Ketika Iblis Ingin Bertobat Kisah Nabi Musa AS

Benangmerahdasi Ketika Iblis Ingin Bertobat Kisah Nabi Musa AS. Dihikayatkan bahwa Iblis pernah mendatangi Nabi Musa as.

Ia berkata: “Hai Musa, engkau adalah manusia yang dipilih Allah untuk menjadi Rasul dan diajak berbicara oleh Allah. Dan aku adalah salah satu dari makhluk-makhluk Allah. Aku telah berbuat dosa dan aku ingin bertaubat. Maka mintakan bagiku syafaat dari Tuhanku agar DIA menerima taubatku.”

“Baiklah.” Kata Nabi Musa as.

Ketika Iblis Ingin Bertobat Kisah Nabi Musa AS

Ketika Nabi Musa naik ke gunung dan berbicara dengan Tuhannya SWT, saat ia akan turun. Allah SWT berfirman, “Sampaikanlah amanat yang diberikan padamu!

Nabi Musa as pun teringat permintaan Iblis dan berkata, “Ya Tuhanku, hamba-Mu Iblis ingin bertaubat.“

Baca Juga: Kisah Pohon Shabai di zaman Rosulullah SAW

Allah mewahyukan pada Nabi Musa as, “Hai Musa, aku kabulkan permintaanmu, perintahan ia untuk sujud kepada kubur Adam maka Aku akan menerima taubatnya.”
Saat Nabi Musa as bertemu Iblis, beliau berkata: “Aku telah memenuhi permintaanmu, kau hanya perlu bersujud sekali saja kepada kuburan Adam maka taubatmu akan diterima.”

Mendengar ini timbul kemarahan Iblis dan sifat sombongnya, ia berkata: “Aku tidak sudi sujud kepadanya ketika ia hidup, bagaimana aku dapat sujud kepadanya setelah ia mati?!”
Lalu Iblis berkata, “Hai Musa, kau memiliki hak atasku karena engkau telah memintakan syafaat bagiku kepada Tuhanmu. Ingatlah aku dalah tiga hal agar aku tidak dapat membinasakanmu di dalamnya.

1. Ingatlah aku ketika engkau marah, sebab ketika itu ruhku ada dalam hatimu, mataku ada dalam matamu, dan aku mengalir dalam aliran darahmu. Ingat aku ketika kau marah, sebab jika seorang marah maka aku meniup ke dalam hidungnya sehingga ia tidak lagi mengetahui apa yang ia lakukan.

2. Ingatlah pula aku ketika kau berhadapan dengan pasukan musuh, sebab aku mendatangi manusia ketika dihadapkan dengan pasukan musuh dan aku ingatkan ia mengenai istrinya, anaknya, keluarganya sehingga ia kabur dari peperangan.

3. Dan hati-hati, jangan kau duduk bersama seorang wanita yang bukan mahram. Sebab aku adalah utusannya kepadamu dan utusanmu kepadanya. Aku akan terus menerus berada bersama kalian berdua hingga aku dapat memfitnahmu dengan sebab wanita itu atau aku memfitnahnya dengan sebab dirimu.”

(Diterjemah bebas dari kitab Ihyaulumiddin karya Imam Ghozali)

Semoga Bermanfaat untuk kita semua.

Hasil diskusi kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa pembaca kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan edukasi santri bisa pembaca kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.