Kajian Ta’liimul Muta’allim Tentang Ketekunan, Kontinuitas dan Minat

Benangmerahdasi  – Kajian Ta’liimul Muta’allim Tentang Ketekunan, Kontinuitas dan Minat. Melanjutkan Kajian kitab Ta’liimul Muta’allim yang telah sampai pada no 023

Assalaamu’Alaikum
Kajian Ta’liimul Muta’allim
No  : 023
Oleh: Umy Nana Syarif
BismillaahirRohmaanirRohim

Fasal 5
Ketekunan, Kontinuitas Dan Minat

Kajian Ta’liimul Muta’allim Tentang Ketekunan, Kontinuitas dan Minat

Kesungguhan Hati

Kemudian, penuntut ilmu juga harus bersungguh hati dan terus menerus demikian, Seperti itulah petunjuk Alloh dalam Firman-Nya : “Dan mereka yang berjuang untuk (Mencari keridloan) Kami niscaya akan kami tunjukkan mereka kepada jalan Kami…”

Sair di dendangkan :
Diraih keagungan dengan Kesungguhan
Bukan semata dengan kebesaran.
Bisakah keagungan didapat
Dengan kebesaran, tanpa dengan semangat?
Banyak hamba menyandang pangkat merdeka
Banyak orang merdeka berpangkat hamba sahaya.

(Dua bait sair ini, menurut naskah kitab adalah terletak diakhir Fasal 4,dan kita sekarang berada pada Fasal 5, penerjemah memilih mencantumkan disini, selain berdasarkan manuskrip yang lain juga dirasakan lebih relevan dengan judul Fasal yang ada, semoga tidak mengurangi penghargaan kita kepada Syaikh Az Zarnuji, pengarang Ta’liimul Muta’allim.

Ada kata mutiara : “Siapa bersungguh hati mencari sesuatu, pastilah ketemu ,dan siapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pastilah memasuki”,

Dikatakan lagi : “Sejauh mana kepayahanmu, sekian pula tercapai harapanmu”,

Dan dikatakan : “Dalam urusan belajar ilmu dan fiqih diperlukan Kesungguhan tiga pihak, yaitu pihak pelajar sendiri ;guru, dan bapak jika masih hidup”
(Disebutkan bapak disini, karena lazimnya dialah yang selalu menanggung biaya belajarnya, bila kewaliannya ditangan orang lain, misalnya ibu atau paman atau bahkan ayah angkat, maka mereka juga harus bersungguh hati, pada dasarnya Kesungguhan wali, siapapun orangnya, adalah menjadi salah satu faktor esensial dalam mencapai kesuksesan belajar anak perwaliannya.

Sair gubahan Asy Syafi’i
Di dendangkan oleh Syaikh imam yg mulia Sadiduddin Asy Syairozy, ra, kepadaku :

Dengan Kesungguhan, perkara jauh menjadi dekat,
Pintu terkunci menjadi terbuka.
Titah Alloh yang paling berhak bilang sengsara,
Orang bercita tinggi namun hidupnya miskin papa.
Salah satu bukti qadla dan hukum Alloh,
Orang pandai hidupnya susah dan si bodoh hidupnya mewah.

(Dalam kenyataannya, tidak sedikit orang alim yang hidupnya pas-pasan sementara orang tidak alim berlimpah hartanya. Bahkan tidak sedikit sarjana ekonomi yang hidupnya tidak pernah mapan. Sementara orang yang tidak tamat sekolahnya menjadi juragan. Itulah keputusan hukum Alloh,
kata sair ini, Realitas tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pada hakikatnya ilmu tidak ada kaitannya dengan rizqi seseorang,.

Ilmu adalah edded value :nilai lebih, bagi seseorang. Ilmu dan amal adalah kemuliaan disisi Alloh, sedangkan rizqi itu Semata-mata anugerah Alloh SWT. Kebenaran Theologi ini dibuktikan dengan kasus binatang, dimana tidak ada satupun binatang yang berilmu, tetapi juga tidak satupun binatang yang kekurangan rizqi.

Nabi Muhammad saw bersabda :
(Kalo saja kalian sungguh2 bertawakkal kepada Alloh, maka pasti diberi rizqi sebagaimana burung mendapat rizqi, kabur pagi hari dengan perut kosong dan pulang kembali dengan perut penuh berisi),

Baca Juga: kajian Ta’liimul Muta’allim Tentang Posisi tempat duduk dan mengindari sifat tercela

Oleh karena itu, meskipun untuk bekerja yang produktif diperlukan ilmu tertentu, namun sangatlah naif jika orang menuntut ilmu diniatkan sekedar untuk mencari kerja, sebagaimana di nyatakan di awal2 kitab ini.

Paradigma keliru tersebut, yaitu yang memastikan adanya hubungan antara ilmu dengan rizqi, terbukti telah menurunkan minat dalam mempelajari ilmu agama meskipun pengajian digelar dibanyak tempat dan tanpa biaya).

Orang diberi akal tapi tidak diberi harta,
Dua anugerah yang berbeda, satu disini satu disana.

Sair gubahan orang lain di nyanyikan kepadaku :
Kau berharap menjadi FAQIH analis,
Padahal tidak sanggup bekerja keras,
Memang penyakit gila banyak macamnya.
Tidak bakal memboyong harta,
Tanpa sanggup memikul derita,
Ilmu-pun begitu pula.

Berkata Abu Thayib Al mutanabbi :
(sair ini diucapkan dalam rangkaian sebuah qashidah, dimesir, pada saat sakit menjelang kewafatannya. (lihat diwan Al mutabbi 385-480).

Tidak kulihat aib orang sebagai cela ,
Bagaikan orang punya kuasa
Tapi tidak memenuhi apa mestinya.

Penuntut ilmu juga harus sanggup tidak tidur bermalam-malam, seperti penyair berkata :
Seukur kesulitannya, akan dicapai kemuliaan ;
Siapa ingin mulia, hendaklah berjaga semalaman.
Kau ingin mulia, tapi tidur dimalam hari,
Orang mencari mutiara, lautpun diselami.
Keluhuran derajat itu dengan himmah yang tinggi,
Keluhuran seseorang dengan berjaga di malam hari.
Oh Tuban, aku singkirkan tidur dimalam hari,
Demi Ridhomu, Ya Maulal Mawali.
Siapa menghendaki mulia tanpa mau kesulitan,
Mengulur umur untuk mencapai kemustahilan.
Tolonglah kami untuk mendapat ilmu,
Dan bimbinglah kami pada kemuliaan di sisi-Mu.

Ada dikatakan :
Jadikanlah malam hari sebagai kendaraanmu,
(Maksudnya menjadikan malam hari sebagai kendaraan adalah menggunakan kesempatan dimalam hari untuk shalat dan berdoa agar dimudahkan dalam menggapai apa yang di cita-citakan (Al Maidani, Majma’ul Amtsal 1/135).secara psychologis, do’a yang dipanjatkan dimalam hari akan menciptakan optimisme pada saat berikhtiar di siang harinya.). Untuk mencapai cita-citamu.

Respon pengarang kitab “Saya menggubah pantun semakna”
Yaitu :
Siapa mau seluruh obsesinya tercapai,
Jadikanlah malam hari kendaraan untuk mencapai.
Kurangilah makan, agar sanggup berjaga,
Bila sahabat idamkan, capaian sempurna.

Kata mutiara disebutkan : “Barangsiapa tidak tidur di malam hari, maka bahagia disiang hari”.
Alhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin.
Bersambung..

Hasil kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan edukasi santri bisa anda kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.