Yang Harus di Perhatikan dalam Wudhunya dan Sholatnya Seorang Musthadhoh

Benangmerahdasi  Yang Harus di Perhatikan dalam Wudhun dan Sholatnya Seorang Musthadhoh. Kajian Fiqih wanita Kitab Risalatul Hahidh

Kajian Fiqih Wanita
Kitab   : Risalatul Mahidh
Bagian: 12
Oleh   : Maziyyah

بسم الله الرحمن الرحيم

Yang Harus di Perhatikan dalam Wudhunya dan Sholatnya Seorang Musthadhoh

Pada kajian sebelumnya dijelaskan mengenai zaman imkanil haidh yaitu masa/waktu dimana darah keluar di masa tersebut maka dihukumi darah haidh sedangkan darah yang keluar di luar masa tersebut dihukumi istihadhoh/fasad.

Contoh yang dihukumi istihadhoh ketika seorang perempuan mengeluarkan darah melebihi 15 hr maka dirinya terkenai hukum istihadhoh (sekali lagi seorang perempuan terkenai hukum istihadhoh itu ketika darahnya keluar dari batas paling banyaknya haidh yaitu 15 hari bukan tentang status darahnya yang keluar di luar masa 15 hari tersebut, adapun status darahnya itu nanti ada perinciannya masing-masing).

Dan seorang perempuan yang mengalami istihadhoh maka dirinya disebut mustahdhoh. Karena status istihadhoh seperti halnya hadats kecil maka seorang mustahadhoh tetap diwajibkan untuk sholat.

Baca Juga: Mengupas Tuntas Tentang Cadar Antara Budaya Atau Syariat

HAL HAL YANG HARUS DILAKUKAN MUSTAHADHOH KETIKA HENDAK MELAKSANAKAN SHALAT

1. Membasuh dan membersihkan farjinya sebelum wudhu
2. Menyumpal farjinya dengan kapas atau yang lainnya seperti kain yang lembut, (menyumpal farji berbeda dengan memakai pembalut). Dan dalam menyumbat farji dengan kapas tadi diharuskan kapas tersebut tidak boleh keluar ke bagian dimana bagian tersebut wajib di basuh ketika istinja.

Namun wajibnya menyumpal/menyumbat farji tadi ketika memenuhi 3 syarat berikut yaitu:

– Tidak adanya rasa sakit ketika farji tersebut disumpal, yang mana rasa sakit tersebut tidak bisa ditahan atau ditanggung oleh si wanita mustahdhoh

– Wanita mustahadhoh tadi tidak sedang berpuasa, bahkan wajib ditinggalkan jika memang keadaan wanita mustahadhoh tadi sedang berpuasa, dikarenakan bisa membatalkan puasa, dengan demikian penggunaan kapas untuk menyumbat farji bagi mustahadhoh ketika akan sholat hanya dilakukan di malam hari saja.

– Adanya menyumpal/menyumbat farji tadi memang dibutuhkan dalam artian demi mencegah keluarnya darah atau setidak-tidaknya meminimalisir keluarnya darah

3. Setelah menyumbat/menyumpal farji, kemudian baru menggunakan pembalut dan celana dalam, namun jika tanpa menggunakan pembalut dan celana dalam sudah mencukupi, dalam artian cukup dengan menyumpal farji menggunakan kapas sudah bisa mencegah keluarnya darah maka tidak apa-apa tidak menggunakannya,

dengan demikian bagi mustahadhoh yang sedang berpuasa dan tidak bisa menyumbat farjinya untuk mencegah keluarnya darah dengan kapas dikarenakan bisa membatalkan puasa maka hanya diwajibkan menggunakan pembalut dan celana dalam.

4. Setelah kemaluan terbalut, lalu wanita musthadhoh tadi harus segera bersuci dg wudhu atau tayamum tidak boleh ditunda-tunda.

Baca Juga: Kajian Fiqih wanita hal-hal yang harus dilakukan musthadhoh ketika hendak melakukan shalat

Baca Juga: Hukum Fiqih Melakukan Sulam Alis

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM WUDHUNYA SEORANG MUSTHADHOH

– wanita mustahadhoh tadi dalam berwudhu niatnya tidak boleh LIROF’IL HADATS/niat menghilangkan hadats. Melainkan dengan niat LISTIBAHATISSHOLAT jelasnya seperti ini:

نويت الوضوء لإستباحة الصلاة فرضا لله تعالى

Atau bisa juga dengan niat yang lebih umum yaitu:

نويت الوضوء لإستباحة مفتقر الى وضوء فرضا لله تعالى

-Satu kali wudhu hanya bisa dilakukan untuk satu kali sholat fardhu, maka wudhunya sholat maghrib misal tidak boleh dilakukan untuk melakukan sholat isya meskipun antara maghrib dan isya saling berdekatan waktunya, dan ketika mengulang wudhu juga berarti mengulang semua ritual yang sudah disebutkan tadi mulai dari membasuh farji sampai memakai pembalut, jadi bukan hanya wudhunya saja yang di ulang

