Penjelasan Fiqih Menggunakan Alas Kaki Ketika Shalat

Benangmerahdasi Penjelasan Fiqih Menggunakan Alas Kaki Ketika Shalat. Menjawab pertanyaan dari keluarga DASI saudara Ihqwan Al-habsy Bin Muhammad. beliau menanyakan Bagaimana hukumnya menggunakan alas kaki ketika sholat?.

BENANG MERAH
NO : 00392
FIQIH BAB SHOLAT
[ Tentang Penjelasan fiqih Menggunakan Alas Kaki Ketika Sholat ]

Hallo Benang merah
WA : 0813 8445 1265
WA : 0899 8605 999
_____________________

Penjelasan Fiqih Menggunakan Alas Kaki Ketika Shalat

Sail : Ihqwan Al-habsy Bin Muhammad

Pertanyaan : Bagaimana hukumnya menggunakan alas kaki ketika sholat?


Mujawib : Mas Kadji Mbeling, Cak Sur

Jawaban :
Berangkat dari hadis yang meriwayatkan bahwa nabi pernah memakai alas kaki saat salat maka dalam hukum pemakaian alas kaki ketika sholat, para ulama berbeda pendapat.

1. Menurut Imam Syafi’i dan Hanbali, shalat dengan mengenakan sepatu, sandal, kaos kaki, atau alas kaki lainnya adalah tidak sah karena kedunya mensyaratkan keterbukaan dua kaki saat sujud.

2. Ulama dari madzhab lain tidak mensyaratkan keterbukaan kedua kaki sehingga shalat orang yang mengenakan kaos kaki atau alas kaki lainnya tetap sah.

3. Menurut imam Al Khitobi menukil dari Imam Syafi’i beliau berkata : lebih baik tidak memakai sandal karena hal tersebut lebih beradab.

Referensi :

1) Hadits riwayat Abu Daud

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيُّ عَنْ هِلَالِ بْنِ مَيْمُونٍ الرَّمْلِيِّ عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَالِفُواالْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَلَا خِفَافِهِم.

Artinya :
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyah Al-Fazari dari Hilal bin Maimun Ar-Ramli dari Ya’la bin Syaddad bin Aus dari Ayahnya dia berkata; Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Selisihilah orang-orang yahudi, yang mereka beribadah dengan tidak mengenakan sandal-sandal dan juga khuf (sepatu) mereka.

2) Faidhul Qodir juz 8

(ﺧﺎﻟﻔﻮا اﻟﻴﻬﻮﺩ) ﺯاﺩ اﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻓﻲ ﺭﻭاﻳﺘﻪ ﻭاﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﺃﻱ ﻭﺻﻠﻮا ﻓﻲ ﻧﻌﺎﻟﻜﻢ ﻭﺧﻔﺎﻓﻜﻢ (ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻻ ﻳﺼﻠﻮﻥ ﻓﻲ ﻧﻌﺎﻟﻬﻢ) ﻓﺼﻠﻮا ﺃﻧﺘﻢ ﻓﻴﻬﺎ ﺇﺫا ﻛﺎﻧﺖ ﻃﺎﻫﺮﺓ ﻏﻴﺮ ﻣﺘﻨﺠﺴﺔ ﻭﺃﺧﺬ ﺑﻈﺎﻫﺮﻩ ﺑﻌﺾ اﻟﺴﻠﻒ ﻗﺎﻝ: ﻣﻦ ﺗﻨﺠﺲ ﻧﻌﻠﻪ ﺇﺫا ﺩﻟﻜﻪ ﻋﻠﻰ اﻷﺭﺽ ﻃﻬﺮ ﻭﺟﺎﺯ اﻟﺼﻼﺓ ﻓﻴﻪ ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﻗﺪﻳﻢ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭاﻟﺠﺪﻳﺪ ﺧﻼﻓﻪ (ﻭﻻ ﺧﻔﺎﻓﻬﻢ) ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺷﺮﻉ ﻣﻮﺳﻰ ﻧﺰﻉ اﻟﻨﻌﺎﻝ ﻓﻲ اﻟﺼﻼﺓ {اﺧﻠﻊ ﻧﻌﻠﻴﻚ}ﻭﻛﺎﻥ اﻟﻤﻮﺟﺐ ﻟﻠﻨﺰﻉ ﺃﻧﻬﻤﺎ ﻣﻦ ﺟﻠﺪ ﺣﻤﺎﺭ ﻣﻴﺖ ﻓﺎﻟﺘﺰﻣﻪ اﻟﻴﻬﻮﺩ ﻓﻠﺬا ﺃﻣﺮ ﺑﻤﺨﺎﻟﻔﺔ اﻟﻴﻬﻮﺩ ﻓﻴﻪ ﻗﺎﻝ اﻟﻌﺮاﻗﻲ: ﻭﺣﻜﻤﺔ اﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ اﻟﻨﻌﻠﻴﻦ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﺃﻫﻞ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺮﺭ ﻭﺧﺸﻴﺔ ﺃﻥ ﻳﺘﺄﺫﻯ ﺃﺣﺪ ﺑﻨﻌﻠﻴﻪ ﺇﺫا ﺧﻠﻌﻬﻤﺎ ﻣﻊ ﻣﺎ ﻓﻲ ﻟﺒﺴﻬﻤﺎ ﻣﻦ ﺣﻔﻈﻬﻤﺎ ﻣﻦ ﺳﺎﺭﻕ ﺃﻭ ﺩاﺑﺔ ﺗﻨﺠﺲ ﻧﻌﻠﻪ ﻗﺎﻝ: ﻭﻗﺪ ﻧﺰﻋﺖ ﻧﻌﻠﻲ ﻣﺮﺓ ﻓﺄﺧﺬﻩ ﻛﻠﺐ ﻓﻌﺒﺚ ﺑﻪ ﻭﻧﺠﺴﻪ ﺛﻢ ﻫﺬا ﻛﻠﻪ ﺇﺫا ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻓﻴﻬﺎ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻗﺎﻝ اﺑﻦ ﺑﻄﺎﻝ: ﻫﺬا ﻣﺤﻤﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻳﻜﻦ ﻓﻴﻬﺎ ﻧﺠﺲ ﺛﻢ ﻫﻲ ﻣﻦ اﻟﺮﺧﺺ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ اﻟﻘﺸﻴﺮﻱ ﻻ ﻣﻦ اﻟﻤﻨﺪﻭﺏ ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ اﻟﻤﻌﻨﻰ اﻟﻤﻄﻠﻮﺏ ﻣﻦ اﻟﺼﻼﺓ ﻭﻫﻮ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻣﻼﺑﺲ اﻟﺰﻳﻨﺔ ﻟﻜﻦ ﻣﻦ ﻣﻼﻣﺴﺔ اﻷﺭﺽ اﻟﺬﻱ ﻳﻜﺜﺮ ﻓﻴﻪ اﻟﺨﺒﺚ ﻗﺪ ﺗﻘﺼﺮ ﺑﻪ ﻋﻦ ﻫﺬﻩ اﻟﺮﺗﺒﺔ ﻭﺇﺫا ﺗﻌﺎﺭﺿﺖ ﺭﻋﺎﻳﺔ اﻟﺘﺤﺴﻴﻦ ﻭﺇﺯاﻟﺔ اﻟﺨﺒﺚ ﻗﺪﻣﺖ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻷﻧﻬﺎ ﻣﻦ ﺩﻓﻊ اﻟﻤﻔﺎﺳﺪ ﻭاﻷﺧﺮﻯ ﻣﻦ ﺟﻠﺐ اﻟﻤﺼﺎﻟﺢ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﺮﺩ ﺩﻟﻴﻞ ﺑﺈﻟﺤﺎﻗﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﺘﺠﻤﻞ ﺑﻪ ﻓﻴﺮﺟﻊ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻴﺘﺮﻙ ﻫﺬا اﻟﻨﻈﺮ اﻩ.

3) Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, juz 1 halaman 661-662

ولا خلاف في عدم وجوب كشف الركبتين، لئلا يفضي إلى كشف العورة، كما لا يجب كشف القدمين واليدين، لكن يسن كشفها، خروجاً من الخلاف…

والشافعية والحنابلة متفقون على وجوب السجود على جميع الأعضاء السبعة المذكورة في الحديث السابق، ويستحب وضع الأنف مع الجبهة عند الشافعية، لكن يجب عند الحنابلة وضع جزء من الأنف.

واشترط الشافعية أن يكون السجود على بطون الكفين وبطون أصابع القدمين، أي أنه يكفي وضع جزء من كل واحد من هذه الأعضاء السبعة كالجبهة، والعبرة في اليدين ببطن الكف، سواء الأصابع والراحة، وفي الرجلين ببطن الأصابع، فلا يجزئ الظهر منها ولا الحرف

Artinya, “Tidak ada perbedaan pandangan di kalangan ulama perihal ketidakwajiban pembukaan dua lutut (saat sujud) agar tidak membawanya pada keterbukaan aurat.

Baca Juga: Hukum Menggendong Bayi Saat Shalat

Keterbukaan kedua kaki dan kedua tangan tidak wajib, tetapi dianjurkan untuk keluar dari perbedaan pandangan di kalangan ulama…

Ulama Madzhab Syafi‘i dan Madzhab Hanbali sepakat atas kewajiban sujud dengan tujuh anggota tubuh seperti disebutkan pada hadits.

Bagi Syafi‘iyah, peletakan hidung bersama dahi dianjurkan. Sementara bagi Hanbaliyah, peletakan sebagian sisi hidung itu wajib.

Syafi‘iyah mensyaratkan sujud dengan perut telapak tangan dan perut jari kedua kaki. Artinya peletakan satu sisi dari setiap tujuh anggota tubuh seperti dahi itu sudah memadai.

Hitungan (sujud) dengan kedua tangan terletak pada perut telapak tangan baik perut jari maupun telapak tangan. Sementara (sujud) dengan kedua kaki dihitungpada perut jarinya sehingga sujud dengan punggung kaki atau tepi kaki dianggap tidak memadai,”

4) Nailul Authar Syarah Muntaqal Akhbar, juz 2 halaman 289

قال ابن دقيق العيد : ولم يختلف في أن كشف الركبتين غير واجب لما يحذر فيه من كشف العورة وأماعدم وجوب كشف القدمين فلدليل لطيف وهو أن الشارع وقت المسح على الخف بمدة يقع فيها الصلاةبالخففلو وجب كشف القدمين لوجب نزع الخف المقتضي لنقض الطهارة فتبطل الصلاة اه

Artinya, “Ibnu Daqiq Al-Ied (yang juga bermadzhab Syafi‘i) mengatakan, ‘Ulama sepakat bahwa keterbukaan kedua lutut (ketika sujud) tidak wajib karena dikhawatirkan tersingkap aurat. Sedangkan ketidakwajiban terbukanya kedua kaki didukung sebuah dalil halus di mana Nabi Muhammad SAW pada suatu ketika mengusap khuf (sejenis kaos kaki rapat dari kulit) tetap mengenakannya dalam shalat.

Seandainya keterbukaan kedua kaki itu wajib, niscaya pencopotan khuf juga wajib yang menuntut pembatalan kesucian lalu membatalkan shalat,’”

Hasi Kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan kegiatan grup DASI bisa anda kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.