Penjelasan Fiqih Hukum Melakukan Oral Seks

Benangmerahdasi Penjelasan Fiqih Hukum Melakukan Oral Seks. Menjawab pertanyaan keluarha DASI saudara Mizan Sya’roni, beliau menanyakan Bagaimana hukumnya melakukan oral seks?

BENANG MERAH NO:00353
FIQIH BAB HUBUNGAN SUAMI ISTRI
[ Tentang Oral Seks ]

Hallo Benang merah
WA : 0813 8445 1265
WA : 0899 8605 999

Sail : Mizan Sya’roni

Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya melakukan oral seks?

Mujawib : Ibnu Ibnu

Jawaban :
Pada dasarnya melakukan oral seks adalah BOLEH. Sejumlah ulama besar yang terhormat pun melakukannya. Misalnya Imam Malik, diriwayatkan beliau berkata;

كشاف القناع عن متن الإقناع (17/ 409)

وَقَالَ ) الْإِمَامُ ( مَالِكُ ) بْنُ أَنَسٍ ( لَا بَأْسَ بِالنَّخْرِ عِنْدَ الْجِمَاعِ

“Imam Malik berkata; Tidak mengapa desahan/lenguhan panjang saat Jimak (Kassyaf Al-Qina’ ‘An Matni Al-Iqna’, vol.18 hlm 409) ”

Imam Malik dengan segala kehormatan dan reputasi beliau sebagai Ulama panutan, tidak perlu merasa jatuh kehormatannya ketika berbicara tentang fikih hubungan suami istri sampai urusan yang sedetail ini.

Desahan, jeritan tertahan, rintihan, lenguhan panjang dan yang semakna dengannya memang termasuk persoalan cabang dalam Fikih hubungan suami istri dalam Islam, dan beliau menyebutnya dengan lugas karena memang diperlukan untuk penjelasan hukum fikih.

Demikian pula Abu Hanifah. As-Syarbini dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj mengutip riwayat dialog antara Abu Hanifah dengan muridnya Abu Yusuf;

مغني المحتاج (12/ 68)

سَأَلَ أَبُو يُوسُفَ أَبَا حَنِيفَةَ عَنْ مَسِّ الرَّجُلِ فَرْجَ زَوْجَتِهِ وَعَكْسِهِ ، فَقَالَ : لَا بَأْسَ بِهِ ، وَأَرْجُو أَنْ يَعْظُمَ أَجْرُهُمَا

“Abu Yusuf bertanya kepada Abu Hanifah tentang seorang lelaki yang menyentuh (untuk merangsang) kemaluan istrinya dan sebaliknya. Abu Hanifah menjawab; Tidak mengapa, dan saya berharap pahala keduanya besar” (Mughni Al-Muhtaj, vol.12 hlm 68)

Demkian pula Mujahid ketika merekomendasikan bagaimana contoh cara bersenang-senang dengan istri saat istri dalam kondisi Haid. At-Thabari meriwayatkan;

تفسير الطبري (4/ 380)

عن ليث قال: تذاكرنا عند مجاهد الرجل يلاعب امرأته وهي حائض، قال: اطعن بذكرك حيث شئت فيما بين الفخذين والأليتين والسرة، ما لم يكن في الدبر أو الحيض

“Dari Laits beliau berkata; kami berdiskusi di dekat Mujahid tentang seorang lelaki yang mencumbu istrinya saat Haid. Mujahid berkata; “Tusukkan penismu di manapun yang engkau kehendaki diantara dua paha, dua pantat, dan pusar. Selama tidak di anus atau saat Haid” (tasfir At-Thobari, vol; 4 hlm 380)

Baca Juga: Waktu yang Dilarang Untuk Berhubungan Suami Istri

Demikian pula As-Suyuthi yang disebut mengarang kitab Fikih Jimak yang berjudul نواضر الأيك في معرفة النيك. Di dalamnya, beliau berbicara begitu detail sampai tataran praktis dalam hal rekomendasi posisi, gerakan, tehnik mencapai puncak dsb. Judul yang beliau ambil saja memakai istilah An-Naik.