Kecuali darah tidak sampai mengenai pembalut dan celana dalam melainkan hanya mengenai kapas yang untuk menyumpal tadi, maka tidak mengganti pembalut dan celana dalam tak apa

-Namun satu kali wudhunya mustahdhoh bisa digunakan untuk berkali-kali sholat sunnah

-Setelah berwudhu harus segera melaksanakan sholat tidak boleh ditunda-tunda dengan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan sholat, namun semisal ditunda karena hal-hal yang masih berhubungan dengan sholat maka tidak apa-apa seperti memakai mukena, menunggu jama’ah, menjawab adzan, mencari arah kiblat.

Baca Juga: Penjelasan Fiqih Tentang Hukum Wanita Mengumandangkan Adzan

APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA DARAH ISTIHADHOH BERHENTI/MAMPET?

Seorang mustahadhoh yang memiliki kemungkinan atau harapan darahnya akan berhenti di jam2 di waktu2 tertentu, baik kemungkinan tersebut berdasarkan kebiasaan ataupun tidak (dalam artian si mustahadhoh menemui kebiasaan darahnya berhenti di waktu2 tertentu misal antara pukul 02.00 siang sampe tengah tiga biasanya darah mampet nanti keluar lagi, kemudian di pukul 05.30 sore sampe jam 06.00 sore dll) maka disini:

~ Ketika si musthadhoh tadi yakin pada kemungkinan di jam2 tersebut darah akan berhenti/mampet maka dia harus mengakhirkan sholat nya sampai pada jam2 tersebut, tujuannya agar dia sholat dalam keadaan sempurna tanpa najis dan hadats.

Namun yang demikian dengan catatan tidak sampai keluar dari waktu sholat.
Seperti misal kebiasaan mampet darah itu pada pukul 02.55 siang, yang mana hanya tersisa 5 menit menuju waktu ashar, sedangkan waktu 5 menit tadi tidak cukup digunakan untuk membersihkan najis pada farji, sesuci dan sholat dzuhur 4 rokaat, maka jika demikian keadaannya tidak harus menunggu sampai akhir waktu sholat.

~ Ketika si mustahadhoh tidak yakin pada kemungkinan yang sudah disebutkan tadi, maka yang harus dilakukan adalah sholat dengan keadaan yang ada (keluar darah dan berhadats)

KETIKA DARAH ISTIHADHOH MAMPET DI TENGAH WUDHU ATAU SHOLAT

Ketika darah istihadhoh mampet di tengah wudhu atau setelah wudhu atau sebelum sholat atau ditengah sholat, baik mampet tersebut karena kebiasaan ataupun tidak, dan yang mana waktu mampetnya sekiranya cukup untuk membersihkan najis, sesuci dan sholat, maka mustahadhoh tersebut harus kembali wudhu sebagai orang yg sempurna (bukan daimul hadats) dengan serta keadaan farjinya sudah bersih dari najis dan kemudian sholat dengan wudhu tersebut.

Referensi:

بشرى الكريم ج 1 ص ١٦٥
مع البجيرمي على المنهج الجزء الأول ص ١٣٥:
(ﻭاﻟﻤﺴﺘﺤﺎﺿﺔ) ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺴﺘﻨﺞ ﺑﺎﻟﺤﺠﺮ ﺑﺸﺮﻃﻪ (ﺗﻐﺴﻞ) ﻭﺟﻮﺑﺎ (ﻓﺮﺟﻬﺎ) ﻣﻦ اﻟﻨﺠﺎﺳﺔ (ﺛﻢ ﺗﺤﺸﻮﻩ) ﺑﻨﺤﻮ ﻗﻄﻨﻪ ﻭﺟﻮﺑﺎ؛ ﺩﻓﻌﺎ ﻟﻠﻨﺠﺲ ﺃﻭ ﺗﺨﻔﻴﻔﺎ ﻟﻪ (ﺇﻻ ﺇﺫا) ﺗﺄﺫﺕ ﺑﻪ، ﻛﺄﻥ (ﺃﺣﺮﻗﻬﺎ اﻟﺪﻡ) .. ﻓﻼ ﻳﻠﺰﻣﻬﺎ اﻟﺤﺸﻮ (ﺃﻭ ﻛﺎﻧﺖ ﺻﺎﺋﻤﺔ) .. ﻓﻴﻠﺰﻣﻬﺎ ﺗﺮﻛﻪ، ﻭاﻻﻗﺘﺼﺎﺭ ﻋﻠﻰ اﻟﺸﺪ ﻧﻬﺎﺭا؛ ﺭﻋﺎﻳﺔ ﻟﻤﺼﻠﺤﺔ اﻟﺼﻮﻡ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻟﻢ ﺗﺮاﻉ اﻟﺼﻼﺓ ﻫﻨﺎ، ﻛﻤﻦ اﺑﺘﻠﻊ ﺑﻌﺾ ﺧﻴﻂ ﻭﻃﺮﻓﻪ ﻣﻦ ﺧﺎﺭﺝ ﺣﻴﺚ ﻳﺆﻣﺮ ﺑﻨﺰﻋﻪ، ﺃﻭ ﺑﻠﻌﻪ ﻭﻳﻔﻄﺮ؛ ﻷﻥ اﻟﻤﺤﺬﻭﺭ ﻫﻨﺎ -ﻭﻫﻮ اﻟﻨﺠﺲ- ﻻ ﻳﻨﺘﻔﻲ ﺑﺎﻟﻜﻠﻴﺔ (ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻔﻬﺎ) اﻟﺤﺸﻮ ( .. ﺗﻌﺼﺒﻪ) ﺑﻌﺪ اﻟﺤﺸﻮ (ﺑﺨﺮﻗﺔ) ﻣﺸﻘﻮﻗﺔ اﻟﻄﺮﻓﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﻛﻴﻔﻴﺔ اﻟﺘﻠﺠﻢ اﻟﻤﺸﻬﻮﺭ، ﻭﻻ ﻳﻀﺮ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﺧﺮﻭﺝ اﻟﺪﻡ، ﺇﻻ ﺇﻥ ﻗﺼﺮﺕ ﻓﻲ اﻟﺸﺪ. (ﺛﻢ) ﺑﻌﺪ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ (ﺗﺘﻮﺿﺄ ﺃﻭ ﺗﺘﻴﻤﻢ)؛ ﻟﻮﺟﻮﺏ اﻟﻤﻮاﻻﺓ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ
________
(و) ان ( تبادر به) أي بالفرض بعد التطهر تقليلا للحدث بخلاف المتيمم في غير دوام الحدث (ولا يضر تأجيرها) الفرض(لمصلحة كستر العورة وانتظار جماعة) وإجابة مؤذن واجتهاد في قبله لأنها غير مقصرة بذلك والتصريح بالوجوب في غير الوضوء والعصب من زيادتي. قوله(فتحشوه) ويجب في الحشو أن يكون داخلا عن محل الاستنجاء لابارزا عنه لئلاتصيرحاملة لمتصل بنجس اهى برماوي.

تحفة المحتاج ج ١ ص ٣٩٧:
(ﻭﻳﺠﺐ اﻟﻮﺿﻮء ﻟﻜﻞ ﻓﺮﺽ) ﻭﻟﻮ ﻣﻨﺬﻭﺭ ﺃﻭ ﺗﺘﻨﻔﻞ ﻣﺎ ﺷﺎءﺕ ﻛﺎﻟﻤﺘﻴﻤﻢ ﺑﺠﺎﻣﻊ ﺩﻭاﻡ اﻟﺤﺪﺙ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻭﺻﺢ ﻗﻮﻟﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻟﻤﺴﺘﺤﺎﺿﺔ «ﺗﺘﻮﺿﺄ ﻟﻜﻞ ﺻﻼﺓ» (ﻭﻛﺬا) ﻳﺠﺐ ﻟﻜﻞ ﻓﺮﺽ (ﺗﺠﺪﻳﺪ) ﻏﺴﻞ اﻟﻔﺮﺝ ﻭﻝﺣﺸﻮ ﻭ (اﻟﻌﺼﺎﺑﺔ ﻓﻲ اﻷﺻﺢ) ﻛﺘﺠﺪﻳﺪ اﻟﻮﺿﻮء، ﻭﻟﻮ ﻇﻬﺮ اﻟﺪﻡ ﻋﻠﻰ اﻟﻌﺼﺎﺑﺔ ﺃﻭ ﺯاﻟﺖ ﻋﻦ ﻣﺤﻠﻬﺎ ﺯﻭاﻻ ﻟﻪ ﻭﻗﻊ ﻭﺟﺐ اﻟﺘﺠﺪﻳﺪ ﻗﻄﻌﺎ ﻟﻜﺜﺮﺓ اﻟﺨﺒﺚ ﻣﻊ ﺇﻣﻜﺎﻥ ﺑﻞ ﺳﻬﻮﻟﺔ ﺗﻘﻠﻴﻠﻪ.

