Ketegasan dan Kesantun KH Bisri Syansuri

Benangmerahdasi -Ketegasan dan Kesantun KH Bisri Syansuri.  Pertengahan juni ini, Ponpes Mambaul Maarif Denanyar, Jombang memiliki hajat besar.  Ribuan orang diperkirakan memadati lokasi pesantren untuk menghadiri agenda acara tahunan Haul ke-31 wafatnya KH Bisri Syansuri dan besama-sama meneladani keteguhan prinsip dan kecintaannya kepada ilmu fiqih, Islam dan bangsa.

Pembicaraan kisah hidup Kiai Bisri berarti membicarakan kecintaan seorang ulama terhadap ilmu fiqih. karena saking cintanya, Kiai Bisri dikenal sebagai ulama yang tegas memegang prinsip. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga cucunya sendiri, menyebut Kiai Bisri sebagai “Pecinta fiqih sepanjang hayat” yang ter-muat sebagai judul buku yang ia tulis.

Ketegasan dan Kesantun KH Bisri Syansuri

Ada kisah menarik yang termuat dalal buku Gus Dur. KH Abdul Wahab Chasbullah sering sekali berbeda pendapat dengan Kiai Bisri. Kiai Wahab, menurut Gus Dur, lahir sebagai anak kaya di bibis, kota Surabaya. Ibunya memiliki ratusan rumah di daerah tersebut yang disewa oleh orang-orang Arab pada paruh kedua abad ke-19 Masehi.

Sebaliknya, Kiai Bisri lahir beberapa tahun kemudian, di tengah-tengah keluarga miskin di kawasan Tayu Wetan, Pati, Jawa Tengah. Dia belajar di pesantren lokal dan kemudian di pesantren KH Cholil Demangan, Bangkalan di sanalah di bertemu dengan kiai Wahab.

Kiai Bisri muda dapat terus menjadi santri karena ia mencuci pakaian dan menanak nasi untuk kawan barunya itu, Kiai wahab muda. Segera Kiai Bisri muda menjadi orang kepercayaan Wahab muda karena jujur dan rajin. Jadi, urusannya sudah bukan lagi menyakut pakaian dan makanan, tetapi sudah berkaiatn dengan watak dan tempramen. Walaupun begitu, keahlian ilmu agama Islam kedua orang itu juga saling berbeda.

Perbedaanya terletak pada bagian ilmu agama yang mereka senangi, Kiai Wahab senang pada ilmu ushul fiqh, sedangkan Kiai Bisri menyukai tafsir dan hadits Nabi Muhammad SAW. Bidang itu juga dinamai kajian naqly, bertumpu pada ayat-ayar Al-Quran dan hadits Nabi Muhammad SAW.

Karena itu, kiai Bisri tidak banyak berkutat dengan penggunaan akal (rasio) sebagaimana kiai Wahab. Pernah Kiai Wahab bertanya kepada Gud Dur, ”Saya dengar kakekmu itu tidak pernah makan di warung ?” Gus Dur menjawab, ”Memang benar demikian.” Kiai Wahab kembali bertanya, ”Mengapa ?” Gus Dur menjawab, ”Kiai Bisri tidak menemukan hadits yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW  pernah makan di warung.” Kiai Abdul Wahab mengata-kan, ”Ya, tentu saja karena waktu itu belum ada warung”.

Tetapi pergaulan mereka,, tokoh tekstual di satu sisi dan tokoh satunya yang senang mengunakan rasio, ternyata sangat erat. Hal ini tampak ketika ada bahtsul masail. Gus Dur penah menyaksikan sekitar 40-an orang kiai berkumpul dari pagi hingga sore hari di ruang tamu kiai Bisri. Ternyata, keduanya  berdebat seru, yang satu membolehkan dan yang satu lagi melarang sebuah perbuatan.

Demikian seru mereka berbeda, hingga akhirnya semua kiai yang lain menutup buku/kitab mereka dan mengikuti saja kedua orang itu berdebat. Sampai-sampai, baik Kiai Abdul Wahab maupun Kiai Bisri berdiri dari tempat  duduk mereka sambil memukul-mukul meja marmer yang mereka gunakan berdiskusi.

Muka keduanya me-merah karena bertahan pada pendirian masing-masing. Akhirnya kemudian Kiai Abdul Wahab menyerang, ”Kitab yang sampena gunakan adalah cetakan Kudus, sedangkan kitab yang saya gunakan adalah cetakan Kairo,”Ini adalah tanda Kiai Abdul Wahab kalah argumetasi dan akan menerima pandangan Kiai Bisri.

Walaupun pada forum bahtsul masail itu mereka berbicara sampai memukul-mukul meja dengan wajah memerah, namun ketika tiba-tiba beduk ber-bunyi, Kiai Bisri segera berlari ke sumur di dekat ruangan pertemuan tersebut. Di sana, dia naik ke pinggir sumur dan menimbakan air wudhu bagi iparnya itu. Beda pendapat boleh tapi harus tetap rukun Demikian kira-kira pegangan mereka.

