Mengupas Tuntas Tentang Cadar Antara Budaya Atau Syariat

Benangmerahdasi Mengupas Tuntas Tentang Cadar Antara Budaya Atau Syariat. banyak Masyarakat sekaranga memperdebatkan tentang cadar/ Niqob, kali ini akan kita bahas secara menyeluruh dan mengambil dari berbagai referensi

BENANG MERAH NO:00282
FIQIH WANITA
[serba-serbi niqob/cadar]

Hallo Benang merah
WA: 081384451265

SERBA – SERBI CADAR,ANTARA BUDAYA DAN SYARI’AT [khilafiah abadi]

Jilbab adalah busana muslimah terusan panjang dan lebih besar dari pada khimar (penutup kepala/kerudung) yang dapat menutupi seluruh badan seorang wanita. Ada juga yang mengatakan bahwa jilbab adalah selendang atau cadar, tetapi yang benar adalah pengertian yang pertama sebagaimana keterangan di dalam tafsir al-Qurthubiy.

Di Indonesia penggunaan kata “Jilbab” digunakan secara luas sebagai busana kerudung yang menutupi sebagian kepala wanita (rambut dan leher) yang dirangkai dengan baju yang menutupi tubuh kecuali telapak tangan dan kaki.

Terlepas dari pembahasan arti sebuah kata “Jilbab” dan istilahnya, demikian dimaksudkan sebagai langkah agar wanita menutupi auratnya dari orang-orang yang bukan mahram baginya sesuai rekomendasi al-Qur`an yang berupa :

وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها وليضربن بخمرهن على جيوبهن ولا يبدين زينتهن إلا لبعولتهن أو آبائهن أو آباء بعولتهن أو أبنائهن أو أبناء بعولتهن أو إخوانهن أو بني إخوانهن أو بني أخواتهن أو نسائهن أو ما ملكت أيمانهن أو التابعين غير أولي الإربة من الرجال أو الطفل الذين لم يظهروا على عورات النساء ولا يضربن بأرجلهن ليعلم ما يخفين من زينتهن وتوبوا إلى الله جميعا أيها المؤمنون لعلكم تفلحون

Artinya :
“Katakanlah kepada wanita yang beriman; Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS. An-Nuur : 31)

يا أيها النبي قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدنى أن يعرفن فلا يؤذين وكان الله غفورا رحيما

Artinya :
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. (QS. al-Ahzab : 59)

Baca Juga: Hukum Fiqih Melakukan Sulam Alis

Dan tanpa harus dikaitkan dengan busana tertentu dan istilahnya, yang menjadi tolok ukur dalam penutupan aurat ini adalah susuatu yang bisa menutupi warna kulit meski itu berupa lumuran lumpur, sehingga pakaian tipis yang tidak menutupi warna kulit, air yang jernih, pakaian berbentuk jaring-jaring dan sesamanya tidaklah dianggap cukup sebagai penutup aurat.

Lebih lanjut mengenai aurat seorang wanita yang merdeka (bukan budak) baginya terdapat empat keadaan sebagai berikut :

  1. Aurat wanita ketika shalat, yaitu seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, baik telapak luar dan dalam.

  2. Aurat wanita ketika sedang sendiri, bersama lelaki yang se-mahram dengannya, dan bersama wanita muslimah lainny, yaitu anggota tubuh antara pusar dan lututnya.

  3. Aurat wanita ketika bersama wanita-wanita non muslimah, yaitu seluruh anggota badannya kecuali bagian anggota badan yang tampak ketika sedang ber-khidmah (menjadi pelayan/bekerja).

  4. Aurat wanita ketika di hadapan lelaki asing (bukan mahram-nya), yaitu seluruh anggota badannya, sehingga potongan kukunya pun merupakan aurat baginya.