حاشية الجمل على شرح المنهج ج ١ ص ٢٤٥:
ﻭﻣﻦ اﻋﺘﺎﺩﺕ اﻧﻘﻄﺎﻋﻪ ﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎء اﻟﻮﻗﺖ ﻭﻭﺛﻘﺖ ﺑﺎﻧﻘﻄﺎﻋﻪ ﻓﻴﻪ ﺑﺤﻴﺚ ﺗﺄﻣﻦ اﻟﻔﻮاﺕ ﻟﺰﻣﻬﺎ اﻧﺘﻈﺎﺭﻩ.
ﻻﺳﺘﻐﻨﺎﺋﻬﺎ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻋﻦ اﻟﺼﻼﺓ ﺑﺎﻟﺤﺪﺙ ﻭاﻟﻨﺠﺲ ﻭﺇﻻ، ﺃﻱ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺜﻖ ﺑﺎﻧﻘﻄﺎﻋﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺫﻛﺮ، ﻗﺪﻣﺖ ﺟﻮاﺯا ﺻﻼﺗﻬﺎ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ اﻟﺮﻭﺿﺔ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﺮﺟﻮ اﻧﻘﻄﺎﻋﻪ ﺁﺧﺮ اﻟﻮﻗﺖ ﻓﻬﻞ اﻷﻓﻀﻞ ﺗﻌﺠﻴﻠﻬﺎ ﺃﻭﻝ اﻟﻮﻗﺖ ﺃﻡ ﺗﺆﺧﺮﻫﺎ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮﻩ ﻭﺟﻬﺎﻥ ﻓﻲ اﻟﺘﺘﻤﺔ ﺑﻨﺎء ﻋﻠﻰ اﻟﻘﻮﻟﻴﻦ ﻓﻲ ﻣﺜﻠﻪ ﻓﻲ اﻟﺘﻴﻤﻢ ﻭﺣﺬﻓﻪ اﻟﻤﺼﻨﻒ اﻛﺘﻔﺎء ﺑﻤﺎ ﻗﺪﻣﻪ ﺛﻢ ﻟﻜﻦ ﺻﺎﺣﺐ اﻟﺸﺎﻣﻞ ﺟﺰﻡ ﺑﻮﺟﻮﺏ اﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﻗﺎﻝ اﻟﺰﺭﻛﺸﻲ ﻭﻫﻮ اﻟﻮﺟﻪ ﻛﻤﺎ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺑﺪﻧﻪ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻭﺭﺟﺎ اﻟﻤﺎء ﺁﺧﺮ اﻟﻮﻗﺖ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺠﺐ اﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﻋﻦ ﺃﻭﻝ اﻟﻮﻗﺖ ﻹﺯاﻟﺔ اﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻓﻜﺬا ﻫﻨﺎ اﻩـ

مغنى المحتاج : ١ : ٢٨٣:
(ﻭﻟﻮ اﻧﻘﻄﻊ ﺩﻣﻬﺎ ﺑﻌﺪ اﻟﻮﺿﻮء) ﺃﻭ ﻓﻴﻪ ﻭﻗﺒﻞ اﻟﺼﻼﺓ ﺃﻭ ﻓﻴﻬﺎ (ﻭﻟﻢ ﺗﻌﺘﺪ اﻧﻘﻄﺎﻋﻪ ﻭﻋﻮﺩﻩ) ﻭﻟﻢ ﻳﺨﺒﺮﻫﺎ ﺛﻘﺔ ﻋﺎﺭﻑ ﺑﻌﻮﺩﻩ (ﺃﻭ اﻋﺘﺎﺩﺕ) ﺫﻟﻚ ﺃﻭ ﺃﺧﺒﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﺫﻛﺮ ﺑﻌﻮﺩﻩ (ﻭﻭﺳﻊ) ﺑﻜﺴﺮ اﻟﺴﻴﻦ (ﺯﻣﻦ اﻻﻧﻘﻄﺎﻉ) ﺑﺤﺴﺐ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﺃﻭ ﺑﺄﺧﺒﺎﺭ ﻣﻦ ﺫﻛﺮ (ﻭﺿﻮءا ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻭﺟﺐ اﻟﻮﺿﻮء) ﻭﺇﺯاﻟﺔ ﻣﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﻔﺮﺝ ﻣﻦ اﻟﺪﻡ. ﺃﻣﺎ ﻓﻲ اﻷﻭﻟﻰ ﻓﻼﺣﺘﻤﺎﻝ اﻟﺸﻔﺎء، ﻭاﻷﺻﻞ ﻋﺪﻡ ﻋﻮﺩﻩ. ﻭﺃﻣﺎ ﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻓﻺﻣﻜﺎﻥ ﺃﺩاء اﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ اﻟﻜﻤﺎﻝ ﻓﻲ اﻟﻮﻗﺖ.

والله اعلم بالصواب……………..

Bersambung..

Hasil kajian fiqih dan kitab kuning grup DASI bisa anda kunjungi di Benangmerahdasi.com
Info seputar pondok pesantren dan kegiatan grup DASI bisa anda kungungi di Santridasi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.