Kajian Ta’liimul Muta’allim Tentang Pemilihan Bidang Studi

Benangmerahdasi  – Kajian Ta’liimul Muta’allim Tentang Pemilihan Bidang Studi. Melanjutkan kajian kitab Ta’liimul muta’allim yang telah sampai ke bagian 021.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Kajian Ta’liimul Muta’allim.
No: 021
Oleh : Umy Nana Syarif

Kajian Ta’liimul Muta’allim Tentang Pemilihan Bidang Studi

بسم الله الرحمن الرحيم،

الحمد لله، والشكر لله، ونعمة الله، ولا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم.

                                                  Pemilihan Bidang Studi

وينبغي لطالب العلم أن لا يختار نوع العلم بنفسه، بل يفوض أمره إلى الأستاذ، فإن الاستاذ قد حصل له التجارب في ذلك، فكان أعرب بما ينبغي لكل واحد وما يليق بطبيعته.

Dianjurkan kepada penuntut ilmu agar tidak memilih sendiri bidang studinya, tetapi menyerahkan hal itu sepenuhnya kepada Guru ; demikianlah, karena guru telah sering melakukan uji coba sehingga lebih tahu tentang apa yang terbagus untuk seseorang dan sesuai dengan bakatnya.

وكان الشيخ الإمام الأجل الاستاذ برهان الحق والدين رحمه الله تعالى يقول: “كان طلبة العلم في الزمان الأول يفوضون أمرهم في التعلم إلى اساتذهم وكانوا يصلون إلى مقصودهم ومرادهم، والآن يختارون بأنفسهم، فلا يحصل مقصودهم من العلم والفقه.

Berkata Syaikul islam imam yg mulia Ustadz Burhanul Haq Wad Din; “Para penuntut ilmu zaman dulu menyerahkan urusan belajar kepada guru dan ternyata sukses dalam mencapai target dan tujuan mereka, tetapi zaman sekarang memilih sendiri bidang studi mereka dan akhirnya gagal mendapatkan ilmu dan fiqih”.

وكان يحكى أن محمد بن إسماعيل البخاري رحمه الله تعالى كان بدأ بكتابة الصلاة على محمد بن الحسن رحمه الله، فقال له محمد بن الحسن ” إذهب وتعلم علم الحديث”، لما رأى أن ذلك العلم أليق بطبعه، فطلب علم الحديث فصار فيه مقدما على جميع أئمة الحديث.

Hikayat :Pada mulanya Muhammad bin Isma’il Al Bukhari, ra,
(Al Bukhari ulama’ besar ahli hadits, pemilik kitab jami’us Shahih yang terkenal dengan nama Shahih Bukhari, sebuah kodifikasi hadits yang dipandang paling sempurna selain itu, Al Bukhari juga ahli fiqih dan mujtahid dalam madzhab Syafi’i, tidak sedikit kitab karangannya, sebagian besar menjadi marji’ para ulama sesudahnya.

Baca Juga: Kajian Ta’liimul Muta’allim tentang sikap khidmat bagi penuntut ilmu

Beliau lahir di Bochara thn 194H.Hidup yatim dan sangat besar perhatiannya terhadap ilmu, Beliau melakukan pengembaran ilmiah di sekitar tahun 210H, untuk menelusuri hadits dari para rawi, dan berhasil menemui ribuan ahli hadits yang kemudian terangkai dalam sanad beliau, Al Bukhari wafat tahun 256H/870M.

Belajar mencatat pelajaran shalat kepada Syaikh Muhammad ibnul Hasan, ra, kemudian beliau memerintahkan “silahkan pergi belajar ilmu hadits” setelah ibnul Hasan melihat bidang studi tersebut lebih pas dengan bakatnya ; kemudian Al Bukhari pergi belajar ilmu hadits dan akhirnya menjadi imam hadits yang paling terkemuka.

(Akurasi kisah ini perlu dicek kembali, karena ibnul Hasan wafat tahun 189H sedang Al Bukhari baru lahir di Bochara lebih kurang 5 tahun kemudian, yaitu tahun 194H.dan masuk baghdad (Tempat ibnul Hasan berada) setelah tahun 210H,sekitar 21 tahun ibnul Hasan sendiri wafat, apakah ini bagian dari karamah beliau berdua? WAllohu A’lam.

Kajian Ta’liimul Muta’allim Tentang Pemilihan Bidang Studi Bersambung….
Alhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin,
Semoga bermanfaat untuk kita semua, Aamiin Yaa Mujiibas Saailiin

Hasil kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan edukasi santri bisa anda kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.