Baca Juga: Penjelasan Fiqih Tentang Hukum Wanita Mengumandangkan Adzan

Berangkat dari aurat wanita bagian yang keempat, yaitu ketika seorang wanita di hadapan lelaki yang bukan mahramnya. Seorang lelaki asing diharamkan melihat seluruh anggota badan seorang wanita kecuali wajah dan telapak tangannya. Kendatipun wajah dan telapak tangan bukan aurat baginya tetapi ia haram dilihat oleh lelaki yang bukan mahram-nya meski aman dari fitnah dan syahwat, karena sebuah pandangan merupakan persemayaman fitnah dan penggerak/pembangkit syahwat.

Oleh karena itulah, berangkat dari qaul yang shahih dan mu’tamad tersebut seorang wanita diharuskan menutupi wajahnya ketika hendak keluar rumah untuk menutup segala kemungkinan yang akan terjadi terhadapnya.

Ya benar demikian, memang ada sebagian ulama yang memperbolehkan seorang wanita keluar rumah dalam keadaan wajah terbuka seperti pendapat Imam al-Qadhiy ‘Iyadh, karena menurutnya menutup wajah baginya bukanlah merupakan sebuah kewajiban tetapi dianjurkan baginya, dan ketika dia mengetahui bahwa ada lelaki yang sedang melihat atau memperhatikannya maka wajib baginya untuk menutupi wajahnya sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibn Hajar.

Lantas apabila berangkat dari pendapat ini maka melihat wajah dan telapak tangan wanita itu tidak haram. Dan pendapat kedua ini boleh diikuti sebagaimana dinyatakan oleh Syech Ibrahim al-Bajuriy.

Syech Ahmad bin Ghanim al-Nafrawiy mengatakan, bahwa apabila dikhawatirkan/dicemaskan terjadinya fitnah dari melihat seorang wanita maka wajib atasnya menutup seluruh anggota badannya hingga wajah dan kedua telapak tangannya, dan apabila tidak demikian maka wajib menutup anggota badan selain dari wajah dan telapak tangannya. Namun untuk zaman sekarang tuntutan syari’at adalah wajibnya menutup wajah atas seorang wanita, bukan karena ia merupakan aurat tetapi terbukanya wajah wanita dapat menghantar lisan untuk menuduhnya dengan hal yang bukan-bukan.

Baca Juga: Penjelasan Hukum Khitan Bagi Perempuan

Dengan demikian, wanita yang berjilbab/berkerudung saja (tanpa cadar) pada hakikatnya sudah mencukupi untuk disebut menutupi auratnya karena wajah (dan telapak tangan) seorang wanita pada dasarnya tidak wajib ditutup, hanya saja menurut qaul shahih seorang lelaki yang bukan mahram-nya diharamkan melihatnya meski aman dari fitnah semata-mata demi menjaga segala kemungkinan buruk yang akan terjadi terhadap seorang wanita sehubungan prihal melihat merupakan pembangkit timbulnya syahwat, oleh sebab itulah wanita yang tidak menutup wajahnya dan bermaksud agar dilihat oleh lelaki asing atau nyata akan ada lelaki yang melihatnya (dengan pandangan syahwat) menjadi wajib atasnya untuk menutupi wajahnya, karena bila tidak maka dia telah menolong lelaki tersebut pada keharaman hingga wanita itupun berdosa. Maka dari aspek/sudut pandang inilah terlihat jelas perbedaan antara wanita yang hanya berjilbab/berkerudung saja dan wanita yang berjilbab yang disertai dengan bercadar.

MENURUT AHLI TAFSIR

Mari kita bolak-balik halaman kitab-kitab tafsir, kita akan dapat keterangan yang menarik. Salah satunya apa yang disebutkan oleh mufassri besar, As-Suddi, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang masyhur. Beliau menjelaskan sebagai berikut :

كان ناس من فساق أهل المدينة يخرجون بالليل حين يختلط الظلام إلى طرق المدينة يتعرضون للنساء وكانت مساكن أهل المدينة ضيقة ، فإذا كان الليل خرج النساء إلى الطرق يقضين حاجتهن ، فكان أولئك الفساق يبتغون ذلك منهن ، فإذا رأوا امرأة عليها جلباب قالوا : هذه حرة ، كفوا عنها . وإذا رأوا المرأة ليس عليها جلباب ، قالوا : هذه أمة . فوثبوا إليها .