Kisah menarik lainya terdapat di buku ” Menapak Jejak Mengenal Watak, Sekilas Biografi 26 Tokoh NU”. Dalam resepsi penutupan kongres Gerakan Pemuda Ansor di Surabaya, April 1980, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Yusuf Hasyim (Pak Ud) membisiki seseorang, ”Sakitnya KH Bisri Syansuri semakin parah.

Beliau dalam keadaan tidak sadar siang tadi ketika saya tinggalkan berangkat kemari,”ujarnya. Orang yang diberitahu tersentak mendengar bisikan itu. Sebab tiga hari sebelumnya pendiri dan pemimpin Ponpes Mambaul Maarif itu menerima Probosutedjo, pengusaha kenamaan dan adik persiden Soeharto.

Probosutedjo diundang untuk memberikan ceramah tentang kewiraswastaan dalam kongres Ansor di Surabaya. Kehadirannya menemui undangan tersebut di-manfaatkan sekaligus untuk me-ngunjungi Kiai Bisri yang sedang dalam keadaan sakit.

Ketika itu kiai Bisri menjemput sendiri tamunya di teras tempat kediamannya. Besarung putih dengan garis kotak-kotak kebiruan, mengenakan baju putih dan berkopyah haji. Kiai Bisri mempersilahkan tamu dari Jakarta itu memasuki ruang depan rumahnya yang tua dan berperabotan sederhana.

Wajahnya, seperti biasa, tampak jernih. dengan sabar penuh perhatian ia mendengarkan setiap kata yang di ucapkan oleh tamunya. Dan dengan suara lembut ia menjawab setiap pertanyaan, menjawab salam dari Persiden Soeharto yang disampaikan oleh Probosutedjo dan dengan halus menolak tawaran ke luar negeri.

Terdapat pula kisah Kiai Bisri dalam buku ”Antologi NU, Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah”  jilid 1. Saat berlangsung sidang umum MPR tahun 1978 ada peristiwa liar biasa. Fraksi PPP tidak sepakat dengan keputusan fraksi lain. Setelah berkali-kali adu argumentasi mengenai rancangan ketetapan MPR tentang P4 namun tetap tidak membuahkan hasil.

Sementara partai sudah menggariskan untuk memegang teguh amanat itu, mereka pun keluat sidang. Seluruh anggota Fraksi PPP segera berdiri. Dipimpin langsung oleh KH Bisri Syansuri, mereka beriringan walk out sebagai tanda tidak setuju terhadap hasil keputusan. Meski sudah berusia 92 tahun, Kiai yang menciptakan lambang Ka’bah bagi PPP itu malah berjalan paling depan.

Ketegasan lain nampak tatkala DPR membahas RUU tentang perkawinan. Secara keseluruhan RUU itu dinilai banyak bertentangan dengan ketentuan hukum agama Islam. Maka, di mata Kiai Bisri menghadapi kasus itu, tidak ada alternatif lain kecuali menolaknya.

Langakah pertama yang Bisri lakukan adalah dengan mengumpulkan sejumlah ulama di daerah Jombang untuk membuat RUU tandingan yang akan diajukan ke DPR-RI.

Setelah RUU tandingan itu selesai dibahas, lalu disampaikan ke PBNU, yang diterima secara aklamasi. Setelah itu amandeman RUU itu di ajukan ke Majelis Syuro PPP dan di terima. DPP PPP memerintahkan Fraksi PPP DPR-RI agar menjadikan RUU tandingan itu sebagai rancangan yang diterima dan harus diperjuangkan.

Setelah  melalui proses yang panjang dan melelahkan serta lebih banyak dilakukan di luar gedung DPR-RI, akhirnya RUU itu disahkan setelah ada revisi dan tidak lagi bertentangan dengan hukum Islam.

Baca juga: Biografi Tuan Guru Ziani Abah Guru Sekumpul

Pecinta Ilmu Sejati.

Kiai Bisri dilahirkan di Desa Tayu, Pati, Jawa Tengah, Tanggal 18 September 1886. Ayahnya bernama Syansuri dan Ibunya bernama Mariah. Kiai Bisri adalah anak ketiga dari lima bersaudara yang memperoleh pendidikan awal di beberapa pesantren lokal, antara lain pada KH Abdul Salam di Kajen.

Kiai Bisri kemudian berguru kepada KH Kholil di Bangkalan dan KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang. Kiai Bisri kemudian mendalami pendidikannya di Mekkah dan belajar ke pada sejumlah ulama terkemuak antara lain Syekh Muhammad Baqir, Syekh Muhammad Sa’id Yamani, Syekh Ibrahim Madani, Syekh Jamal Maliki, Syekh Ahmad Khatib Padang, Syekh Syu’aib Daghistani, dan Kiai Mahfuz Termas.

