻘﺔ ﻓﺴﻴﺄﺗﻲ ﻓﻴﻬﺎ اﻟﺘﻔﺼﻴﻞ ﺑﻴﻦ ﻛﻮﻧﻬﺎ ﺫاﻛﺮﺓ ﻟﻠﻘﺪﺭ ﻭاﻟﻮﻗﺖ ﺃﻭ ﻧﺎﺳﻴﺔ ﻟﻬﻤﺎ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮ ﻣﺎ ﺳﻴﺄﺗﻲ (ﻗﻮﻟﻪ: ﻟﻈﻬﻮﺭﻩ) ﺃﻱ ﻟﻈﻬﻮﺭ ﻣﺎ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻴﻪ اﻩـ ﺷﻴﺨﻨﺎ.

(ﻗﻮﻟﻪ: ﺃﻣﺎ ﺇﺫا ﺗﺨﻠﻞ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﺇﻟﺦ) ﺟﻮاﺏ اﻟﺸﺮﻁ ﻣﺤﺬﻭﻑ ﺃﻱ ﻓﺘﻌﻤﻞ ﺑﻬﻤﺎ ﻛﻤﺎ ﺃﺷﺎﺭ ﻟﻪ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﻓﻘﺪﺭ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﺇﻟﺦ اﻩـ ﺷﻴﺨﻨﺎ (ﻗﻮﻟﻪ ﻛﺄﻥ ﺭﺃﺕ ﺑﻌﺪ ﺧﻤﺴﺘﻬﺎ ﺇﻟﺦ) ﻋﺒﺎﺭﺓ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ اﻹﺭﺷﺎﺩ ﻛﺄﻥ ﺭﺃﺕ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﺃﺣﻤﺮ ﺛﻢ ﺧﻤﺴﺔ ﺃﺳﻮﺩ ﺛﻢ ﺃﺣﻤﺮ ﻓﺎﻟﺨﻤﺴﺔ اﻷﻭﻟﻰ ﻣﻦ اﻷﺣﻤﺮ ﺣﻴﺾ ﻭﺧﻤﺴﺔ اﻷﺳﻮﺩ ﺣﻴﺾ ﺁﺧﺮ؛ ﻷﻥ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ ﻳﻮﻣﺎ اﻧﺘﻬﺖ ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﻋﺸﺮﻳﻦ ﺿﻌﻴﻒ ﻟﻌﻠﻪ ﻛﺎﻥ ﻫﺬا اﻟﻀﻌﻴﻒ ﻣﻦ ﺟﻨﺲ ﺧﻤﺴﺘﻬﺎ ﺇﺫ ﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﺧﻤﺴﺘﻬﺎ ﺃﻗﻮﻯ ﻓﻬﺬا، ﺃﻋﻨﻲ ﺟﻌﻞ ﺧﻤﺴﺘﻬﺎ ﺣﻴﻀﺎ، ﻣﻦ ﺑﺎﺏ اﻷﺧﺬ ﺑﺎﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﻻ ﺑﻤﺠﺮﺩ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﺗﺄﻣﻞ ﺛﻢ ﺳﺄﻟﺖ ﻣ ﺭ ﻓﻮاﻓﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﺛﻢ ﺭﺃﻳﺘﻪ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺷﻴﺨﻨﺎ اﻩـ ﺳﻢ اﻩـ ﻋ ﺷ (ﻗﻮﻟﻪ: ﺛﻢ ﺿﻌﻴﻔﺎ) اﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻥ ﻫﺬا ﻟﻴﺲ ﺷﺮﻃﺎ ﻓﻲ اﻟﺤﻜﻢ ﺣﺘﻰ ﻟﻮ ﻟﻢ ﺗﺮ ﺑﻌﺪ اﻟﺨﻤﺴﺔ اﻟﻘﻮﻳﺔ ﺷﻴﺌﺎ ﻛﺎﻥ اﻟﺤﻜﻢ ﻛﺬﻟﻚ اﻩـ ﺳﻢ، ﻭﻗﺪ ﻳﻘﺎﻝ ﺇﻧﻤﺎ ﻗﻴﺪ ﺑﻪ؛ ﻷﻧﻬﺎ ﻟﻮ ﺭﺃﺕ ﺑﻌﺪ اﻟﻘﻮﻱ ﻗﻮﻳﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﻋﺎﻣﻠﺔ ﺑﺎﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﻓﻘﻂ ﻻ ﺑﻪ ﻭﺑﺎﻟﻌﺎﺩﺓ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻭاﻟﻘﻮﻱ ﺣﻴﺾ ﺁﺧﺮ ﺃﻱ ﻟﻠﺘﻤﻴﺰ؛ ﻷﻥ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻃﻬﺮا ﻛﺎﻣﻼ اﻩـ ﺷﻴﺨﻨﺎ.

شرح روضة الطالب الجزء الأول ص ٣٠٣:
(فرع) المبتدءة المميزة وغير المميزة والمعتادة يتركن الصلاة بمجرد رؤية الدم فإن انقطع لدون يوم وليلة فليس بحيص في حقهن او انقطع لدون خمسة عشر يوما فالكل حيض فإن جاوز الخمسة عشر ردت كل إلى مردها ) وهو للأول الدم القوي وللثانية يوم وليلة وللثالثة دمها القوي أو عادتها (وقضت) كل منهن صلاة وصوم (ما زاد) على مردها (ثم في الشهر الثاني) وما بعده (يتركن التربص ويصلين ) ويفعلن ما تفعله الطاهرة فيما زاد على مردهن لأن الايتحاضة علة مزمنه فالظاهر دوامها . اهى

والله أعلم بالصواب………………..

Bersambung..

Oleh: Dede Amalia

Hasil kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan kegiatan grup DASI bisa anda kungungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.