Penduduk Madinah yang fasik keluar di malam hari di kegelapan jalanan kota Madinah. Mereka menggoda para wanita. Rumah-rumah di Madinah itu sempit. Bila malam menjelang, para wanita keluar untuk memenuhi kebutuhan mereka, lalu orang-orang fasik itu menggoda mereka. Tetapi kalau ada wanita yang pakai jilbab mereka akan bilang,”Ini wanita merdeka, jangan diganggu”. Sebaliknya, bila melihat wanita tidak pakai jilbab, mereka bilang ini budak dan mereka pun mengerjainya.

Tentu saja tafsir ini hanya salah satu versi dari beragama versi lainnya yang akan kita dapat di dalam kitab tafsir.

Sebut saja misalnya pendapat Ibnu Abbas radhiyallahuanhu. Pendapat beliau malah sangat berbeda dengan apa yang banyak kita yakini selama ini tentang jilbab. Buat beliau, jilbab itu bukan cuma sekedar kerudung panjang yang menutup sampai dada, tetapi juga harus menutup wajah juga. Coba perhatikan perkataan Ibnu Abbas berikut ini :
عن ابن عباس : أمر الله نساء المؤمنين إذا خرجن من بيوتهن في حاجة أن يغطين وجوههن من فوق رؤوسهن بالجلابيب ، ويبدين عينا واحدة
Dari Ibnu Abbas : Allah memerintahkan kepada wanita mukminin apabila keluar dari rumah untuk suatu keperluan untuk menutup wajah mereka dari atas kepala dengan jalabib, dan menyisakan satu mata saja yang kelihatan.

Hal senada juga disebutkan oleh Muhammad bin Sirin :
وقال محمد بن سيرين : سألت عبيدة السلماني عن قول الله تعالى : ( يدنين عليهن من جلابيبهن ) ، فغطى وجهه ورأسه وأبرز عينه اليسرى

Aku bertanya kepada Ubaidah As-Salmani tentang firman Allah (Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya), maka beliau menutup wajah dan kepalanya dan memperlihatkan mata kirinya.
Berarti jilbab itu bukan sekedar besar dan longgar, tetapi juga harus menutup kepala dan wajah juga. Setidaknya ini menurut Ibnu Abbas dan Muhammad bin Sirin serta banyak ulama lainnya.

Baca Juga: Tata Cara Sholat dan Puasa bagi Wanita yang Mengalami Istihadhoh

Nah, apakah kita akan bilang bahwa seluruh wanita muslimah wajib mengenakan cadar yang menutup wajah?

Tentu saja kita serahkan saja tafsir dan pengertiannya kepada masing-masing ulama. Kita harus terima bahwa masalah ini, baik kewajiban pakai cadar, atau pun makna jilbab itu sendiri, termasuk masalah-masalah khilafiyah yang mana para ulama tidak pernah sampai ke satu titik pendapat. Dan itu hak mereka yang wajib kita hormati.

Jadi apakah bahan kerudung atau khimar itu harus nyambung dari penutupi kepala dan wajah hingga sampai ke dada dan seluruh tubuh atau tidak harus begitu, tentu semua itu silahkan diperdebatkan.

Apakah istilah jilbab itu mau diartikan sebagai kerudung yang hanya menutup bagian kepala, ataukah mau ditafsirkan sebagai pakaian terusan mulai dari kepala hingga kaki, lebar, longgar, berwarna hitam, atau tidak harus begitu, juga silahkan saja diperdebatkan.

Apakah jilbab itu mau diartikan sebagai gamis panjang dan yang diatas kepala itu namanya khimar, monggo silahkan diperdebatkan secara ilmiyah.