An-Naik dalam bahasa Arab termasuk kata yang paling vulgar untuk menyebut hubungan suami istri. Jika bahasa indonesia punya kata-kata halus untuk berhubungan suami istri seperti bercinta, berhubungan intim, ML (serapan dari bahasa inggris), maka An-Naik dari segi kevulgaran setara dengan istilah senggama atau bersetubuh. Jadi kira-kira terjemahan judul beliau adalah “Hijaunya pepohonan untuk mengenal ilmu senggama”

Memang fikih harus jelas, lugas, exactly, dan tidak ambigu. Fikih harus hitam-putih karena berbicara halal-haram yang berkonsekuensi pahala dan dosa.

Membahas masalah fikih dengan cara yang samar-samar bisa malah membuat timbulnya problem baru, kesalahfahaman, ketidakjelasan, salah konsep, salah penerapan, dan akibat-akibat negatif lainnya. Oleh kerena hal itu, dimohon para pembaca memahami alas fikir ini, sehingga bisa memaklumi jika dalam pembahasan yang menyentuh aurot seperti yang kita angkat pada topik ini, ditemukan ungkapan-ungkapan vulgar yang diperlukan untuk penjelasan hukum.

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِين

Artinya, “Isteri-isterimu adalah ladangmu, maka datangilah ladangmu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman,” (QS. Al-Baqarah [2]: 223)

يَجُوزُ لِلزَّوْجِ كُلُّ تَمَتُّعٍ مِنْهَابِمَا سِوَىَ حَلْقَةِ دُبُرِهَا وَلَوْ بِمَصِّ بَظْرِهَا

Artinya, “Diperbolehkan bagi seorang suami untuk bersenang-senang dengan isteri dengan semua model kesenangan (melakukan semua jenis aktivitas seksual) kecuali lingkaran di sekitar anusnya, walaupun dengan menghisap klitorisnya,” (Lihat Zainudin Al-Malibari, Fathul Mu’in, Jakarta-Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cet ke-1, 1431 H/2010 M, halaman 217).

Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Asbagh, salah seorang ulama dari kalangan madzhab Maliki yang menyatakan bahwa suami boleh menjilati kemaluan isterinya. Hal ini sebagaimana dikemukakan al-Qurthubi dalam tafsirnya.

وَقَدْ قَالَ أَصْبَغُ مِنْ عُلَمَائِنَا: يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَلْحَسَهُ بِلِسَانِهِ

Artinya, “Ashbagh salah satu ulama dari kalangan kami (Madzhab Maliki) telah berpendapat, boleh bagi seorang suami untuk menjilati kemaluan isteri dengan lidahnya,” (Lihat al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, Kairo-Darul Hadits, 1431 H/2010 M, juz XII, halaman 512).

Namun menurut Qadli Abu Ya’la salah seorang ulama garda terdepan di kalangan madzhab Hanbali berpandangan bahwa aktivitas tersebut sebaiknya dilakukan sebelum melakukan hubungan badan (jima’).

Demikian sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab Kasyful Mukhdirat war Riyadlul Muzhhirat li Syarhi Akhsaril Mukhtasharat yang ditulis oleh Abdurrahman bin Abdullah al-Ba’ali.

وَقَالَ ( القَاضِي ) : يَجُوزُ تَقْبِيلُ الْفَرْجِ قَبْلَ الْجِمَاعِ وَيُكْرَهُ بَعْدَهُ

Artinya, “Al-Qadli Abu Ya’la al-Kabir berkata, boleh mencium vagina isteri sebelum melakukan hubungan badan dan dimakruhkan setelahnya,” (Lihat Abdurrahman bin Abdullah al-Ba’li al-Hanbali, Kasyful Mukhdirat, Bairut-Dar al-Basya`ir al-Islamiyyah, 1423 H/2002 M, juz II, halaman 623).

Hasil kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan kegiatan grup DASI bisa anda kungungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.