Kisah Pelajar Syari’ah dan Penjaga Toko

Benangmerahdasi  – Kisah pelajar syari’ah dan penjaga toko. Habis subuh tadi pergi ketoko untuk beli kacang, kebetulan uang yg al faqir bawa 10 pound dan ada tambalan lakbannya.

maka sebelum melakukan transaksi al faqir tanyakan dulu kepada pemilik toko sebut saja nama beliau Ammu Mahmoud, apakah uang ini masih bisa untuk dijadikan sebagai alat transaksi atau tidak, jika masih laku maka 10 pound itu al faqir gunakan beli kacang semua, dan jika tidak, maka akan beli 5 pound saja dg menggunakan uang yg lain.

Setelah dilihat dan diperiksa akhirnya beliau mengatakan:”Thoyyeb mafisy musykilah ashan enta habibi, law enta awiz bikhomsah genih ha addi lak, ashan haram ‘aleyya bi’a’khudz fulus min gher thibinnafs wa ha ta’khudzil ba’i khomsah genih(Ya gak apa2 sebab anda adalah kekasih saya, dan jika tetap ingin 5 poud tidak masalah, dan bisa diambil kembaliannya 5 pound, karena haram bagi saya mau ambil uang tanpa seridho pemiliknya).

Mendengar jawaban yg polos itu hati al faqir nderedek, bagaimana tidak, beliau nampaknya hanyalah seorang penjaga toko biasa, namun penghayatan terhadap makna khosyah(takut kepada Allah swt) sangat mendalam.

Maka al faqir tertarik untuk kembali bertanya:”Hadretak kan bitedrus bi ayyah kulliyah/ma’had ya kapten?(anda dulu belajar di fakultas apa/ma’had apa duhai kapten(panggilan akrab Mesir)?”,

Baca Juga: Kisah hikmah jangan memberi makan syaitan

Beliau kembali menjawab:”Wallahi ma biyadrus fi ayyah kulliyah wala fi ayyi ma’had, illa anna walidi biyahummuni kitsir lamma kuntu shogiron fil tizamil muhadhoroh ‘ammah bil masagid(Saya tidak belajar difakultas apapun atau ma’had manapun, hanya saja orang tua saya sangat memperhatikan agar saya senantiasa mendengarkan pengajian umum di masjid)”

Mendengar jawaban beliau yg begitu tulus dan bersahaja itu al faqir jadi merinding, bagaimana tidak, sebab ini menjadi tamparan keras bagi al faqir pribadi, khususnya sebagai pelajar Syariah(yg sehari-hari bergelut dg hukum-ahkam)bahwa starata intelektual maupun akademis sama sekali tidak dapat dijadikan sebagai standar baku orang itu alim hakiki atau tidak,

Teringat pesan Ayahanda yang sering beliau sampaikan:
“Duhai puteraku…Walaupun orang berprofesi tukang becak sekalipun, namun jika dia takut kepada Allah itulah ulama’ yg sesungguhnya, sebab ulama’ yg hakiki itu standarnya adalah sejauh mana ia takut kepada Allah swt(Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama’).

Oleh: Aba Abror al-Muqoddam

Hasil kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan kegiatan grup DASI bisa anda kungungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.