Toh semua itu ada dan merupakan pendapat-pendapat mulia dari para ulama yang juga mulia. Keberagaman pendapat mereka tidak bisa kita nafikan begitu saja. Dan kita bebas sebebas-bebasnya untuk mengikuti salah satu pendapat dari mereka. Dan juga bebas untuk pindah dari satu pendapat ke pendapat lainnya.

Namun yang tidak ada perbedaan pendapat lagi adalah masalah menutup auratnya. Sedangkan model pakaiannya, dan silang pendapat dalam masalah nama model pakaiannya, termasuk juga ukuran, warna, corak dan motifnya, silahkan saja para ulama berbeda pendapat.

Intinya, semua pendapat itu wajib kita hormati, meskipun tidak selalu wajib diikuti. Namanya saja pendapat manusia, kadang bisa benar dan kadang juga bisa keliru. Posisi kita tentu bebas mau pakai pendapat yang mana saja dari lusinan pendapat yang ada.

Asalkan dengan catatan, bahwa kita tidak perlu ikut terjerumus ke dalam akhlaq rendahan gaya orang-orang jahiliyah yang kosong kepalanya dari ilmu, yang mudah menjelekkan, menghina dan melecehkan pendapat yang tidak sejalan dengan kita.

تفسير القرطبي — سورة الأحزاب ج 14 ص 245 | المرجع الأكبر

الثالثة: قولـه تعالى: {يَـٰۤأَيـُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَـٰتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَـٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰۤ أَن يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا}؛ الجلابيب جمع جلباب، وهو ثوب أكبر من الخمار. وروي عن ابن عباس وابن مسعود أنه الرداء. وقد قيل: إنه القناع. والصحيح أنه الثوب الذي يستر جميع البدن. وفي صحيح مسلم عن أمّ عطيّة قلت: يا رسول اللـه، إحدانا لا يكون لـها جلباب؟ قال: «لِتُلْبِسْها أختُها من جلبابها». ـــ إلى أن قال ـــ الخامسة: أمر اللـه سبحانه جميع النساء بالستر، وأن ذلك لا يكون إلا بما لا يصف جلدها، إلا إذا كانت مع زوجها فلـها أن تلبس ما شاءت؛ لأن لـه أن يستمتع بها كيف شاء. إهـ

شرح المحلي على المنهاج — في باب صفة الصلاة | المرجع الأكبر

(وَشَرْطُهُ) أَيْ السَّاتِرُ (مَا مَنَعَ إدْرَاكَ لَوْنِ الْبَشَرَةِ وَلَوْ) هُوَ (طِينٌ وَمَاءٌ كَدِرٌ) كَأَنْ صَلَّى فِيهِ عَلَى جِنَازَةٍ، وَفِي كُلٍّ مِنْهُمَا وَجْهٌ أَنَّهُ لَا يَكْفِي فِي السِّتْرِ لِأَنَّهُ لَا يُعَدُّ سَاتِرًا، (وَالْأَصَحُّ) عَلَى الْأَوَّلِ (وُجُوبُ التَّطَيُّنِ عَلَى فَاقِدِ الثَّوْبِ) وَنَحْوِهِ، وَالثَّانِي لَا يَجِبُ لِمَا فِيهِ مِنْ الْمَشَقَّةِ وَالتَّلْوِيثِ، وَلَا يَكْفِي مَا يُدْرَكُ مِنْهُ لَوْنُ الْبَشَرَةِ كَالثَّوْبِ الرَّقِيقِ وَالْغَلِيظِ الْمُهَلْهَلِ النَّسْجِ وَالْمَاءِ الصَّافِي لِلْعَوْرَةِ (لَا أَسْفَلَهُ) لَهَا فَسَتْرٌ مُضَافٌ إلَى فَاعِلِهِ. إهـ

