Kajian Kitab Ta’liimul Muta’alim Tentang Menghormati Guru

Benangmerahdasi Kajian Kitab Ta’liimul Muta’alim Tentang Menghormati Guru. Melanjutkan Kajian kitab Ta’limu; Muta’alaim yang telah sampai pada bagian ke 017

Assalaamu’Alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh
Kitab: Ta’limu; Muta’alaim
No    : 017
Oleh : Umy Nana Syarif
BismillaahirRohmaanirRohim

Salah satu cara memuliakan ilmu adalah memuliakan sang Guru, sebagaimana Sayidina Ali, karamallahu wajha, berkata : “Saya menjadi hamba bagi orang yang mengajariku satu huruf ilmu ; terserah ia mau menjualku, memerdekakan atau tetep menjadikan aku sebagai hamba.

Dalam hal tersebut, dinyanyikan sair kepadaku sbb:

Saya berpendapat, bahwa hak guru
Adalah hak yang paling hakiki,
Yang terwajib untuk dijaga
Oleh setiap muslim.
Demi memuliakan, perlu dihadiahkan kepadanya
Seribu dirham untuk satu huruf pelajarannya.

Sesungguhnya orang yang mengajari ilmu Sepatah ilmu yang dibutuhkan dalam urusan agama adalah menjadi bapakmu dalam beragama.

Adalah Guru kami, Syaikh Sadiduddin Asy Syairozi berkat : Para guru kami berpesan “Barangsiapa anaknya ingin menjadi orang Alim, maka dianjurkan suka berbakti kepada para FUQAHA’ yang terasingkan ;Menghormati dan memuliakan serta menghaturkan sesuatu kepada mereka;jika ternyata anaknya tidak menjadi alim maka cucunyalah kelak”,

Diantara perbuatan menghormati guru adalah tidak melintas dihadapannya, tidak menduduki tempat duduknya, tidak memulai berbicara kecuali atas izinnya, tidak banyak bicara disebelahnya dan tidak menanyakan sesuatu yang membosankannya ; hendaklah pula mengambil waktu yang tepat dan jangan pernah mengetuk pintu tetapi bersabarlah sampai beliau keluar.

Pada pokoknya adalah mencari Ridhonya Guru, menghindarkan murkanya dan menjunjung tinggi perintahnya selama tidak melanggar ajaran agama, karena tidak diperbolehkan mentaati seseorang untuk mendurhakai Alloh

Sesuai dengan makna hadits riwayat Imam Ahmad :
(tidak boleh ketaatan kepada sesama makhluk untuk mendurhakai Al Khaliq) –Riwayat Ahmad 5/66.

Sebagaimana sabda Nabi SAW : “Sungguh, Seburuk-buruk manusia ialah orang yang membuang agamanya demi dunia dengan cara mendurhakai Alloh” .

Termasuk cara menghormati Guru adalah menghormati anak-anaknya dan siapapun yang berkaitan dengannya.

Adalah Guru kami Syaikul islam Burhanuddin Shohibul Hidayah ra,

Beliau adalah imam Abul Hasan Ali bin Abu Bakar Al Marghinaniy, biografinya telah disebutkan diatas, pada Fasal 2 B.

Bercerita, adalah seorang Ulama’ besar Bochara sedang duduk dimajlis pengajian ;ditengah pengajian itu terkadang ia berdiri, lalu orang-orang menanyakan hal demikian, dan jawabannya “Sebanarnya putera Guru ku lg bermain bersama anak-anak dihalaman, dan terkadang ia mendekat kepintu masjid ; maka setiap kali melihatnya akupun berdiri demi menghormati Guruku”

Cara penghormatan kepada Guru seperti dalam kisah ini, boleh jadi dipandang tidak proporsional dan tidak edukatif lagi, karena mengganggu ketenangan majelis, bayangkan bagaimana kegaduhan majlis jika setiap murid harus melakukan hal yang sama, tentulah justru mengganggu pengajian dari Guru, Wallahu A’lam.

