Kajian Tasawuf memperutukan dirinya hanya kepada Allah

Kajian Tasawuf

Benangmerahdasi.com – Melanjutkan Kajian Tasawuf yang tela sampai di bagian yang ke 45 kitab Kimi’aussa’adah Krya Imam Ghazali RA.

Kajian Tasawuf
Kitab: Kimi’aussa’adah
Mu’allif: Imam Ghazali Ra
Nomor: 045

الحمدلله وحده، الصلاة والسلام على من لانبي بعده، وعلى آله وصحبه ومن اكتفى آثاره إلى يوم النهضة. وبعد:

Perkara-perkara diatas telah tersingkap terhadap para wali, cahaya-ilahiyah-telah tersimpan dalam dada mereka tanpa proses pembelajaran, tanpa belajar dan tanpa penulisan kitab.

Mereka melaluinya dengan zuhud. Melepaskan diri dan mengosongkan hatinya dari hal-hal yang berhubungan dengan dunia, dan menghadirkan inti ghirah hanya kepada Allah.

Maka barangsiapa yang memperuntukkan dirinya hanya untuk Allah, niscaya Allah adalah untuknya.

Mereka mengatakan bahwa jalan untuk itu, pada awalnya adalah melalui pemutusan hubungan dengan dunia secara total,
mengosongkan hati darinya, bahkan menempatkan hatinya pada suatu keadaan yang dalam keadaan tersebut, keberadaan dan ketiadaan sama saja.

Lalu ia mengasingkan diri(berkhalwat) ditempat yang sunyi hanya untuk melakukan shalat fardhu dan rawatib, duduk mengosongkan hati dan memusatkan tujuan hanya kepada Allah,

bahkan tidak membagi pikirannya sekalipun menelaah tafsir, kitab hadits dan sebagainya. Ia berusaha sekuat tenaga agar tak sesuatupun mampu menggoyahkan pikirannya(hatinya)kecuali Allah.

Dalam khalwahnya, ia selalu mengucapkan lafadz “Allah”, menghadirkan hati sampai berhenti pada suatu keadaan dimana mulut tidak bergerak lagi.

Iya yaqin seolah-olah lafadz-lafadz itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Kemudian ia menahan diri, bersabar, sampai tak terasa bahwa mulutnya dan hatinya sibuk menekuni dzikrullah.

Ia melakukan hal itu terus-menerus sampai wajud lafadz, huruf-huruf dan bentuk katanya terhapus dari hatinya, dan yang tertinggal hanya maknanya.

Iya mengaggap bahwa yang demikian ini adalah keharusan baginya. Ia berusaha melanggengkannya, membebaskan keinginannya kecuali terhadap rahmat Allah.

Bahkan amalannya itu telah mendekatkan dirinya dengan rahmat Allah, lalu kemudian Allah membuka baginya, sebagaimana Allah telah membukanya untuk para nabi dan wali-Nya dengan cara ini.

Kajian Tasawuf

Senin, 8 Oktober 2018
Aba Abror Al Muqoddam

Baca  Juga: Mujahadah dan menghapus sifat tercela jalan menuju Allah

Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Info seputa pondok pesantren dan edukasi santri bisa pembaca kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.