Surat Al-Kautsar Tafsir dan Asbabun Nuzulnya

Surat Al-Kautsar

Benangmerahdasi.com  – Surat Al-Kautsar Tafsir dan Asbabun Nuzulnya. Melanjutkan Kajian Tafsir dan Asbabun Nuzul yang telah sampai di Surat Al-Kautsar.

Surat Al-Kautsar, ayat 1-3

انا اعطيناك الكوثر (٢) فصل لربك وانحر (٢) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (٣)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, dari Al-Mukhtar ibnu Fulful, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan..

bahwa Rasulullah Saw. menundukkan kepalanya sejenak, lalu beliau mengangkat kepalanya seraya tersenyum. Beliau bersabda kepada mereka, atau mereka bertanya kepada beliau Saw.,

“Mengapa engkau tersenyum?” Maka Rasulullah Saw. menjawab, “Sesungguhnya barusan telah diturunkan kepadaku suatu surat.”

Lalu beliau membaca firman-Nya: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Sesungguhnya Kami telah memberikanh kepadamu Al-Kautsar. (Al-Kautsar: l), hingga akhir surat.

Lalu Rasulullah Saw. bersabda,
“Tahukan kalian, apakah Al-Kautsar itu?”
Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Rasululloh bersabda
“Al-Kautsar adalah sebuah sungai (telaga) yang diberikan kepadaku oleh Tuhanku di dalam surga, padanya terdapat kebaikan yang banyak, umatku kelak akan mendatanginya di hari kiamat; jumlah wadah-wadah (bejana-bejana)nya sama dengan bilangan bintang-bintang.

Diusir darinya seseorang hamba, maka aku berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya dia dari umatku.” Maka dikatakan, “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang telah dibuat-buatnya sesudahmu.”

Adapun mengenai firman-Nya:

(1)انا اعطيناك الكوثر

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar.”
(Surat Al-Kautsar: 1)

Dalam hadis yang lalu telah disebutkan bahwa Al-Kautsar adalah nama sebuah sungai di dalam surga.

Imam Ahmad mengatakan. telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Adiy, dari Humaid, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

«دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِنَهْرٍ حَافَّتَاهُ خِيَامُ اللُّؤْلُؤِ فَضَرَبْتُ بِيَدِي إِلَى مَا يَجْرِي فِيهِ الْمَاءُ فَإِذَا مِسْكٌ أَذْفَرُ قُلْتُ: مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَذَا الْكَوْثَرُ الَّذِي أَعْطَاكَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ»

Aku masuk ke dalam surga, dan tiba-tiba aku melihat sebuah sungai yang kedua tepinya dipenuhi oleh kemah-kemah dari mutiara, lalu aku sentuhkan tanganku ke tanah yang dialiri airnya, tiba-tiba ia adalah minyak kesturi yang sangat harum baunya.

Aku bertanya, “Hai Jibril, apakah ini?” Jibril menjawab, “Ini adalah Al-Kautsar yang diberikan oleh Allah Swt. kepadamu.”

Baca juga: Tafsir surah Al Kafirun dan asbabun nuzulnya

(٢) فصل لربك وانحر

“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. ”
(Surat Al-Kautsar: 2)

Yakni sebagaimana Kami telah memberimu kebaikan yang banyak di dunia dan akhirat, antara lain ialah sebuah sungai yang sifat-sifatnya telah disebutkan di atas; maka kerjakanlah salat fardu dan salat sunatmu dengan ikhlas karena Allah dan juga dalam semua gerakmu.

Sembahlah Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya; dan sembelihlah korbanmu dengan menyebut nama-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Hal yang senada disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيايَ وَمَماتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah, “Sesungguhnya salatku, ibadahku. hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya;

dan demikian itulah diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”(Al-An’am: 162-163)

وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.

(Al-An’am: 121), sampai akhir ayat.

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud dari ayat ialah jadikanlah salatmu semuanya tulus ikhlas hanya untuk Tuhanmu, bukan untuk berhala atau sembahan selain-Nya.

Demikian pula kurbanmu, jadikanlah hanya untuk Dia, bukan untuk berhala-berhala. sebagai ungkapan rasa syukurmu terhadap-Nya atas kemuliaan dan kebaikan tiada taranya yang dikhususkan-Nya buatmu sebagai anugerah dari-Nya.

Pendapat yang dikemukakan oieh orang yang mengatakan ini amatlah baik. Dan pendapat ini telah dikatakan sebelumnya oleh Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi dan Ata dengan ungkapan yang semakna.

انَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (٣)

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus. (Al-Kautsar: 3)
Yakni sesungguhnya orang yang membencimu, hai Muhammad, dan benci kepada petunjuk, kebenaran, bukti yang jelas, dan cahaya terang yang kamu sampaikan; dialah yang terputus lagi terhina.

direndahkan dan terputus sebutannya. Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, dan Qatadah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al-As ibnu Wa-il.

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Jahal. Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, bahwa makna: sesungguhnya orang-orang yang membencimu.

(Surat Al-Kautsar: 3)

Yakni musuhmu. Pendapat ini lebih mencakup dan meliputi semua orang yang bersifat dan berkarakter demikian,

Namun ikrimah mengatakan bahwa al-abtar artinya sebatang kara.

As-Saddi mengatakan bahwa dahulu mereka apabila meninggal dunia keturunannya laki-laki mereka, maka mereka mengatakannya abtar (terputus keturunannya).

Dan ketika putra-putra Nabi Saw. semuanya meninggal dunia, maka mereka mengatakan, “Muhammad telah terputus.”

Pendapat ini senada dengan apa yang telah kami sebutkan di atas yang mengatakan bahwa abtar ialah orang yang tidak mempunyai keturunan laki-laki.

Maka orang-orang kafir Quraisy itu mengira bahwa seseorang itu apabila anak-anak lelakinya mati, maka terputuslah sebutannya.

Padalah tidaklah demikianlah kenyataannya, bahkan sebenarnya Allah mengekalkan sebutan Nabi Saw.

di hadapan para saksi dan mewajibkan syariat yang dibawanya di atas pundak hamba-hamba-Nya, yang akan terus berlangsung selamanya sampai hari mereka dihimpunkan untuk mendapat pembalasan.

Semoga salawat dan salam-Nya terlimpah-kan kepadanya selama-lamanya sampai hari kiamat.

والله اعلم بالصواب

Demikianlah akhir surat Al-Kautsar, segala puji bagi Allah atas limpahan karunia-Nya.

Semoga bermanfaat untuk kita semua..
Info seputar pondok pesantren dan edukasi santri bisa pembaca kunjungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.