Baca Juga: Kajian Kitab Ta’liimul Muta’alaim tentang penghormatan Terhadap Ilmu dan Ulama’

Qadli Imam Fakhruddin Al Arsyabandi
Beliau adalah imam Muhammad ibnul Husain, bergelar Abu Ja’far, seorang Ulama’ besar ahli Fiqih unggulan dia banyak mengarang kitab. Sedang Arsyabanda adalah nama kota kecil didekat kota marwa, dalam wilayah khurasan. Beliau pernah menjabat Qadli dimarwa, wafat tahun 512M/1127H(Mu’jamul Buldan 1/191 dan Vlll/33;Al jawahirul Mudliah ll/52;Al Fawaid 193))
Ketua para imam dimarwa yang sangat dihormati oleh Sultan, pernah berkata :”Saya memperoleh kedudukanku ini karena pengabdian kepada Guru ;bahwa sy mengabdi kepada Guru ku Qadli imam abu Yazid Ad Dabbusi,

Beliau ialah Abdullah bin umar bergelar Abu Yazid, Ulama besar Dalam madzhab hanafi, salah satu kitab karangannya yang terkenal adalah Taqwinul Abdillah, Beliau dipandang sebagai penemu ilmul khilaf, mungkin sekarang disebut Muqaranatul Madzahib, yaitu ilmu perbandingan madzhab, wafat di Bochara tahun 432H.(At Taaj 63)).
Berkhidmad da memasakkan makanan beliau selama tiga puluh tahun tanpa pernah ikut memakannya sedikitpun”.

Adalah Syaikh imam yg mulia Syamsul Aimmah Al Hulwani,ra. Karena suatu peristiwa beliau keluar dari Bochara untuk menempat diperkampungan selama beberapa hari ;banyak para murid yang mengunjungi beliau, kecuali Syaikh imam Abu Bakar bin Muhammad Az Zaranji, ra;Ketika keduanya bertemu maka Al Hulwani bertanya “Mengapa Anda tidak mengunjungi aku?”, jawab Az Zaranji “Maafkan, kami tengah merawat ibunda”, kata Al Hulwani kemudian “Anda dianugerahi panjang umur tp tidak mendapat buah manisnya pelajaran” ;-

Dan akhir kejadiannya memang demikian, sebagian besar hari-hari Az Zaranji habis diperkampungan sehingga kesulitan belajar lebih lanjut.,

Baca Juga: Kajian kitab Ta’liimul Muta’alim tentang memilih teman belajar

Ucapan sang Guru tadi diterima Az Zaranji sebagai cambuk motifasi. Maka di hati-harinya yang sulit itu Az Zaranji tetep berusaha semaksimal mungkin lahir dan batin, untuk memperdalam ilmu terus menerus, sehingga akhirnya menjadi ulama besar dizamannya. Al Qurasyi dalam Al jawahirul Mudliah (1/172)menulis bahwa para fuqaha’ bila menghadapi kesulitan merek kembali pada Az Zaranji, bahkan juga tidak sedikit buku yang berhasil beliau tulis, bahkan akhirnya dijuluki imam Abu Hanifah kecil, seperti disebut dalam Foo-note terdahulu.

Lebih lanjut, statemen ini juga menunjukkan bahwa diwilayah Bochara khurasan saat itu pusat-pusat ilmu berada diperkirakan. Lain halnya di Indonesia, semenjak masuknya islam (Diperkirakan abad 11M)

Barangsiapa melukai hati Gurunya, maka tertutuplah keberkahan ilmunya dan hanya sedikit manfaat ilmu yang dapat dipetiknya.

Penyair berkata :
Sesungguhnya guru dan dokter, kedua-duanya
Tidak bakalan mendiagnosa
Jika tidak dihormati.
Jika kau abaikan dokter, sabarkanlah penyakitmu,
Jika kau abaikan guru, terimalah kebodohanmu.

Satu Hikayat : Khalifah Harun AR Rasyid mengirimkan anaknya kepada AL Ashma’i untuk belajar ilmu dan adab. Pada suatu hari Khalifah melihat AL Ashma’i sedang berwudlu dan membasuh sendiri kakinya, sedang si putera Khalifah menuangkan airnya saja ;maka Khalifah menegur hal itu dan katanya “anakku sya kirim kemari agar tuan mengajar dan mendidiknya, mengapa tidak tuan perintahkan agar satu tangannya menuang air dan tangan satunya lagi membasuh kakimu?”.

Alhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin.

Semoga bermanfaat untuk kita semua, Aamiin Yaa Mujiibas Saailiin Saailiin

Semangat Belajar Menjadi Anak Sholeh Sholihah
Selasa Pon 19 Desember 2017M
Pondok Pesantren Nurul Huda Sragen

Hasil kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjung di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan edukasi santri bisa anda kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.