Penejlasan Fiqih Tentang Mahar Perningkahan Yang Hilang

Benangmerahdasi.com – Penejlasan Fiqih Tentang Mahar Perningkahan Yang Hilang. melanjutkan pertanyaan keluarga DASI saudara Afandi Andik yang menanyakan tentang fiqih Mahar yang hilang.

FIQIH PERNINGKAHAN
NO : 000558
[Mahar yang hilang ]
Hallo Benang merah
WA: 085816500772
: 08139380366
: 081211573590

Penejlasan Fiqih Tentang Mahar Perningkahan Yang Hilang

Sail : Afandi Andik

Pertanyaan : Bagaimana hukumnya mahar pernikahan yang dihias lalu dipajang ternyata hilang atau dicuri?
_____________________
Mujawib : Sholeh ID

Jawaban :

Mengenai persoalan mahar yang dihias lalu dipajang dan ternyata rusak / hilang, maka ada perbedaan pendapat imam madzhab

1. Hanafiyah
Bila mahar rusak atau hilang setelah diterima oleh isteri, maka secara hukum suami telah menyelesaikan kewajibannya secara sempurna dan selanjutnya menjadi tanggung jawab isteri.

Bila mahar itu masih ditangan suami dan ternyata rusak atau hilang, maka nilainya menjadi tanggungan suami untuk membayarnya.

2. Malikiyah
Mahar sebelum suami isteri bergaul merupakan kewajiban bersama dalam mengganti kerusakan atau kehilanngan dan sebaliknya juga merupakan hak bersama dalam pertambhan nilai.

3. Syafi’iyah
Suami bertanggung jawab atas mahar yang belum diserahkan dalam bentuk tanggung jawab akad dengan arti bila rusak atau hilang karena kelalaian suami ia wajib menggantinya, tetapi bila rusak atau hilang bukan karena kelalaiannya tidak wajib menggantinya.

4. Hanabilah
Mahar yang dinyatakan dalam bentuk tertentu dan rusak sebelum diterima atau sesudahnya sudah menjadi tanggungan isteri sedang bila mahar itu dalam bentuk yang tidak jelas dan hilang atau rusak sebelum diterimanya, maka menjadi tanggungan suami.

Baca Juga: Penjelasan fiqih meminta cerai dengan alasan sang suami tidak-bisa memberikan nafkah batin

_____________________
Referensi :

1. Fath al Qorib vom 1 halaman 110 ( Maktabah Syamilah )

ان كل شئ صح جعله ثمنا من عين او منفعة صح جعله صداقا

Sesuatu yang ada nilai harganya baik berupa barang maupun manfaat, maka sah dijadikan mahar

2. Al Fiqh ala Madzahib al Arba’ah Juz 4 halaman 75-76

الحنفية قالوا اذا تزوجها على مهر معين كثوب وفرش وغلة …. ان المهر اذا كان فى يد الزوج ولم تقبضه الزوجة وهلك كان ضمانه على الزوج فان كان له مثل وجب عليه مثله والا وجبت عليه قيمته . اما اذا قبضها هى فقد ما تملكه مع احتمال سقوط كل او بعض.

المالكية – قالوا : يكون الصداق قبل الوطء مشتركا بين الزوجين في ضمانه وفي نتاجه سواء كان النتاج غلة أو ولد حيوان إ

الشافعية – قالوا : إذا مهرها عينان كحيوان أو ثوب أو بستان . أو نحو ذلك كان قبل قبضه في ضمان الزوج ضمان عقد لا ضمان يد ومعنى ضمان العقد أنه يضمن الشيء بما يقابله عند فقده فالمهر المسمى يقابله مهر المثل فإذا هلك المسمى ضمن الزوج مهر المثل ولزمه

الحنابلة – قالوا : الصداق إما أن يكون معينا كهذا الحيوان الحاضر وهذه الصبرة من القمح أو لا فإن كان معينا وهلك قبل القبض أو بعده لزم الزوجة لأنه في ضمانها إذ هي تملكه بمجرد العقد الصحيح ويبقى قبل القبض أمانة في يد الزوج إلا إذا طلبته منه فامتنع فإنه يضمنه في هذه الحالة لأنه يكون متعديا بعدم تسليمه فيكون كالغاصب
أما إن كان غير معين كثلاثة أرادب من القمح الصعيدي مثلا . أو من هذه الصبرة فإنه إذا هلك قبل قبضه يكون في ضمان الزوج أما بعد قبضه فإنه يكون في ضمان الزوجة كالمعين

“Penejlasan Fiqih Tentang Mahar Perningkahan Yang Hilang”

Semoga bermanfaat untuk kita semua..
Info seputar pondok pesantren dan edukasi santri bisa pembaca kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.