Penjelasan Tentang Shalat Li Hurmatil Waqti dan Urgensinya

Benangmerahdasi.com – Penjelasan Tentang Shalat Li Hurmatil Waqti dan Urgensinya. Melanjutkan pertanyaan keluarga DASI saudara Mustofa yang bertanya tentang fiqih bab shalat.

FIQIH BAB SHOLAT
SHOLAT LI HURMATIL WAQTI
Hallo Benang merah
WA : 0813 8445 1265
WA : 0899 8605 999

Penjelasan Tentang Shalat Li Hurmatil Waqti dan Urgensinya

Sail : Mustofa

Pertanyaan :

1) Ada seorang pekerja, pulang dari tempat kerja jam 16.30 dia pulang lewat jalan yang macet hingga sampai di rumah sudah masuk waktu isya dan itu terjadi hampir setiap hari kerja, bagaimana pelaksanaan sholat maghribnya?

2) Seseorang melakukan perjalanan berangkat sebelum waktu dhuhur kebetulan di jalan tol macet akhirnya sampai di tempat tujuan sudah masuk waktu maghrib bagaimana dengan pelaksanaan sholat dhuhur dan asharnya ?
______________________

Penjelasan Tentang Shalat Li Hurmatil Waqti dan Urgensinya

Mujawib : TBM DASI

Jawaban :

1) Bila ia benar-benar tidak bisa turun untuk shalat atau melakukan shalat secara sempurna di atas kendaraannya, maka satu-satunya yang mesti ia lakukan adalah shalât li hurmatil waqti,

yakni melakukan shalat sekadar untuk menghormati datangnya waktu shalat, karena pada dasarnya seseorang tidak diperbolehkan meninggalkan shalat ketika ia menemui datangnya waktu shalat.

Shalat li hurmatil waqti ini dilakukan bagi orang yang tidak bisa memenuhi ketentuan-ketentuan shalat secara sempurna,

seperti tidak menemukan air dan debu untuk bersuci, dan tidak bisa menghadap kiblat, ruku’ dan sujud secara sempurna.

Orang yang melakukan shalat li hurmatil waqti wajib mengulangi shalatnya ketika telah memungkinkan untuk melakukannya secara sempurna.

2) Sama dengan jawaban nomor 1

Baca Juga: Hukumnya mendirikan sholat ditempat peribadatan agama lain

_____________________
Referensi :

1. Al-Majmû’ Syarhul Muhadzdzab [Jedah: Maktabah Al-Irsyad], tt., juz III, hal. 222

قَالَ أَصْحَابُنَا وَلَوْ حَضَرَتْ الصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ وَهُمْ سَائِرُونَ وَخَافَ لَوْ نَزَلَ لِيُصَلِّيَهَا عَلَى الْأَرْضِ إلَى الْقِبْلَةِ انْقِطَاعًا عَنْ رُفْقَتِهِ أَوْ خَافَ عَلَى نَفْسِهِ أَوْ مَالِهِ لَمْ يَجُزْ تَرْكُ الصَّلَاةِ وَإِخْرَاجُهَا عَنْ وَقْتِهَا بَلْ يُصَلِّيهَا عَلَى الدَّابَّةِ لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ وَتَجِبُ الْإِعَادَةُ لِأَنَّهُ عُذْرٌ نَادِرٌ

Artinya: “Para sahabat kami berpendapat, bila telah datang waktu shalat fardlu sementara mereka dalam perjalanan,

dan bila turun untuk shalat di atas tanah dengan menghadap kiblat khawatir akan tertinggal dari rombongannya atau mengkhawatirkan dirinya sendiri atau hartanya,

maka tidak diperbolehkan baginya meninggalkan shalat dan mengeluarkan dari waktunya.

Ia mesti shalat di atas kendaraannya untuk menghormati waktu shalat dan wajib mengulanginya (bila telah memungkinkan), karena hal itu merupakan uzur yang jarang terjadi.”

2. Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah juz 14 halaman 273

حكم فاقد الطهورين : 41 – فاقد الطهورين هو الذي لم يجد ماء ولا صعيدا يتيمم به ، كأن حبس في مكان ليس فيه واحد منهما ، أو في موضع نجس ليس فيه ما يتيمم به ، وكان محتاجا للماء الذي معه لعطش ، وكالمصلوب وراكب سفينة لا يصل إلى الماء ، وكمن لا يستطيع الوضوء ولا التيمم لمرض ونحوه .فذهب جمهور العلماء إلى أن صلاة فاقد الطهورين واجبة لحرمة الوقت ولا تسقط عنه مع وجوب إعادتها عند الحنفية والشافعية ، ولا تجب إعادتها عند الحنابلة ، أما عند المالكية فإن الصلاة عنه ساقطة على المعتمد من المذهب أداء وقضاء

Artinya “Orang yang tidak mendapati sarana untuk bersuci baik berupa air atau debu seperti saat ia dipenjara dan tidak mendapati salah satu dari keduanya,

atau ditempat najis yang tidak ia dapatkan debu untuk bersuci sementara air yang ada dibutuhkan untuk dahaganya orang yang bersamanya,

orang yang sedang disalib atau berada diperahu yang tidak dapat meraih air dan seperti orang sakit yang tidak mampu menjalani wudhu atau tayammum sebab sakit atau semacamnya,

maka mayoritas ulama mewajibkan hukum shalat baginya sekedar penghormatan terhadap waktu.

Hukum kewajiban shalat tidak semata-mata gugur baginya namun baginya wajib mengulangi shalat yang ia kerjakan dalam kondisi demikian

menurut kalangan Hanafiyyah dan Syafi’iyyah, sedang menurut kalangan hanabilah tidak wajib mengulangi shalatnya.

Baca Juga: Penjelasan mengganti sholat yang sengaja ditinggalkan dimasa lampau

Menurut pendapat yang mu’tamad (dapat dijadikan pegangan) dikalangan Malikiyyah seseorang yang dalam kondisi diatas shalatnya gugur dan dalam pendapat lainnya wajib menjalani dan mengqadhainya”.

Catatan:

1) bila yang ditumpangi adalah kendaraan pribadi maka kiranya tidak ada alasan untuk tidak bisa turun dan melakukan shalat fardlu di atas tanah sebagaimana mestinya.

Orang yang mengendarai kendaraan pribadi tentunya ia bisa sekehendaknya menghentikan kendaraannya.

2) bila yang ditumpangi adalah pesawat, kereta api, dan kapal laut maka masih ada kemungkinan untuk bisa melakukan shalat fardlu sebagaimana mestinya di atas kendaraan-kendaraan itu.

Masalahnya kemudian tinggallah soal kemauan orang yang bersangkutan untuk shalat atau tidak.

Wallahu A’lam

“Penjelasan Tentang Shalat Li Hurmatil Waqti dan Urgensinya”

Semoga bermanfaat untuk kita semua..
Info seputar pondok pesantren dan edukasi santri bisa pembaca kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.