Menikahkan Dengan Paksa Dalam Perspektif Fiqih

Menikahkan Dengan Paksa

Benangmerahdasi.com – Assalàmu’laikum Warohmatullàh Wabarokàtuh. Masalah Menikahkan dengan paksa ini ada dua pendapat yang populer di kalangan ulama fiqih.

Pendapat pertama tentang Menikahkan Dengan Paksa :

Orang tua boleh menikahkan dengan paksa anak gadisnya. Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Malik dan Imam Syafii serta riwayat dari Imam Ahmad.

Alasan pendapat ini adalah hadist di atas bahwa kalau janda lebih berhak atas dirinya, maka artinya orang tua lebih berhak atas anak gadisnya.

Kemudian juga hadist yang mengatakan “seorang gadis datang ke Rasulullah s.a.w. mengadu kepada Rasulullah bahwa ayahnya menikahkannya dengan seseorang yang ia tidak menyukainya,

lalu Rasulullah s.a.w. memberinya pilihan (boleh melanjutkan dan boleh menolak)”
(Hr.Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Rasulullah memberinya pilihan, itu menunjukkan bahwa nikahnya sah. Ada juga riwayat hadist tersebut dengan redaksi “gadist walinya lah yang menikahkannya”
(HR. Daraqutni)

Pendapat kedua tentang Menikahkan Dengan Paksa :

Gadis dan janda yang baligh aqil sama sekali tidak boleh dipaksa menikah dan nikah paksa hukumnya tidak sah.

Pendapat ini berlandas pada hadist riwayat Bukhari Muslim “Seorang gadis Tidak boleh dinikahi hingga mendapatkan persetujuannya,

begitu juga seorang janda tidak boleh dinikahi hingga mendapatkan persetujuannya. Seorang sahabat bertanya “bagaimana mengetahui persetujuannya (umumnya mereka malu)?”

Rasulullah s.a.w. menjawab :
“Izinnya adalah ketika ia diam dan tidak menolak”.

Syeikh Shan’ani penulis kitab Subulus Salam Syarah Bulughul Maraam bahwa hadist ini juga menunjukkan kaharaman nikah paksa.

· ﺗَﻨْﺒِﻴﻪٌ : ﻟِﺘَﺰْﻭِﻳﺞِ ﺍﻟْﺄَﺏِ ﺃَﻭْ ﺍﻟْﺠَﺪِّ ﺍﻟْﺒِﻜْﺮَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺇﺫْﻧِﻬَﺎ ﺷُﺮُﻭﻁٌ : ﺍﻟْﺄَﻭَّﻝُ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺑَﻴْﻨَﻬَﺎ ﻭَﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻋَﺪَﺍﻭَﺓٌ ﻇَﺎﻫِﺮَﺓٌ . ﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻲ : ﺃَﻥْ ﻳُﺰَﻭِّﺟَﻪﺍَ ﻣِﻦْ ﻛُﻒْﺀٍ . ﺍﻟﺜَّﺎﻟِﺚُ : ﺃَﻥْ ﻳُﺰَﻭِّﺟَﻪﺍَ ﺑِﻤَﻬْﺮِ ﻣِﺜْﻠِﻬَﺎ . ﺍﻟﺮَّﺍﺑِﻊُ : ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﻧَﻘْﺪِ ﺍﻟْﺒَﻠَﺪِ . ﺍﻟْﺨَﺎﻣِﺲُ : ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟﺰَّﻭْﺝُ ﻣُﻌْﺴِﺮًﺍ ﺑِﺎﻟْﻤَﻬْﺮ ِ . ﺍﻟﺴَّﺎﺩِﺱُ : ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳُﺰَﻭِّﺟَﻪﺍَ ﺑِﻤَﻦْ ﺗَﺘَﻀَﺮَّﺭُ ﺑِﻤُﻌَﺎﺷَﺮِﻪِﺗَ ﻛَﺄَﻋْﻤَﻰﺃَﻭْ ﺷَﻴْﺦٍ ﻫَﺮَﻡٍ . ﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻊُ : ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻗَﺪْ ﻭَﺟَﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻧُﺴُﻚٌ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﺰَّﻭْﺝَﻳَﻤْﻨَﻌُﻪَﺍ ﻟِﻜَﻮْﻥِ ﺍﻟﻨُّﺴُﻚِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺘَّﺮَﺍﺥِﻱ ﻭَﻟَﻬَﺎ ﻏَﺮَﺽٌ ﻓِﻲ ﺗَﻌْﺠِﻴﻞِﺑَﺮَﺍﺀَﺓِ ﺫِﻣَّﺘِﻬَﺎ ﻗَﺎﻟَﻪُ ﺍﺑْﻦُ ﺍﻟْﻌِﻤَﺎﺩِ . ﻭَﻫَﻞْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺸُّﺮُﻭﻁُ ﺍﻟْﻤَﺬْﻛُﻮﺭَﺓُ ﺷُﺮُﻭﻁٌ ﻟِﺼِﺤَّﺔِ ﺍﻟﻨِّﻜَﺎﺡِ ﺑِﻐَﻴْﺮِﺍﻟْﺈِﺫْﻥِ ﺃَﻭْ ﻟِﺠَﻮَﺍﺯِ ﺍﻟْﺈِﻗْﺪَﺍﻡِ ﻓَﻘَﻂْ ؟ ﻓِﻴﻪِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﻣُﻌْﺘَﺒَﺮٌ ﻟِﻬَﺬَﺍﻭَﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﻣُﻌْﺘَﺒَﺮٌ ﻟِﺬَﻟِﻚَ ، ﻓَﺎﻟْﻤُﻌْﺖُﺕﺍَﺮَﺑَ ﻟِﻠﺼِّﺤَّﺔِ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺍﻟْﺈِﺫْﻥِﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺑَﻴْﻨَﻬَﺎ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﻭَﻟِﻴِّﻬَﺎ ﻋَﺪَﺍﻭَﺓٌ ﻇَﺎﻫِﺮَﺓٌ ، ﻭَﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَﺍﻟﺰَّﻭْﺝُ ﻛُﻔُﺆًﺍ ، ﻭَﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻣُﻮﺳِﺮًﺍ ﺑِﺤَﺎﻝِ ﺻَﺪَﺍﻗِﻬَﺎ ، ﻭَﻣَﺎ ﻋَﺪَﺍﺫَﻟِﻚَ ﺷُﺮُﻭﻁٌ ﻟِﺠَﻮَﺍﺯِ ﺍﻟْﺈِﻗْﺪَﺍﻡِ . ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻮَﻟِﻲُّ ﺍﻟْﻌِﺮَﺍﻕِﻱُّ : ﻭَﻳَﻨْﺒَﻎِﻱ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﺘَﺒَﺮَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺟْﺒَﺎﺭِﺃَﻳْﻀًﺎ ﺍﻧْﺘِﻔَﺎﺀُ ﺍﻟْﻌَﺪَﺍﻭَﺓِ ﺑَﻴْﻨَﻬَﺎ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺰَّﻭْﺝِ . ﺍﻧْﺘَﻬَﻰ

