Profil dan sejarah Pondok Pesantren Salafiyah Kajen Pati Jawa Tengah

Benangmerahdasi – Profil dan sejarah Pondok Pesantren Salafiyah Kajen Pati Jawa Tengah.

PONDOK PESANTREN SALAFIYAH KAJEN PATI

A. PROFIL PESANTREN

Nama : Pondok Pesantren Salafiyah Kajen Pati
Alamat : Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah
Telp : 0295-4150037, fax : 0294-4150409
Web site : http://www.salafiyahkajen.com/
Pendiri : KH. Siraj Ishaq dan KH Baidhowi Siraj
Tahun Berdiri : 1902
Pengasuh : KH. Asmui Hasan, KH. Ubaidillah Wahab.

Profil dan sejarah Pondok Pesantren Salafiyah Kajen Pati Jawa Tengah

Pada sekitar tahun 1900 bentuk pesantren di Kajen mulai berbentuk klasikal atau dapat dikata mulai tertata rapi meski belum berwujud madrasah/sekolah. Adalah KH. Nawawi putra KH. Abdullah yang memprakarsai berdirinya Pondok Kulon Banon yang dikemudian hari bernama Taman Pendidikan Islam Indonesia (TPII). Selang dua tahun di susul oleh KH. Siroj, putra KH. Ishaq juga mendirikan Pondok Wetan Banon yang dikemudia hari bernama Salafiyah.

Pada masanya, karena beliau sebelumnya seorang saudagar kaya raya, maka tak mudah untuk mendirikan beberapa pondokan dan satu musholla. Musholla di depan rumahnya merupakan tempat pada mana orang menimba ilmu dari beliau. Tempatnya yang pinggir jalan persis membuat orangmudah mengenalnya.

Disertai dengan bangunan besar dari kayu di seberang jalan, KH. Siroj memulai pengajian-pengajian tentang keagamaan dan kemasyarakatan. Dengan kelebihannya yang mendapatkan ilmu ladunni, para santrinya pun semakin hari semakin bertambah. Inilah awal yang baik bagi Yayasan Salafiyah yang disertai dengan keikhlasan dan kebersahajaan pendirinya. Semoga benih yang telah ditanam KH. Siroj ini betul-betul dirawat oleh keturunannya secara benar dan amanah.

Kemajuan Pesantren Wetan Banon yang cukup pesat tidak dapat dipisahkan dari kepribadian KH. Siroj yang merupakan ulama dan ilmuwan ternama. Para murid senior yang juga keluarga dekatnya, mendapat kesempatan untuk membantu mengelola pesantren dan mempunyai andil dalam kemajuan pesantren.

Para santri tertarik dengan sistem pengajaran yang diberikan olehnya. Dapat dilihat muridnya seperti KH. Bisri Syamsuri yang menjadi ulama besar di Denanyar Jombang, atau KH. Hambali yang menjadi tokoh terkemuka di Waturoyo. Pondok Wetan Banon ini dipegang oleh KH. Siroj selama 26 tahun dalam kondisi ketegangan politik oleh kolonial Belanda.

Sepeninggalan KH. Siroj pada tahun 1928, Pondok Wetan Banon ini diasuh oleh putranya, KH. Baedlowie dan KH.Hambali. Tepatnya pada tanggal 1 Januari 1935 barulah duet kepemimpinan ini membuka Madrasah yang dinamakan Madrasah Salafiyah. Madrasah ini dibangun tiga tahun setelah Madrasah Matholiul Falah yang dirikan oleh KH. Thohir, KH Durri, KH. Mahfudz dan KH. Abdullah Salam dari Kajen Kulon Banon dan Pol garut.

Madrasah Salafiyah dibangun di samping rumah dan pondok Wetan Banon bagian timur yang kebetulan KH. Siroj memberikan tanah itu untuk dikelola oleh KH Baedlowie. Saat Salafiyah dipegang oleh sosok kharismatik KH Hambali dan KH Baedlowi, Madrasah sebagai pelengkap dari pengajaran agama di pesantren tersebut tampak pola-pola pengelolaannya yang masih digarap secara individual.

Profil dan sejarah Pondok Pesantren Salafiyah Kajen Pati Jawa Tengah

Baca Juga: Profil dan sejarah pondok pesantren Raudlatul Ulum Pati Jawa Tengah

Penamaan Salafiyah ini akhirnya lebih kentara dan dikenal oleh khalayak ramai untuk pesantrennya juga. Makanya masyrakat kemudian menyebut Madrasah Salafiyah tidak lepas dari Pondoknya, yaitu Pondok Wetan Banon yang kemudian entah mulai kapan berganti dengan Pondok Salafiyah. Hanya sekitar enam tahun madrasah ini melakukan aktifitasnya, namun sejak masa pendudukan fasis militer Jepang (1942) madrasah ditutup sementara.

Kajen menjadi tempat yang diawasi secara ketat. Beberapa pengelola Madrasah Salafiyah ikut terjun ke kancah politik perjuangan, seperti ke Hisbullah atau menangani keagamaan di Pemerintah (sekarang KEMENAG).

B. ORGANISASI KEAGAMAAN

Pondok pesantren Salafiyah pada awalnya adalah milik perorangan dengan sistem manajemen “tradisional”, sehingga kyai merupakan figur sentral dalam pengambilan keputusan. Pada perkembangan selanjutnya, pengasuh bersama dengan pengurus sepakat membentuk yayasan dengan nama Yayasan as Salafiyah pada 2 Pebruari 1981. Yayasan tersebut disamping mengelola kegiatan pendidikan pondok, juga mengelola pendidikan formal.

C. KEGIATAN PENDIDIKAN

Pendidikan Formal : MTs, dan MA. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum Kementerian Agama

Pendidikan Kepesantrenan : Jenis kegiatan pendidikan pesantren yang diselenggarakan adalah kajian kitab salafi dengan materi fiqih, ushul fiqih, tauhid, nahwu, sharaf, balaghah, akhlak/tasawuf. Tafsir al Qur’an, mustalah hadits, qowaidul fiqih, ilmu falak, tajwid, filsafat dan sejarah Islam.

Kitab yang digunakan adalah : Fathul Qorib, Tahrir, Fathul Muin, Kifayatul Akhyar, Lathoiful Isyarat, Ghoyatul Wusul, Jurumiyah, Imrithy, Alfiyah, Maqsud, Qowa’idul I’lal, Qowaidul Lughoh Arobiyah, Akhlauk Banin, Tafsir Jalalain, Bulughul Marom, al Baiquni, ad Durusul Falakiyah, Tuhfatul Athfal

D. PROGRAM PENGEMBANGAN

Program pengembangan meliputi pengembangan fisik da non fisik. Pengembangan fisik meliputi penambahan dan perbaikan sarana atau fasilitas pondok. Sementara pengembangan non fisik yang dilakukan yaitu mengembangkan partisipasi para alumni, masyarakat dan keluarga besar pondok, memperluas jaringan komunikasi dan kerjasama dengan berbagai kalangan terutama Kemenag untuk meningkatkan kualitas MTs dan MA.

Profil dan sejarah Pondok Pesantren Salafiyah Kajen Pati Jawa Tengah

Sareng yai Fa Qih kalian ning Isma Rodliyati

Source :
Direktori_pesantren
KemenagRI

Info seputar pondok pesantren dan edukasi santri bisa pembaca kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.