Ketika berada di Mekkah, Kiai Bisri meningkahi adik perempuan Kiai Wahab. Di kemudian hari, anak perempuan Kiai Bisri meningkah dengan putra KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim dan memiliki putra Gusdur dan KH Solahuddin Wahid (Gus Sholah).

Sepulang dari Mekkah, Kiai Bisri menetap di pesantren mertuanya di Tambak Beras, Jombang, selama dua tahun. Kiai Bisri kemudian mendirikan ponpes Mam-baul Maarif di Denanyar, Jombang pada tahun 1917. Saat itu, Kiai Bisri adalah Kiai pertama yang mendirikan kelas khusus untuk santri-santri wanita di pesantren yang didirikannya.

Di sisi pergerakan, Kiai Bisri bersama-sama para Kiai muda saat itu antara lain Kiai Wahab, KH Mas Mansyur, KH Dahlan Kebondalem dan KH Ridwan, membentuk klub kajian yang diberi nama Taswirul Afkar (Konseptualisasi pemikiran) dan sekolah agama dengan nama yang sama, yaitu Madrasah Taswirul Afkar. Sedangkan keterlibatannya dalam upaya pengembangan organisasi NU antara lain berupa pendirian rumah-rumah yatim piatu dan pelayanan kesehatan yang dirintis-nya di berbagai tempat.

Di masa penjajahan Jepang, Kiai Bisri terlibat dalam pertahanan negara, yakni menjadi kepala staf Markas Oelama Djawa Timur (MODT), yang berkedudukan di Waru, dekat Surabaya.

Pada masa kemerdekaan Kiai Bisri pun terlibat dalam lembaga pemerintahan, antara lain dalam komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), mewakili unsur Masyumi. Kiai Bisri juga menjadi anggota Dewan Konstitu-ante tahun 1971. Ketika NU bergabung ke PPP, Kiai Bisri pernah menjadi Ketua Majelis Syuro-nya. Kiai Bisri terpilih menjadi anggota DPR sampai tahun 1980. Kiai Bisri kemudian wafat dalam usia 94 tahun pada 25 April 1980 atau bertepatan dengan bulan Rajab di Denanyar.

Mundur dari jabatan Rais Am
Jasa Kiai Bisri dalam membesarkan NU juga tak patut di lupakan. Kiai Bisri turut terlibat dalam pertemuan pada 31 Januari 1926 di Surabaya saat para ulama menye-pakati berdirinya NU. Pada priode pertama, Kiai Bisri menjadi A’wan Syuriyah PBNU dan kemudian pada priode-priode berikutnya Kiai Bisri pernah menjadi Rais Syuriyah, wakil Rais Am dan menjadi Rais Am hingga akhir hayatnya.

Meski dikenal tegas dalam mempertahankan prinsip, kesantunan kiai Bisri juga tak perlu diragukan. Saat Berlangsungnya Muktamar NU ke-24 pada tahun 1967 di Bandung, Kiai Bisri menunjukan sikap tawadlu’ yang perlu kita teladani.

Ketika itu sedang terjadi pemilihan Rais Am yang melibatkan “rivalitas” antara dua kiai sepuh yang sama-sama berwibawa, yaitu Kiai Wahab yang saat itu menjabat Rais Am (incumbent) dengan Kiai Bisri yang menjadi salah satu Rais Syuriyah PBNU. Hasil pemilihan ternyata di luar dugaan. Walaupun lebih muda, tiba-tiba Kiai Bisri bisa meraih suara terbanyak. Kiai Wahab pun menerima kekalahan dengan besar hati, apalagi yang mengalahkan sahabat dekatnya sekaligus adik iparnya sendiri.

Demikian halnya Kiai Bisri yang memperoleh kemenangan  juga sangat rendah hati. Walaupun telah dipilih oleh muktamirin, tetapi kemudian Kiai Bisri segera memberikan sambutan, selama masih ada Kiai Wahab yang lebih senior dan lebih alim Kiai Bisri tidak bersedia menduduki jabatan itu. “Karena itu saya menyatakan untuk mengundurkan diri dan kembali menyerahkan jabatan itu kepada Kiai Wahab Chasbullah.”

Menanggapi sikap Kiai Bisri, Kiai Wahab menerima amanah itu. Tidak perlu merasa tersinggung, karena walaupun sudah uzur tetapi merasa masih dibutuhkan untuk memimipin NU dalam menghadapi situasi sulit masa orde baru. Sementara Kiai Bisri dipercaya sebagai wakil Rasi Am. Kemudian ketika Kiai Wahab wafat pada tahun 1971, baru Kiai Bisri menduduki posisi sebagai Rais Am Hingga wafat pada tahun 1980. (AULA Juni  2010).

Hasil kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjung di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan edukasi santri bisa anda kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.