نهاية الزين في ارشاد المبتدئين ج 1 ص 43 | المرجع الأكبر

والحرة لها أربع عورات: إحداها: جميع بدنها إلا وجهها وكفيها ظهراً وبطناً، وهو عورتها في الصلاة، فيجب عليها ستر ذلك في الصلاة حتى الذراعين والشعر وباطن القدمين، ثانيتها: ما بـين سرتها وركبتها، وهي عورتها في الخلوة وعند الرجال المحارم وعند النساء المؤمنات. ثالثتها: جميع البدن إلا ما يظهر عند المهنة، وهي عورتها عند النساء الكافرات. رابعتها: جميع بدنها حتى قلامة ظفرها، وهي عورتها عند الرجال الأجانب؛ فيحرم على الرجل الأجنبـي النظر إلى شيء من ذلك، ويجب على المرأة ستر ذلك عنه. إهـ

تفسير البغوي — سورة النور ج 3 ص 403 وص 407 | المرجع الأكبر

قوله عزّ وجلّ: {وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ} أي: ليلقين بمقانعهن {عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ} وصدورهنّ ليسترن بذلك شعورهنّ وصدورهنّ وأعناقهن وقراطهن. قالت عائشة: رحم الله نساء المهاجرات الأول لما أنزل الله عزّ وجلّ: {وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ} شققن مروطهنّ فاختمرن بها. {وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ} يعني: الزينة الخفية التي لم يبح لهن كشفها في الصلاة ولا للأجانب وهو ما عدا الوجه والكفين، ـــ إلى أن قال ـــ أما المرأة مع الرجل فإن كانت أجنبيةً حرةً: فجميع بدنها في حق الأجنبي عورة لا يجوز النظر إلى شيء منها إلا الوجه الوكفين. إهـ

حاشية البيجرمي على الخطيب — في شروط صحة الصلاة | المرجع الأكبر

قَوْلُهُ (وَعَوْرَةُ الْحُرَّةِ) أَيْ فِي الصَّلَاةِ؛ أَمَّا عَوْرَتُهَا خَارِجَ الصَّلَاةِ بِالنِّسْبَةِ لِنَظَرِ الْأَجْنَبِيِّ إلَيْهَا فَهِيَ جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ، وَلَوْ عِنْدَ أَمْنِ الْفِتْنَةِ، وَلَوْ رَقِيقَةً، فَيَحْرُمُ عَلَى الْأَجْنَبِيِّ أَنْ يَنْظُرَ إلَى شَيْءٍ مِنْ بَدَنِهَا وَلَوْ قُلَامَةَ ظُفْرٍ مُنْفَصِلًا مِنْهَا، وَالْعِبْرَةُ بِوَقْتِ النَّظَرِ، وَإِنْ انْفَصَلَ مِنْهَا ذَلِكَ حَالَةَ الزَّوْجِيَّةِ عَلَى الرَّاجِحِ. إهـ

حاشية الباجوري ج 2 ص 97 | منارا قُدُس إندونيسيا

(قوله أجنبية) أي إلى شيء من إمرأة أجنبية أي غير محرمة ولو أمة، وشمل ذلك وجهها وكفيها، فيحرم النظر إليها ولو من غير شهوة أو خوف فتنة على الصحيح كما في المنهاج وغيره، ووجهه الإمام باتفاق المسلمين على منع النساء من الخروج سافرات الوجوه أي كاشفة الوجوه، وبأن النظر محرك للشهوة ومظنة الفتنة، وقد قال تعالى : قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم، واللائق بمحاسن الشريعة سد الباب والإعراض عن تفاصيل الأحوال كما قالوه في الخلوة بالأجنبية، وقيل لا يحرم لقوله تعالى : ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها؛ وهو مفسر بالوجه والكفين، والمعتمد الأول، ولا بأس بتقليد الثاني لا سيما في هذا الزمان الذي كثر فيه خروج النساء في الطرق والأسواق، وشمل ذلك أيضا شعرها وظفرها حتى دم الفصد منها. إهـ

