Penjelasan Fiqih Tentang Menggunakan Mukena Warna Warni dan Bermotif

Benangmerahdasi Penjelasan Fiqih Tentang Menggunakan Mukena Warna Warni dan Bermotif. Mejawab pertanyaan dari keluarga DASI saudari Addhe Mhueslikhahtie, beliau menanyakan Bagaimana hukumnya memakai mukena warna warni dan bermotif ketika sholat?

BENANG MERAH
NO : 00404
FIQIH BAB SHOLAT
[ Tentang Menggunakan Mukena Warna Warni dan Bermotif ]

Hallo Benang merah
WA : 0813 8445 1265
WA : 0899 8605 999
_____________________

Penjelasan Fiqih Tentang Menggunakan Mukena Warna Warni dan Bermotif

Sail : Addhe Mhueslikhahtie

Pertanyaan : Bagaimana hukumnya memakai mukena warna warni dan bermotif ketika sholat?


Mujawib : Abah bin Abuh

Jawaban :

Hukum memakai mukena atau pakaian berwarna ataupun shalat yang di hadapannya terdapat gambar maka hukumnya tafsil:

a) Jika sholat munfarid (sendirian), maka tidak makruh karena tidak berindikasi menggangu yang lain dalam kekhusyuan sholat.

b) Jika sholat berjamaah, maka hukumnya makruh jika membuat jamaah lain tidak khusyu. Jika tidak maka tidak makruh.


Referensi :

1. Kasyifatus Saja halaman 49

والثالث ستر العورة بجرم طاهر يمنع رؤية لون البشرة بان لا يعرف بياضها من نحو سوادها في مجلس التخاطب لقادر عليه ولو باعارة او اجارة. وان صلى فى خلوة و لة فى ظلمة و الواجب سترها من اعلى وجوانب

Syarat sah shalat yang ketiga adalah menutup aurat dengan penutup yang suci yang mampu menyegah dan menutupi warna kulit. Hal itu seperti tidak terlihatnya warna kulit putih atau hitam dari orang yang melihatnya, dan meskipun dengan cara meminjam atau menyewanya.”

Baca Juga: Penjelasan Fiqih Menggunakan Alas Kaki Ketika Shalat

Adapun jika penutup tersebut baik mukena bagi wanita atau baju bagi laki-laki yang memakai pakaian bergambar atau berwarna di dalam sholatnya maka hal itu bisa dikukumi makruh jika dapat mengganggu kekhusyuan ibadah orang lain ataupun dirinya sendiri.

2. Nihayatuz Zain halaman 48

ﻭ ﻳﻜﺮﻩ ﻳﺼﻠﻰ ﻓﻰ ﺛﻮﺏ ﻓﻴﻪ ﺻﻮﺭﺓ

Dimakruhkan sholat memakai pakaian/mukena yang terdapat gambar.

3. Al Fiqh ala Madzahibi al Arba’ah juz 1 halaman 252

ﻭ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻳﻪ ﻣﺎ ﻳﺸﻐﻠﻪ ﻣﻦ ﺻﻮﺭﺓ ﺣﻴﻮﺍﻥ ﺍﻭ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﺎﺫﺍ ﻟﻦ ﻳﺸﻐﻠﻪ ﻻ ﺗﻜﺮﻩ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﻴﻬﺎ ﻭ ﻫﺬﺍ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ

Diantara kemakruhan shalat adalah shalat yang di hadapanya terdapat sesuatu yang bisa menjadi pusat perhatiannya seperti gambar hewan atau lainnya. Namun bila gambar-gambar tersebut tidak menarik perhatian maka tidaklah makruh. Ini adalah pendapat dari madzhab Malikiyah dan Syafi’iyah.”

4. Hadits riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, dan An Nasai dalam al-Mabsuth, 30:268

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia, maka Allah akan memberinya pakaian hina pada hari kiamat.”

المراد أن لا يلبس نهاية ما يكون من الحسن والجودة في الثياب على وجه يشار إليه بالأصابع ، أو يلبس نهاية ما يكون من الثياب الخَلِقِ – القديم البالي – على وجه يشار إليه بالأصابع , فإن أحدهما يرجع إلى الإسراف والآخر يرجع إلى التقتير ، وخير الأمور أوسطها

“Maksud hadis, seseorang tidak boleh memakai pakaian yang sangat bagus dan indah, sampai mengundang perhatian banyak orang. Atau memakai pakaian yang sangat jelek (lusuh), sampai mengundang perhatian banyak orang. Yang pertama, sebabnya karena berlebihan sementara yang kedua karena menunjukkan sikap terlalu pelit. Yang terbaik adalah pertengahan.”

Baca Juga: Hukum Menggendong Bayi Saat Shalat

Kita bisa mengambil kesimpulan dari keterangan di atas, bahwa pakaian yang mengundang perhatian banyak orang termasuk jenis pakaian syuhrah. Karena itu, dikhawatirkan mereka yang memakai mukena warna-warni atau semacamnya, termasuk dalam ancaman hadis di atas.

5. Hadits riwayat Imam Nasai nomor 5227 dan nomor 5228

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ أَبِي عَرُوبَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ عَنْ سَمُرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمْ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ قَالَ يَحْيَى لَمْ أَكْتُبْهُ قُلْتُ لِمَ قَالَ اسْتَغْنَيْتُ بِحَدِيثِ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ سَمُرَةَ

“Pakailah pakaian kalian yang berwarna putih, karena itu lebih bersih dan lebih baik. Dan kafanilah orang yang meninggal di antara kalian dengannya. Yahya berkata, Aku belum menulisnya (hadits ini). Aku berkata, kenapa? ia menjawab, Aku telah mencukupkan diri dengan hadits Maimun bin Abu Syabib bin Samuroh.”

6. Hadits riwayat Abu Daud nomor 4061, Ibnu Majah nomor 3566 dan An Nasai nomor 5324, dan nomor 5325. Bukhari nomor 5827, Muslim nomor 94

الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا خَيْرُ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ

“Pakailah pakaian putih karena pakaian seperti itu adalah sebaik-baik pakaian kalian dan kafanilah mayit dengan kain putih pula”

Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Hasil kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan kegiatan grup DASI bisa anda kungungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.