Kewajiban Pendalaman Ilmu Bagi Para Santri atau Penuntut Ilmu

Benangmerahdasi Kewajiban Pendalaman Ilmu Bagi Para Santri atau Penuntut Ilmu. Dalam ilmu ushul Fiqih dikatakan “Urusan ini menjadi dasar terpenting”, yakni bahwa ucapan ahli Fiqih yang cermat itu hrs dengan penghayatan mendalam.

Assalaamu’Alaikum
Kajian Ta’liimul Muta’allim,
No : 036,
Setiap hari : Selasa,
Oleh Umy Nana Syarif.
BismillaahirRohmaanirRohim

Kewajiban Pendalaman Ilmu Bagi Para Santri atau Penuntut Ilmu

Dianjurkan kepada para murid, hendaklah selalu melakukan penghayatan ilmiah secara mendalam pada setiap kesempatan.

dan hendaklah membiasakan hal tersebut, karena detil-detil ilmu hanya akan diketahui dengan cara Pendalaman dimaksud ; karena itu terdapat kata mutiara “Hayatilah pasti kau temukan”.

Pendalaman juga harus dilakukan sebelum mulai berbicara agar mendapat kebenaran ; karena ucapan itu Bagaikan anak panah, dimana harus dibidikkan terlebih dahulu –dengan penghayatan mendalam– agar tepat pada sasaran.

Dalam ilmu ushul Fiqih dikatakan “Urusan ini menjadi dasar terpenting”, yakni bahwa ucapan ahli Fiqih yang cermat itu hrs dengan penghayatan mendalam.

Disebut kata mutiara : Kepala akal adalah ucapan yang tegas mantap dengan penuh penghayatan “,

Penyair berkata :
Saya berpesan kepada anda,
Jika kau mau mentaati pemesan yang suka rela,
Bahwa tata bicara ada lima perkara :

Jangan pernah lupa apa sebabnya, kapan waktunya, bagaimana caranya, berapa panjangnya, dimana tempatnya, itulah semuanya ( Dalam ilmu retorika sekarang, sering disebutkan bahwa kriteria untuk totalitas suatu pengertian 5W dan 1H. Artinya, rumusan yang sempurna untuk sesuatu perkara harus dapat menjawab enam pertanyaan sbb: What (apakah), When (kapan), Where (dimana), Whay (mengapa), Who (siapa yang bersangkutan) dan How (bagaimana). Sedang untuk pengelolaan suatu perkara dirumuskan dalam fungsi management yang disingkat POAC, singkatan dari planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Actuiting (pengaktifan) dan Controlling (peng-awasan).

Baca Juga: Berdiskusi Ilmiah Dalam Bentuk Mudzakaroh, Munadhoroh dan dan Mutharahah

Pelajar hendaklah mengambil pelajaran kepada siapapun pada setiap waktu dan dalam keadaan apapun, sebagaimana Nabi Muhammad Saw bersabda :”Hikmah adalah barang hilangnya orang mukmin, dimanapun ditemukan silahkan diambil “.
(Imam Tirmidzi (209-279H)dan ibnu Majah (207-275)meriwayatkan harits tersebut dari Abu Hurairah dengan redaksi sedikit berbeda, yaitu :(Kalimah Al hikmah itu barang hilangnya orang mukmin, dimana ia menemukanya maka ia lebih berhak memilikinya).
Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan dari Al Mas’udi dari Sa’id bin Abi Burdah dengan redaksi :(Al Hikmah adalah barang hilangnya orang mukmin, dia memungutnya ketika menemukanya) (Sunan Tirmidzi, V/51;Sunan Ibnu Majah, II/1395;Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, VIi/240)).

Satu kata mutiara : “Ambil yang jernih, tinggalkan yang keruh”.

Saya mendengar Syaikh Imam yang Mulia Ustadz Fakhruddin Al Kasyani (kata Fakhruddin yang artinya kebanggaan Agama disini bukan nama, tetapi gelar penghormatan, sedang namanya adalah Abu Bakar bin Mas’ud Al Kasyani, seorang ulama besar ahli Fiqih bermadzhab Hanafi yang dijuluki Malikul Ulama'(Raja Ulama’), banyak kitab karangannya, yang paling terkenal adalah Bada-i’Us Shana-i fi tartibis syara-i ‘, wafat tahun 587/1191H.)

berkata :Adalah budak perempuan milik Abu Yusuf diamanatkan kepada Muhammad ibnul Hasan ; pada suatu hari Muhammad bertanya “Apakah saudari sampai sekarang hafal sesuatu pelajaran Fiqih dari bapak Abu Yusuf?”, jawabnya “Ah tidak, cuma yang saya tahu beliau sering mengulang-ulang pelajaran dan katanya” Saham daur itu gugur “;dengan jawaban itu Muhammad jadi hafal dari budak tersebut, dan yang semula masalah Saham Daur terasa sulit baginya kini menjadi terpecahkan”,

Dari hikayat ini dapat disimpulkan bahwa belajar itu bisa terjadi dari setiap orang.

Karena itulah Abu Yusuf waktu ditanya “Dengan apa tuan mendapat ilmu?” beliau menjawab “Saya tidak malu belajar dan tidak kikir mengajar”,

Ditanyakan kepada Ibnu Abbas, ra. “Dengan apa tuan mendapat ilmu?” beliau menjawab “Dengan lisan banyak bertanya dan kalbu selalu berfikir”,

Pelajar dijuluki Ma Taqulu (bagaimana pendapatmu?) (para Santri membuat bahasa plesetan julukan ini dengan mata Cool yang diberi arti mata yang dingin ; karena, kata merak, para pelajar harus senantiasa merasa dingin (Cool) atau nyaman kalo media tulisan dalam berbagai kitab meskipun banyak. Seperti dimaklumi bahwa kitab-kitab dipesantren, yang biasa disebut kitab kuning, sebagian besar adalah tercetak dengan huruf arab ukuran kecil pada kertas berkualitas buram kekuning-kuningan, tidak putih semacam hvs).

Dan banyak diantaranya yang telah menjadi kumal karena seringnya dibaca sehingga tidak sempat dirapikan kembali, dan banyaknya ta’liq ditepian lembarannya, bahkan juga disela-sela antara baris dalam naskah aslinya, karena itu diperlukan mata yang dingin untuk membaca dan menekuninya.). Karena tempo dulu mereka sering sekali mengatakan “bagaimana pendapat tuan tentang masalah ini?” .

Imam Abu Hanifah, ra. Sendiri menjadi ahli Fiqih karena seringnya ber-muthorohah dan mudzakaroh ditokonya ketika menjadi pendagang kompeksi.

Berdasar kenyataan ini, maka diketahui bahwa Belajar ilmu dan Fiqih dapat dilakukan bersama-sama dengan bekerja mencari uang.

Imam Abu Hafsh Kabir juga bekerja sambil mengulang-ulang ilmu hafalannya.

Bersambung..

Alhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin.
Semoga bermanfaat untuk kita semua, Aamiin Yaa Yaa Mujiibas Saailiin.
Jangan lewatkan kajian berikutnya..

Hasil Kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan kegiatan grup DASI bisa anda kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.