تحفة المحتاج في شرح المنهاج — في كتاب النكاح | المرجع الأكبر

(ويحرم نظر فحل بالغ إلى عورة حرة كبيرة أجنبية) وَهِيَ مَا عَدَا وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا بِلَا خِلَافٍ ـــ إلى أن قال ـــ (وَكَذَا وَجْهُهَا) أَوْ بَعْضُهُ وَلَوْ بَعْضَ عَيْنِهَا، أَوْ مِنْ وَرَاءِ نَحْوِ ثَوْبٍ يُحْكَى مَا وَرَاءَهُ (وَكَفُّهَا)، أَوْ بَعْضُهُ أَيْضًا، وَهُوَ مِنْ رَأْسِ الْأَصَابِعِ إلَى الْكُوعِ (عِنْدَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ) إجْمَاعًا مِنْ دَاعِيَةٍ نَحْوَ مَسٍّ لَهَا، أَوْ خَلْوَةٍ بِهَا وَكَذَا عِنْدَ النَّظَرِ بِشَهْوَةٍ بِأَنْ يَلْتَذَّ بِهِ، وَإِنْ أَمِنَ الْفِتْنَةَ قَطْعًا (وَكَذَا عِنْدَ الْأَمْنِ) مِنْ الْفِتْنَةِ فِيمَا يَظُنُّهُ مِنْ نَفْسِهِ وَبِلَا شَهْوَةٍ (عَلَى الصَّحِيحِ)، وَوَجَّهَهُ الْإِمَامُ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مَنْعِ النِّسَاءِ أَنْ يَخْرُجْنَ سَافِرَاتِ الْوُجُوهِ وَلَوْ جُلَّ النَّظَرُ لَكِنَّ كَالْمُرْدِ وَبِأَنَّ النَّظَرَ مَظِنَّةٌ لِلْفِتْنَةِ وَمُحَرِّكٌ لِلشَّهْوَةِ، فَاللَّائِقُ بِمَحَاسِنِ الشَّرِيعَةِ سَدُّ الْبَابِ وَالْإِعْرَاضُ عَنْ تَفَاصِيلِ الْأَحْوَالِ كَالْخَلْوَةِ بِالْأَجْنَبِيَّةِ، وَبِهِ انْدَفَعَ مَا يُقَالُ هُوَ غَيْرُ عَوْرَةٍ؛ فَكَيْفَ حَرُمَ نَظَرُهُ، وَوَجْهُ انْدِفَاعِهِ أَنَّهُ مَعَ كَوْنِهِ غَيْرَ عَوْرَةٍ نَظَرُهُ مَظِنَّةٌ لِلْفِتْنَةِ، أَوْ الشَّهْوَةِ فَفَطَمَ النَّاسَ عَنْهُ احْتِيَاطًا عَلَى أَنَّ السُّبْكِيَّ قَالَ الْأَقْرَبُ إلَى صَنِيعِ الْأَصْحَابِ أَنَّ وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا عَوْرَةٌ فِي النَّظَرِ، وَلَا يُنَافِي مَا حَكَاهُ الْإِمَامُ مِنْ الِاتِّفَاقِ نَقْلُ الْمُصَنِّفِ عَنْ عِيَاضٍ الْإِجْمَاعَ عَلَى أَنَّهُ لَا يَلْزَمُهَا فِي طَرِيقِهَا سَتْرُ وَجْهِهَا وَإِنَّمَا هُوَ سُنَّةٌ وَعَلَى الرِّجَالِ غَضُّ الْبَصَرِ عَنْهُنَّ لِلْآيَةِ لِأَنَّهُ لَا يَلْزَمُ مِنْ مَنْعِ الْإِمَامِ لَهُنَّ مِنْ الْكَشْفِ لِكَوْنِهِ مَكْرُوهًا، وَلِلْإِمَامِ الْمَنْعُ مِنْ الْمَكْرُوهِ لِمَا فِيهِ مِنْ الْمَصْلَحَةِ الْعَامَّةِ وُجُوبُ السَّتْرِ عَلَيْهِنَّ بِدُونِ مَنْعٍ مَعَ كَوْنِهِ غَيْرَ عَوْرَةٍ وَرِعَايَةُ الْمَصَالِحِ الْعَامَّةِ مُخْتَصَّةٌ بِالْإِمَامِ وَنُوَّابِهِ، نَعَمْ مَنْ تَحَقَّقَتْ نَظَرَ أَجْنَبِيٍّ لَهَا يَلْزَمُهَا سَتْرُ وَجْهِهَا عَنْهُ وَإِلا كَانَتْ مُعِينَةً لَهُ عَلَى حَرَامٍ فَتَأْثَمُ. إهـ