Kembali kepada masalah madzhab Syafii diatas yang mengatakan bahwa dinikahkan dengan paksa hukumnya sah,

kalau ditelusuri lebih jauh dari kitab-kitab mazhab Syafii kita menemukan bahwa pendapat tersebut tidak mutlak.

Artinya ada syarat-syarat tertentu yang menjadikan nikah paksa sah. Seperti ditegaskan dalam kitab Hasyiah Bujairami dan kitab al-Iqna’ karangan Khatib Al-Syarbini

bahwa seorang ayah atau kakek bisa menikahkan anak gadisnya tanpa persetujuan dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Tidak ada permusuhan antara ayahdan gadis tersebut. Artinya tidak terbukti ada unsur penganiayaan dankepentingan sepihak dalam pernikahan tersebut;

2. Sang ayah menikahkanya denganorang yang sepadan dengannya(kafa’ah).

3. Ayah menikahkannya dengan maharmitsil (yaitu senilai mahar atau lebih mahal dari mahar yang diterima ibu sang gadis);

4. Mahar harus dengan valuta yang berlaku di negeri dimana merekahidup;

5. Suaminya harus mampu membayar mahar tersebut;

6. Ayah tidak menikahkanya dengan seseorang yang membuat gadis tersebut menderita, misalnya seorang yang buta atau orang yang sudah tua;

7. Gadis tersebut belum wajib melaksanakan haji, karena kalau sudahwajib akan tertunda hajinya oleh pernikahan tersebut;

Ulama Wali Iraqi menambahkan satu syarat lagi, yaitu tidak ada permusuhan antara gadis dan lelaki yang dinikahkan dengannya.

Baca juga: Penjelasan fiqih meminta cerai dengan alasan sang suami tidak bisa memberikan nafkah batin

Menikahkan Dengan Paksa
Penjabaran Pernikahan ala Siti Nurbaya

Meskipun dikenal istilah haqq al ijbaar atau hak paksa seorang wali (Ayah atau Kakek) untuk menikahkan anak gadisnya tanpa perlu izin dari pihak anak, namun ditilik dari Hak asasi manusia,

aturan ini praktis bernuansa diskriminatif dan bertentangan dengan semangat kebebasan yang Islam datang untuk menghapus segala bentuk penindasan dan tradisi-tradisi ala Siti Nurbaya.

Memang ada Hadits yang memberikan legitimasi kepada orang tua (wali) untuk menjodohkan putri gadisnya tanpa harus melalui kesepakatannya terlebih dahulu,

dalam sebuah Riwayat Rasulullah SAW bersabda :

“Janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya sedangkan anak gadisyang menikahkan adalah bapaknya”
(HR. Ad-Daruquthny).

Redaksi hadits ini menegaskan bahwa hak nikah seorang anak gadis berada ditangan ayahnya (wali mujbir) namun bisa terealisasinya hadits ini dengan ketentuan syarat yang amat memberatkan pada pihak ayah, diantaranya sebagai berikut :

1. Tidak ada kebencian nyata antaraayah dan anak gadisnya.

2. Tidak ada kebencian nyata antaracalon suami dan anak gadis.

3. Menjodohkan dengan laki-laki yang selevel (kufu’) dengan anak gadis.

4. Memilih calon suami yang sanggup memenuhi kewajiban membayar mahar(mas kawin).

5. Menikahkan dengan mahar standar(mitsli).

6. Mahar harus dibayar kontan.

Menikahkan Dengan Paksa

Dari ketentuan-ketentuan syarat diatas untuk empat syarat yang pertama apabila tidak dapat terpenuhi salah satunya maka prosesi akad pernikahannya dianggap tidak sah

kecuali sebelumnya ada kerelaan dan perizinan oleh pihak gadis sedangkan dua syarat terakhir apa bila tidak terpenuhi tidak sampai mempengaruhi keabsahan pernikahan.

Imam al-Bukhari berkata: Mu’adz bin Fadhalah memberitahu kami, ia berkata: Hisyam memberitahu kepada kami, dari Yahya dari Abu Salamah bahwa Abu Hurairah ra pernah menyampaikan hadits kepada mereka bahwa Nabi saw. pernah bersabda,

“Tidaklah seorang janda dinikahkan sehingga diminta pertimbangannya dan tidak pula seorang gadis dinikahkan sehingga diminta izinnya.”

Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu bagaimana pengizinan seorang gadis itu?” Beliau menjawab,

“Yaitu, dia diam.”

Dari Sayyidah ‘Aisyah ra, dia berkata,
“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw mengenai seorang gadis yang akan dinikahkan oleh keluarganya, apakah perlu dimintai pertimbangannya?”

Maka Rasulullah saw bersabda kepadanya,
“Ya, dimintai pertimbangannya.”

Lalu ‘Aisyah berkata, maka aku katakan kepada beliau,
“Dia malu.”

Rasulullah saw pun berkata, “Demikianlah pengizinannya, jika ia diam.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi saw bersabda:

“Seorang janda lebih berhak atas dirinya sendiri daripada walinya. Sedangkan seorang gadis dimintai izin dan pengizinannya adalah sikap diamnya.”
(HR. Muslim).

Dari sayyidah ‘Aisyah raa dari Nabi Saw, beliau bersabda:

“Mintalah izin kepada wanita dalam pernikahannya.”
Dikatakan kepada beliau, “Sesungguhnya seorang gadis akan merasa malu dan diam.”

Beliau bersabda, “Itulah izinnya.” (HR.An-Nasa-i dengan sanad yang shahih).

Imam al-Bukhari rahimahullah telah membuat bab tersendiri: “Bab Idzaa Zawwaja Ibnatahu wahiya Kaarihah fanikaahuhaa Marduudun (Bab Jika Seorang Bapak Menikahkan Anaknya, Lalu Menolak, Maka Nikahnya Batal).”

Imam al-Bukhari berkata, Isma’il memberitahu kami, dia berkata, Malik memberitahuku, dari ‘Abdurrahman binal-Qasim dari ayahnya dari ‘Abdurrahman dan Mujammi’,

dua putera Yazid bin Jariyah, dari Khansa’bin Khidam al-Anshariyah bahwa ayahnya pernah menikahkannya sementara dia adalah seorang janda,

lalu dia tidak menyukai hal itu, kemudian dia mendatangi Rasulullah saw, maka beliau pun mmbatalkan nikahnya.

Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya, diaberkata, “Pernah datang seorang remaja puteri kepada Nabi saw seraya berucap,

“Sesungguhnya ayahku telah menikahkanku dengan keponakannya untuk meninggikan derajatnya.”

Lebih lanjut, dia berkata, “Maka Nabi saw menyerahkan masalah tersebut kepada wanita itu, maka wanita itu pun berkata, ‘Aku tidak keberatan atas tindakan ayahku,

tetapi aku ingin agar kaum wanita mengetahui bahwa para orang tua tidak memiliki hak apa-apa dalam masalah ini.”
(HR Ibnu Majah dengan sanad yang shahih)
______________________

KESIMPULAN : Sesungguhnya pengertian wali mujbir dari Hadits diatas bukan berarti dia berhak memaksa anak gadisnya untuk menikah sesuai keinginan walinya,

Musyawarah antara keduanya akan sangat dibutuhkan ketimbang semuanya berlangsung dengan penyesalan,

bagaimanapun pernikahan dalam seumur hanya diinginkan sekali dan diharapkan semuanya menuju kearah rumah tangga SAKINAH MAWADDAH wa RAHMAH.

Wallaahu A’lam bi Asshowaab…

Menikahkan Dengan Paksa menurut persepektif fiqif REFERENSI :
1. Syarh Shohih Bukhori juz 7 Hal 257.
2. Fathul-Bàri juz 1 Hal.230.
3. Mughni al-Muhtaj juz 4 hal 248.
4. Al-Madzaahib al-Arba’ah juz 4 Hal.35.

Demikian Menikahkan Dengan Paksa Dalam Perspektif Fiqih

Semoga bermanfaat untuk kita semua..
Info seputar pondok pesantren dan edukasi santri bisa pembaca kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.