حاشية الجمل — في كتاب النكاح | المرجع الأكبر

وَمَا ذَكَرْتُهُ مِنْ تَحْرِيمِ نَظَرِ الْفَحْلِ إلَى وَجْهِ الْمَرْأَةِ وَكَفَّيْهَا وَعَكْسِهِ عِنْدَ أَمْنِ الْفِتْنَةِ هُوَ مَا صَحَّحَهُ الْأَصْلُ وَاَلَّذِي فِي الرَّوْضَةِ كَأَصْلِهَا عَنْ أَكْثَرِ الْأَصْحَابِ حِلُّهُ. إهـ

(قَوْلُهُ: هُوَ مَا صَحَّحَهُ الْأَصْلُ)؛ وَأُيِّدَ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى أَنَّ لِوُلَاةِ الْأُمُورِ مَنْعَ النِّسَاءِ مِنْ الْخُرُوجِ سَافِرَاتِ الْوُجُوهِ، وَرُدَّ بِأَنَّ مَنَعَهُنَّ مِنْ ذَلِكَ لَا لِأَجْلِ وُجُوبِ السَّتْرِ عَلَيْهِنَّ لِذَاتِهِ، بَلْ لِأَنَّ فِيهِ مَصْلَحَةً عَامَّةً وَفِي تَرْكِهِ إخْلَالٌ بِالْمُرُوءَةِ، وَمِنْ ثَمَّ نَقَلَ الْقَاضِي عِيَاضٌ عَنْ الْعُلَمَاءِ أَنَّهُ لَا يَجِبُ عَلَى الْمَرْأَةِ سَتْرُ وَجْهِهَا، وَعَلَى الرِّجَالِ غَضُّ الْبَصَرِ عَنْهُنَّ أَيْ فَإِنْ عَلِمْنَ نَظَرَ أَجْنَبِيٍّ لَهُنَّ وَجَبَ عَلَيْهِنَّ السَّتْرُ؛ وَهَذَا مَا قَالَهُ حَجّ، وَضَعَّفَ شَيْخُنَا مَا نَقَلَهُ الْقَاضِي عِيَاضٌ وَمَنَعَ كَوْنَ وُلَاةِ الْأُمُورِ؛ إنَّمَا مَنَعُوا مِمَّا ذُكِرَ لِلْمَصْلَحَةِ الْعَامَّةِ لَا لِكَوْنِ السَّتْرِ وَاجِبًا لِذَاتِهِ، قَالَ: وَإِنَّمَا ذَلِكَ لِكَوْنِ السَّتْرِ وَاجِبًا لِذَاتِهِ، وَفِيهِ أَنَّ مُقْتَضَى ذَلِكَ وُجُوبُ السَّتْرِ عَلَى الرَّجُلِ لِوَجْهِهِ لِأَنَّهُ كَمَا يَجِبُ عَلَى الْمَرْأَةِ سَتْرُ وَجْهِهَا لِئَلا يَنْظُرَ إلَيْهِ مَنْ يَحْرُمُ نَظَرُهُ لَهُ فَكَذَلِكَ يَكُونُ لِلرَّجُلِ وَلَا يَنْبَغِي الْقَوْلُ بِهِ. فَالْحَقُّ مَا قَالَهُ حَجّ ا هـ. ح ل. إهـ

الفواكة الدواني على رسالة ابن أبي زيد القيرواني ج 2 ص 451 | المرجع الأكبر

الثَّالِثُ : اعْلَمْ أَنَّ الْمَرْأَةَ إذَا كَانَ يُخْشَى مِنْ رُؤْيَتِهَا الْفِتْنَةُ وَجَبَ عَلَيْهَا سَتْرُ جَمِيعِ جَسَدِهَا حَتَّى وَجْهِهَا وَكَفَّيْهَا، وَأَمَّا إنْ لَمْ يُخْشَ مِنْ رُؤْيَتِهَا ذَلِكَ فَإِنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهَا سَتْرُ مَا عَدَا وَجْهِهَا وَكَفَّيْهَا، وَلِمَا قَالَهُ الْقَاضِي عِيَاضٌ وَغَيْرُهُ مِنْ أَنَّهُ لَا يَجِبُ عَلَى الْمَرْأَةِ سَتْرُ وَجْهِهَا وَكَفَّيْهَا وَإِنَّمَا يُسْتَحَبُّ لَهَا ذَلِكَ، وَعَلَى الرَّجُلِ غَضُّ بَصَرِهِ عَنْ النَّظَرِ إلَيْهَا بِشَهْوَةٍ، هَذَا مُلَخَّصُ كَلَامِهِمْ. وَأَقُولُ: الَّذِي يَقْتَضِيه الشَّرْعُ وُجُوبَ سَتْرِهَا وَجْهَهَا فِي هَذَا الزَّمَانِ، لَا لِأَنَّهُ عَوْرَةٌ وَإِنَّمَا ذَلِكَ لِمَا تُعُورِفَ عِنْدَ أَهْلِ هَذَا الزَّمَانِ الْفَاسِدِ أَنَّ كَشَفَ الْمَرْأَةِ وَجْهَهَا يُؤَدِّي إلَى تَطَرُّقِ الْأَلْسِنَةِ إلَى قَذْفِهَا، وَحِفْظُ الْأَعْرَاضِ وَاجِبٌ كَحِفْظِ الْأَدْيَانِ وَالْأَنْسَابِ وَحَرَّرَ الْمَسْأَلَةَ. إهـ

الحاوي في تفسير القرآن الكريم 18273 من 23844 | نداء الإيمان

الحكم الثالث: هل يجب على المرأة ستر وجهها؟

تقدم معنا في سورة النور أن المرأة منهية عن إبداء زينتها إلا للمحارم [ولا يبدين زينتهن إلا لبعولتهن أو آبآئهن] (النور : 31) الآية؛ ولما كان الوجه أصل الزينة، ومصدر الجمال والفتنة، لذلك كان ستره ضروريا عن الأجانب، والذين قالوا إن الوجه ليس بعورة اشترطوا ألا يكون عليه شيء من الزينة كالأصباغ والمساحيق التي توضع عادة للتجمل، وبشرط أمن الفتنة، فإذا لم تؤمن الفتنة فيحرم كشفه. ومما لا شك فيه أن الفتنة في هذا الزمان غير مأمونة، لذا نرى وجوب ستر الوجه حفاظا على كرامة المسلمة، وقد ذكرنا بعض الحجج الشرعية على وجوب ستره في بحث بدعة كشف الوجه من سورة النور. إهـ

REFERENSI :

1.Tafsir al-Qurthubiy, juz 14, hal. 245

2.Syarh al-Mahalliy ‘Ala al-Minhaj — Fiy Bab Shifat al-Shalah

3.Nihayah al-Zain, juz 1, hal. 43

4.Tafsir al-Baghawiy, juz 3, hal. 403 & 407

5.Hasyiyah al-Bujairamiy ‘Ala al-Khathib — Fiy Syuruth Shihhat al-Shalah

6.Hasyiyah al-Bajuriy, juz 2, hal. 97

7.Tuhfah al-Muhtaj — Fiy Kitab al-Nikah

8.Hasyiyah al-Jamal — Fiy Kitab al-Nikah

9.al-Fawakih al-Diwaniy, juz 2, hal. 451

10.al-Hawiy Fiy Tafsir al-Qur`an al-Karim 18273

Hasil kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan kegiatan grup DASI bisa anda kungungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.